Jumat, 01 Juni 2012

Bukan Payung Biasa


“…. lagi cari tempat berteduh. Dari kumpulan payung yang janjinya mau melindungi dari hujan, tapi ga ada yang bener. Hujan lebat kaya gini lagi, pake petir pula. Serem bener. Sedang mencari-cari payung yang benar-benar bagus. Aku bosan basah.”

Kita terlalu sering berharap dengan payung yang akan melindungi diri kita dari basah hujan. Kita terlalu takut untuk basah dan sakit. Payung hanyalah payung. Bisa rusak, bisa patah, bisa bengkok. Jangan berharap banyak. Payung itu mengecewakan.

Terobos saja hujannya. Biar Allah saja yang lindungi dirimu. Biar Allah semata yang menjadi penjagamu. Biar Allah satu-satunya yang menyelamatkan dan memberimu kemudahan. Maka saat tubuh ini basah, badan ini menggigil, gigimu gemeletuk, kulitmu mulai keriput, hatimu tiba-tiba menciut, dan ketakutan menghampirimu, maka berteriaklah dengan lantang, “ALLAH TOLONG AKU….!!!”

Maka DIA pasti akan menyahutimu. Membalas panggilanmu dengan lembut. Lalu kau akan menjadi tenang. Maka kau akan senang. Namun terkadang pula panggilanmu tidak dijawab walau panggilan itu berkali-kali kau lakukan. Bukan untuk mengabaikanmu, tapi terkadang kau memanggilNYA dengan cara yang salah. Atau terkadang DIA ingin melihatmu terus memanggilNYA karena DIA sangat senang dipanggil. DIA ingin memberimu hadiah spesial di akhir hujan. Hadiah untuk pakaian kesabaran yang kau kenakan.

“Berdoalah kepadaKU, niscaya akan KUkabulkan”

[QS. Ghafir (40): 60]

Maka Allah akan menghampirimu dan (jika memang atas ijinNYA) akan memberimu payung yang paling kokoh untuk menemanimu tidak hanya di kala hujan datang tapi kapan pun dimana pun. Dia tidak akan rusak dengan terpaan hujan apa pun. Payung itu yang akan melindungimu dari putus asa. Memberimu nasehat di saat kau turun semangat, akan memberimu masukan di saat kau butuhkan. Tidak menyalahkan saat kau salah, tidak menjauhi saat kau keliru. Tapi payung ini yang akan menunjukimu (atas ijinNYA) jalan yang benar.

Ini bukan payung biasa.

“…. aku tidak dapatkan payung yang kuat. Payung terakhir tidak kuat menahan hujanku. Aku terobos saja hujannya. Aku lelah menunggu. Aku tidak akan pakai payung lagi. Karena tidak ada satu payung pun yang akan sanggup hadapi hujan ini.  Aku yakin itu. Aku sangat yakin akan hal itu. Ini bukan hujan, tapi badai.“

Rabu, 30 Mei 2012

Jangan Lama-lama di Kamar Mandi


Masih ingat dengan lafal doa masuk kamar mandi yang pernah diajarkan di TPA waktu kecil dulu? Tahukah anda, bahwa doa masuk kamar mandi itu memiliki arti jangan lama-lama berada di kamar mandi? Masih ingat? Dibaca saat hendak masuk ke kamar mandi tidak nih? Owh… Lupa tah. Mari kita review kembali. Doanya di bawah ini,
اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Allaahumma Innii A’udzu Bika Minal Khubutsi wal Khabaaitsi

Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan.

Atau:
بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِك مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

Bismillaahi Allaahumma Innii A’udzu Bika Minal Khubutsi wal Khabaaitsi

Artinya: Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan.

Sama sekali tidak bohong. Kenapa para ulama tidak menyarankan kita berlama-lama di kamar mandi adalah karena kamar mandi adalah basecamp-nya syetan. Karena WC dan semisalnya merupakan tempat kotor yang dihuni oleh syetan maka sepantasnya seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar ia tidak ditimpa oleh kejelekan makhluk tersebut. (Asy Syarhul Mumti‘, 1/83). Tempat kotor, tempat membuang kotoran, tempat itulah tempat berkumpulnya setan.

“Penghalang pandangan jin terhadap aurat manusia adalah apabila dia masuk ke kamar kecil ia mengucapkan Bismillah.” (HR. Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ al-Shaghir no. 3611)

Yang mengherankan zaman sekarang adalah kini manusia senang sekali menghias dan mempercantik kamar mandi mereka. Membuat kamar mandi sangat luas, nyaman, bahkan ada yang dilengkapi televisi dan hiburan-hiburan lain, dan akhirnya berlama-lamalah di kamar mandi. Hal yang sia-sia.

Lalu kapan doa ini kita dzikirkan dan bagaimana caranya? Dibaca sebelum masuk kamar mandi atau setelah di dalamkah? Dibaca dalam hati atau dilafalkan hingga terdengar?

Rasulullah membacanya sebelum masuk kamar mandi,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ

“Adalah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila masuk ke kamar kecil berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan.” (Muttafaq ‘alaih)

Doa ketika akan masuk ke kamar kecil dibaca dengan keras (sampai terdengar suaranya oleh orang lain). Hal ini didasarkan pada dzahir hadits Anas bin Malik di atas. (Fiqih Sunnah, bab Qadlaul Haajah: 1/33). Imam al Shan’ani berkata: dan dzahir hadits Anas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan dzikir ini, maka bagusnya membacanya dengan keras.” (Subulus Salam: 1/222)

Dan hendaknya tidak menyebut nama Allah setelah masuk di dalamnya, tapi harus diam dari menyebut nama Allah ketika sudah masuk.

Sementara apabila di tempat yang terbuka yang tidak dikhususkan untuk buang hajat, seperti padang pasir dan hutan, maka doa ini dibaca tatkala hendak ditunaikannya hajat seperti ketika seseorang menyingkap pakaiannya. (Syarh Shahih Muslim: 2/92. Subul al Salam: 1/222 dari Maktabah Syamilah).

Nah, hal ini yang menjadi dasar para ulama mengatakan bahwa jika seseorang lupa membaca doa ini maka ia membacanya dalam hati. (Fathul Bari, 1/307).

Tapi bukan berarti tidak lama-lama di kamar mandi sehingga mandi jadi tidak bersih. Namun, sebaiknya di dalam kamar mandi tidak perlu lah plus konser solo sambil joget-joget. Mengatakan kamar mandi sebagai kamar-berekspresi-semau-guwe yang akhirnya malah bertapa disana, mencari inspirasi, dan menunggu wangsit turun… #halah

Wallahu a’lam.

Mari menghidupkan syariat. syariat itu mudah namun bukan untuk dimudah-mudahkan… :)

Aku Mati Rasa



“Aku mati rasa…”


My eyes automatically point to him… His minds were whispering into my ears – no! – He was whispering to my ears! I was screaming surprised, but I can’t do anything. He came and tied me up with kind of invisible rope – no idea! I can’t move to anywhere, he insisted me to hear what he said. I didn’t understand what kind of language he was saying, but I stand quietly, closed my eyes, and he started babbling;


“Lupa sudah aku menjadi hamba, lupa sudah kalau aku pernah bilang aku cinta, lupa sudah jika dulu aku berlutut memohon kesempatan kedua. Namun kesempatan kedua selalu saja tidak cukup. Tapi Dia selalu bilang selalu ada kesempatan untukku. Lalu kesempatan ketiga itu pun datang, lalu sia-sia. Dia berikan yang keempat, lalu ku buang lagi dengan sengaja. Lalu Dia bungkus rapi dan cantik kesempatan kelima, namun lagi kucampakkan dengan kesadaran penuh. Kesempatan keenam datang, lalu yang ketujuh aku minta. Namun sampai ribuan pun itu selalu belum cukup untukku. Sampai kepekaan itu akhirnya lama-lama terkikis waktu, sampai sensitif itu menebal dilapisi oleh lapis kasar dan keras, sampai lembutnya tak terasa lagi – tak terciri lagi… Aku mati rasa.”


“Tahukah ciri-ciri orang lelah adalah mereka senang dengan menunggu? Maka aku sekarang senang menunggu. Aku menunggu mati! Andai saja dia Saw. tidak pernah meriwayatkan bahwa meminta mati itu dilarangNYA, maka setiap hari aku kan meminta agar Izrail segera mengetuk pintu rumahku. Maka setiap tengadahku kepadaNYA hanyalah untuk menyampaikan undangan istimewa kepada sang pencabut semua kesenangan itu agar segera tiba menjalankan tugas. Jangan kira aku si hebat yang sudah cukup bekal menghadap kepadaNYA, jangan pernah pikir bahwa aku seorang yang siap untuk mati, aku orang yang paling tidak siap! Aku pecundang yang menyerah dengan gempuran sang penggoda. Aku yang jatuh dan jatuh kepada lubang yang sama berkali-kali. Aku yang berlumur lumpur lalu mandi namun untuk berlumur kembali. Aku hanya seorang yang lelah, tidak ingin terjerumus lagi dan ingin siklus kebodohan yang sama ini berulang berkali-kali. Aku malu dengan denganNYA. Aku bilang aku mau berubah, namun aku tak pernah tahu apa yang berubah denganku. Sampai aku pun terperangkap dan tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan untuk melawan mereka sang penggoda terkutuk itu! Aku mati rasa.”


“Aku bukan teman mereka! Sungguh! Sungguh aku sama sekali bukan teman mereka, walau permintaannya selalu aku penuhi, walau godaannya selalu aku turuti, walau ajakanny selalu aku ikuti. Aku SANGAT BENCI mereka! Dengan sepenuh hati. Namun cerita-ceritanya selalu saja indah, tawaran-tawaranny selalu saja membuatku mengangguk dan tersenyum, kata-katanya cantik membuatku penasaran, kalimat-kalimatnya tak pernah gagal menghipnotisku, dan mereka adalah pendeskripsi yang sangat handal. Semuanya bisa sangat nyata di depan mata saat dia berbicara. Semuanya bagaikan dapat tersentuh langsung dengan tanganku saat dia berkata. Mengajakku dengan iming-iming ini permintaan terakhirnya dan tak akan mengajakku lagi selamanya. Lalu aku terbius dan kemudian aku menyesal. Semua seperti terjadi begitu saja, tiba-tiba aku mendapati diriku kembali berdiri di kubangan yang sama, berlumur dengan lumpur yang sama. Berkali-kali dia menggodaku berkali-kali pula dia menipuku mentah-mentah. Dan aku mau. Tidak pernah ada kata ‘terakhir’ untuknya untuk mengajakku. Bodohnya aku, bodohnya aku. Aku benar-benar sudah mati rasa.”


“Dia mungkin sudah bosan. Aku saja sudah muak dengan diriku yang lagi-lagi harus sadar bahwa aku tidak menggenggam janjiku. Dan untuk kesekian kalinya aku memohon ‘kesempatan’ itu datang lagi. Aku heran kenapa Dia tidak pernah bosan – ah, atau mungkin Dia padahal sudah bosan – kepada diriku yang selalu datang dalam keadaan kotor. Lumpur itu menetes disana sini, namun Dia selalu saja tersenyum melihatku walau tapak kakiku yang selalu saja meninggalkan jejak hina. Apakah Dia pernah marah? Kenapa dia dengan sangat mudah segera menyiramkan air membasuh badanku sampai bersih saat aku datang berlutut di depanNYA walau tanpa mengatakan apapun? Entah Dia sudah bisa membaca pikiranku atau mungkin Dia sudah tahu kebiasaanku. Kebiasaan? Dan kebiasaanku membuat kotoran… Apakah aku dilahirkan hanya untuk menjadi bagian  kehidupan yang disebut sampah? Dan hanya Dia yang mau menerima sampah ini, membersihkannya tanpa enggan dan jijik. Dan di saat itulah perasaan lelah itu muncul. Kenapa Dia sangat baik padaku? Sedang aku tidak penah bisa baik kepadaNYA. Aku lelah kotor lalu melihatNYA tersenyum membersihkanku. Aku lelah… Biarkan aku mati saja jika aku hanya jadi sampah setelah Dia membuatku kembali cemerlang. Air mata ini selalu bohong! Aku ternyata tidak pernah benar-benar berjanji kepadaNYA. Aku lelah melihatNYA tersenyum dengan kotorku… Aku ingin melihatNYA tersenyum dengan cemerlangku…”


“Aku ingin melihatNYA tersenyum karena bersihku…”


“Sungguh… Aku mati rasa…”


And then he was starting crying. He cannot said any words anymore after that phrase; ‘aku mati rasa’, which I had no idea about the meaning of those words. He was sobbing really hard. Drowning with his own sad tears. I knew that was a sad crying. And then suddenly I was feeling free, he released me… I thought he just needs someone to be shared. But he walked far from me. My hands tried to reach his back, but he was more far and far from me… then vanished from my eyes with his creepy crying voice.


And then my eyes opened… Oh, it’s just a dream.

Kullu nafsin dzaa iqatul mauut III; Keselek Cimol

Terik siang itu pecah dengan histeris seorang ibu. Tanpa diminta setiap kepala bebalik ke arah sumber suara. Ada beberapa yang berusaha menghampiri untuk melihat siapa yang begitu menarik perhatian itu. Lengkingan itu meratap tak merima, mengiba dan tak berdaya, terisak sangat lama. Apa lagi yang dilakukan oleh seorang yang kehilangan harta yang paling berharganya selain menangis? Apa pula yang diperbuat oleh seorang yang kehilangan namun tak mampu untuk mengembaikan selain berteriak pilu? Teriaknya tanda tak mampunya dia menahan kesedihan yang begitu besar, rasa bersalah yang tak tergambarkan. Wallahu a’lam….

Anak empat tahun-nya meninggal karena tersedak cimol.

Siang itu terik, namun atmosfer Rumah Sakit begitu mendung. Suram.

Bahwa kematian datang kepada siapa saja dengan cara apa saja. Mati itu pasti dan kejadian di atas menunjukkan bahwa kematian datang kepada siapa saja. Yang umur empat tahun saja meninggal kemarin, maka tidak ada yang bisa menjamin bahwa kita masih hidup esok hari.

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (QS. Al-Jumu`ah [62]: 08)

Semoga kita bukan orang-orang yang meminta dikembalikan ke dunia lagi saat ruh sudah dicabut dari raga. Semoga kita bukan golongan yang menyesal. Bukan seperti golongan-golongan yang digambarkan oleh Al Quran sebagai berikut,

[1] Mereka yang tidak menjalankan perintah Allah,

“Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang adzab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang dzalim: “Ya Rabb kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.(Kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?” (QS. Ibrahim : 44)

[2] Mereka yang tidak mau bersedekah,

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan termasuk orang-orang yang shaleh?Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun : 10-11)

[3] Mereka yang meremehkan perintah Allah,

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “ Wahai Rabb-ku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal shaleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja.” (QS. Al Mu’minun : 99-100)

Being smart, please…

Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘SIAPAKAH ORANG MUKMIN YANG PALING CERDAS?’. Beliau menjawab, ‘Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas.’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy. Syaikh Al Albaniy dalam Shahih Ibnu Majah 2/419 berkata : hadits hasan)

Dua kali aku diingatkan di bulan Ramadlan tahun ini. Dua kali kepada dua orang dengan umur yang berbeda. Yang pertama nenekku yang berumur sangat renta dan sekarang seorang bocah balita. Mati itu kepastian, namun persiapannya yang selalu saja belum cukup.

Wallahu a’lam…

Kapan pun saat itu datang, maka siapkan hamba untuk menyambutnya, Ya Rabb…

Selasa, 29 Mei 2012

Yang Menulis VS Isi Tulisan

Ternyata hidup kita dipengaruhi oleh orang-orang yang berpengaruh. Kata-kata sederhana jika ditulis oleh mereka yang sudah punya prestasi dan terlihat perestasinya bisa jadi lebih berpengaruh daripada jika ditulis oleh orang biasa yang belum terlihat prestasinya, belum berkharisma, dan bukan mereka yang kita kagumi.


Entahlah…, tapi fenomena ini terkadang membuatku iritasi. Melihat tokohnya terlebih dahulu daripada melihat isi materinya. Melihat siapa yang berbicara baru antusias mendengarnya, cari nama pengarangnya dulu baru ingin baca bukunya. Salah? Never know… Bukan kapasitasku salah menyalahkan atau benar membenarkan.


Jangan melihat siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan” (Ali bin Abi Thalib)


Buruk-buruknya dari hal ini adalah taqlid yang terjadi pada sebagian orang Indonesia. Tidak berusaha untuk mencari kebenaran dalam beribadah tapi hanya mendengar dari sesepuh-sesepuh, ustadz-ustadz yang kemungkinan bisa saja salah, “Lha bukannya kata pak kyai setiap ada yang meninggal harus yasinan?” Saat ada orang memberikan pendapat berbeda, maka yang berbeda dibilang aliran macam-macam, padahal orang itu menjelaskan dengan dalil dan dasar ilmu yang benar.


Wallahu a’lam….


Apakah kita harus jadi tokoh terkenal dulu baru didengar? Bukan itu kesimpulan tulisan ini. Kesimpulannya adalah mari kita mulai menanggalkan gengsi pribadi, menurunkan jubah kesombongan, dan buang jauh-jauh arogansi dalam diri, karena hal itu terjadi karena ada sombong secuil dalam hati. Satu lagi, mari mulai membenahi diri dengan selalu merasa kurang dan tidak tahu apa-apa; sehingga semua pendapat diterima lalu kita filter dengan ilmu yang kita punya atau bertanya kepada yang sudah punya kompetensi di bidangnya. Menggunakan bahasa, “Bisa jadi saja benar…” lalu mencari tahu tentangnya. Bukan menggunakan bahasa, “Sepertinya benar, tapi…”, lalu mencari-cari kesalahan supaya ada alasan tidak menerima pendapat yang baru.


Kita memiliki pembenaran masing-masing, namun jangan sampai pembenaran itu menutupi jalan masuk kebenaran yang lain. Ilmu kita tidak akan pernah sempurna, maka jangan pernah menutupi ilmu yang sedikit dan tidak sempurna itu untuk melengkap menjadi suatu utuh. Bagaikan puzzle, maka carilah potongan-potongannya yang lain…


Wallahu a’lam… Mungkin saja tulisan ini juga salah, maka silakan dibenarkan.

Tidak Mau Terlalu Sholeh


Mau pergi ke masjid, tapi takut dibilang terlalu sholeh sama teman sekosan. Tiilawah segera berhenti karena kawan tiba-tiba datang tanpa ketuk pintu, cepat-cepat sembunyikan mushaf di bawah bantal seolah-olah tidak melakukan apapun. Tidak jadi ikut majelis ta’lim sebab ada yang bilang tidak gaul, tidak keren, dan takut dibilang ikut-ikut golongan tertentu.

Hal-hal di atas yang membuat kita terbiasa meninggalkan amalan, lalu terbiasa tidak melakukan dan akhirnya menjadi kebiasaan. ‘Tidak mau terlalu sholeh’nya semoga hanya dalam hati saja ya tidak pada praktis sehari-harinya. Karena jadi sholeh itu harus. Sholeh dalam arti bertaqwa hanya kepada Allah semata, melakukan yang Dia suka (sesuai Al Quran dan Sunnah) dan menjauhi apa yang Allah azza wa jalla larang. ‘Taqwa’ kata sederhana yang beratnya tak ada dua.

Siapa lagi yang akan mendoakan orang tua kita nanti selain kita jika kita tidak sholeh. Sedang jelas-jelas hadisnya mengatakan aset orang tua kita agar bisa selamat di akhirat kelak adalah doa anak yang SHOLEH. Di-bold, di-italic, lalu diberi font 116 supaya jelas. Jelas-jelas anak-yang-sholeh, bukan anak-yang-tidak-terlalu-sholeh.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Jangan pernah malu-malu untuk menjadi seorang muslim.

“Katakanlah :”Hai ahli kitab, marilah menuju satu kalimat perselisihan antara kami dan kalian, bahwa kita tak akan menyembah selain kepada Allah, dan tidak mempersekutukanNya dengan apapun, dan tidaklah sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Rabb selain Allah “. Jika mereka berpaling maka katakanlah “Saksikan bahwa kami adalah orang-orang muslim ! “(QS. Al-‘Imran(3): 64)

Jangan lagi malu-malu pergi shalat berjamaah tepat waktu. Jangan pula takut-takut tilawah di saat mereka yang jarang tilawah datang kepadamu. Jangan juga menjadi orang-orang yang tidak berpuasa sunnah hanya karena melihat sahabat kita tidak puasa. Jangan pernah ragu untuk menuntut ilmu dari pengajian-pengajian yang ada. Tunjukkan dirimu adalah seorang muslim. Saya sholeh dan saya harus berusaha tetap menjadi sholeh. Apapun caranya. Meminta kepada Allah agar selalu dikuatkan jalannya, selalu diberi kemudahan, dan didekatkan juga dengan orang-orang sholeh.

Semoga Allah selalu melindungi kita semua… Amin.

Aku ingin memandang wajahMU di surga, maka sholehkan aku, ya Rabb…

!#!#...Surat Cintaku...*&^


I’m falling in love with you…

Aku tidak pernah tahu seberapa luas hatimu, Aku tidak tahu setinggi apa sabarmu… Namun aku tahu bahwa seluruh samudera di bumi pun tak bisa mengalahkan luas hatimu, dan aku mendapati sabarmu lebih tinggi daripada puncak everest bahkan tiga kalinya sekalipun. Namun aku sadar bahwa jika tinggi sabarmu dan luas hatimu bisa diukur, maka semuanya ada batasnya. Apakah ada batasnya, Sayangku?

Aku tahu puncak sabarmu setiap saat terkikis. Aku tahu samudera hatimu sering kali surut… Namun puncak itu selalu saja tumbuh menjulang lalu kokoh, terkikis lalu tumbuh lagi dan begitu selalu. Dan Allah tambahkan air di hatimu selalu di saat kau mulai kerontang, saat kau memanjat kepadaNYA. Hey Cantik, sampai mana kekuatanmu, Cinta?

Aku lelaki tak tahu diri yang sering kali membuatmu sedih. Meninggalkanmu di saat aku seharusnya ada disisi, membiarkan saat kau butuh pelukan… Hey Sayang, masihkah kau mau bertahan?

Tapi lihatlah dia si Bidadari cantikku ini… Dia adalah jawaban dari setiap doa-doa ibuku. Dia adalah ijabah dari ratapanku saat meminta sebuah payung untuk menemaniku berjalan di tengah badai.  Dia adalah anugerah dari dua kali 10 malam terakhir dimana aku selalu memanjat agar diberikan seorang perempuan terbaik pilihanMu, ya Rabb… Aku sudah mengenalnya sebelum aku bertemu dengannya seperti yang telah aku ceritakan di Mendaki Pelangi. Dia yang telah membuat tulang-tulang igaku bernyanyi, bahagia menemukan apa yang selama ini mereka cari. Dia yang membuat sendi-sendi rusukku bergetar seakan telah bertemu dengan sang penawar hambar… Aku tidak butuh perhiasan untuk membuatku terhormat karena aku menggenggam jemari sang perhiasan terindah di muka bumi….

Perantau, musafir perjuangan. Tabahkanlah hatimu. Berjuang di rantau orang. Sedih pilu, hanya engkau yang tahu... Begitulah yang dikatakan Raihan dalam Perantau. Sabanta lai salasai sadonyo. Basabalah saketek lai. Ambo ndak punyo apo-apo salain cinto jo doa, walaupun ambo tahu itu ndak ka cukuik sagitu…

Benar-benar…, sepertinya aku sedang jatuh cinta. Jatuh cinta sama kamu. Surat cinta memang sudah tidak jaman. Tapi biarkan pria ketinggalan jaman ini menyatakannya dengan cara yang dia bisa. Jatuh cinta dengan sholehahmu, dengan cantikmu, dengan sabarmu, dengan masakanmu, dengan senyummu, dengan tawamu, dengan cemberutmu itu, dengan semuanya. Aku cinta kau, Memoria Rosi karena Allah….

Ku panjatkan doa kepadaNYA; Ya Allah jadikan aku sebagai penyebab kebahagiaan terbesarnya. Amin.

* GELISAH *


Assalamu ' alaikum Warahmatullah Wabarakhatuh..

Saudara ku Fillah...
Kita semua pasti pernah mengalami rasa gelisah, bahkan Mungkin sering kita merasakan nya .
Yaitu ketika kita menghadapi sebuah masalah atau pun ujian di mana kita belum bisa menemukan solusi dari masalah atau pun ujian yang kita hadapi.

Pasti kegelisahan yang bertahtah mendera di hati dan fikiran kita ,bahkan kegelisahan itu bisa mengakibat kan kita mengeluh, dan putus asa .

Saudara ku fillah ..
Gelisah adalah sifat keragu -raguan dan ketidak kepercayaan dalam suatu proses ujian..
Kegelisahan Muncul karena hampa , gersang dan jauh nya hati kita dengan Sang Pencipta.
Kegelisahan dalam menghadapi Masalah tidak akan Muncul jika hati kita yakin dan tenang ,karna kunci dari penyelesaian sebuah masalah ialah ketenangan dalam berfikir, sabar dalam bertindak, Dan Adukan lah kepada Allah masalah yang kita hadapi..karna Sesunggug nya Allah maha mendengar,

Masalah pasti selesai jika kita bisa menghadapi nya dengan Tenang, karna setiap masalah pasti ada solusi nya..
Seperti hal nya kesusahan pasti ada kemudahan.
Allah berfirman:' karena Sesungguh nya sesudah kesulitan ada kemudahan ( QS: Al- Insyirah 5-6).

Begitulah firman Tuhan yang Maha Esa.

Dan Saudara ku fillah...
Untuk mengatasi Kegelisahan dalam hati ketika kita di mendapat kan Masalah kita perlu menenangkan diri dan tidak ada yang menenangkan hati kita kecuali dengan berDZIKIR. Mengingat Allah Swt dimanapun berada.

Allah Swt berfirman:' Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah.
Ingat lah, hanya Dengan mengingat Allah lah hati menjadi tentram .( Qs : Ar-Ra'du - 28 )

Saudara ku fillah yang sedang mengalami kegelisahan ..banyak lah mengingat Allah maka hati mu Akan Tenang dan Masalah yang sedang Di hadapi pun Pasti Terasa Ringan Dan Mudah teselesai kan..tetap berfikir Positif, Tetap Sabar,dan tetap lah mencurah kan Semua kepada- Nya karna Dia lah Sumber penolong yang baik.





**
Saudara ku Fillah..
Ambilah Note ini jika bermanfa'at dan jika jidak maka tinggal kan lah.


( Insya Allah Semoga bermanfaat untuk Ukhty ku yang (RS)'Note 'Gelisah'
Afwan baru bisa di posting semoga bermanfaat Untuk mu Ukhty ku.. Jika ada kurang mohon di Maaf kan )


** Salam Santun Erat silaturahmi Dan Ukhwah fillah karena- Nya.

Senin, 28 Mei 2012

Ikhtiarku Merangkulmu

Seiring dengan perkembangan dakwah maka permasalahan umat dan kader dakwah juga berkembang. Permasalahan di setiap periode pasti berbeda dengan periode lainnya. Permasalahan tempo bisa lebih berkembang dan menimbulkan permasalahan baru di periode berikutnya. Hal inilah yang harus disiapkan oleh setiap kader dakwah dalam menghadapi dan mengatasi setiap permasalahan yang ada.
Tentunya permasalahan itu tidak hanya menyangkut masalah umat secara keseluruhan tetapi juga permasalahan kader dakwah perlu diperhatikan. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa semakin berkembangnya jumlah kader maka permasalahan internal pun menjadi semakin kompleks.
Beberapa pendapat menyatakan bahwa dakwah ini ibarat sebuah pohon, ranting atau daunnya adalah kader. Maka wajar jika ada daun yang berguguran, kader dakwah pun ada saja yang berguguran. Tetapi akan menjadi permasalahan jika banyak kader dakwah yang berguguran, maka bagaimanakah nasib pohon yang sebagian besar daunnya berguguran (jangan bayangkan pohon jati). Bukankah sebagai kader dakwah harus yakin bahwa kemenangan pasti semakin dekat. Lalu mengapa para kader masih mewajarkan jika ada kader dakwah yang berguguran sedangkan kemaksiatan masih merajalela.
Jika ditelusuri alas an para aktivis dakwah yang sempat mencicipi nikmatnya perjuangan lebih memilih mundur dari barisan dakwah adalah karena satu kata “kecewa”, Masyaa Allah. Alasan mengapa mereka kecewa sangatlah beragam, ada yang kecewa karena tidak siap mental menghadapi amanah, ada yang kecewa karena kader yang lain, ada yang kecewa karena murabbi, ada juga yang kecewa karena keputusan para qiyadah atau karena fitnah-fitnah yang diluncurkan para musuh.
Sudah menjadi sunnatullah ada kader yang berguguran karena Allah akan menggantikan kader yang lebih baik dan lebih banyak. Tetapi apakah Rasulullah membiarkan begitu saja para penerus Risalahnya melangkah mundur ke belakang meninggalkan barisan. Tentunya Rasulullah selalu berusaha merangkul para sahabat, keluarga, dan umatnya agar senantiasa menegakkan kalimatullah.
Begitu juga seharusnya yang dilakukan oleh para kader dakwah. Seringkali kader dakwah yang bisa bertahan membiarkan kader dakwah yang lain terjerumus pada kekecewaan. Bahkan lebih menyalahkan kader yang memilih mundur daripada berusaha merangkul kembali. Kesalahan akan banyak dilimpahkan kepada kader yang gugur karena terkait niatnya sudah terkontaminasi, terbawa oleh lingkungan, lebih berharap kepada manusia daripada kepada Allah sehingga menimbulkan kekecewaan, atau karena kesalahan lainnya. Kita sebagai kader dakwah yang bisa bertahan dalam barisan seharusnya bisa memandang objektif permasalahan saudara kita. Jika memang bergugurannya para kader adalah lebih dikarenakan masalah pribadi seharusnya kita bisa memandang masalah ini dari kacamata mereka yang berguguran. Karena boleh jadi kita sebagai kader yang bisa bertahan telah banyak mengecewakan kader lain sehingga lebih memilih mundur dari barisan.
Beberapa kejadian kader dakwah yang bisa bertahan lebih memilih membiarkan kader mundur karena tidak bisa memposisikan diri sebagai kader yang mundur dan lebih menyalahkan kemundurannya adalah karena kesalahannya sendiri. Padahal jika direnungkan kembali akan banyak sisi lain yang masih bisa dan harus dibenahi atau diperbaiki. Jika ada kata “kecewa” maka pasti ada sebab yang mengawalinya. Dari kata “kecewa” maka pasti ada yang mengecewakan dan dikecewakan. Oleh karena itu, kita akan mencoba memandang masalah ini bukan dari sisi orang yang merasa dikecewakan, tetapi mencoba lebih memandang sisi hal atau orang yang mengecewakan. Karena hal ini bisa menjadi bahan evaluasi bagi kader yang bertahan dengan tidak bermaksud mengecewakan.
Kita ketahui bahwa banyak kader yang berguguran karena berbagai alasan yang pada intinya lebih karena kata “kecewa”. Tetapi sejauh ini kita belum berusaha menggali lebih dalam tentang kemungkinan keterlibatan kita yang membuat mereka kecewa. Karena kemungkinan kita telah mengecewakan mereka yang telah memilih mundur. Hal ini lebih sering terjadi karena kelalaian kita menghalau diri dari sifat ujub atau sombong.
Kemungkinan yang membuat orang lain kecewa adalah masih terselipnya ujub di hati kita. Kecewa karena amanah, mungkin kita kurang peduli dengan beban yang ditanggung saudara kita, bahkan lebih sering merasa bahwa amanah yang ditanggung sendiri lebih berat sehingga kita membiarkan saudara kita gugur dalam barisan karena tidak sanggup memikul amanahnya. Bukankah ini berarti sifat ujub terselip disela menjalankan amanah seolah kita adalah orang yang paling banyak amanah, padahal hanya sebatas eksistensi bahkan mengabaikan peran saudara. Padahal amanah tidak hanya lingkup formal tetapi juga terkait peran.
Kecewa karena murabbi, ketika mengisi pekanan, mungkin masih sering merasa bahwa ilmu atau pengalaman yang dimiliki jauh lebih banyak dari binaan sehingga mengabaikan kemampuan dan pengalaman mereka sehingga tanpa kita sadari kita telah banyak mengecewakan binaan kita. Kita bisa belajar dari para murabbi kita dalam hal membina, belajar tentang tawadhu, kesungguhan, keikhlasan dan kesabaran mereka yang berhasil mendidik kita.
Kecewa karena kader, ketika bertemu dengan saudara kita, mungkin masih terselip sifat ujub dengan merasa paling shalih/ah, paling banyak melakukan amal shalih, paling banyak hafalan, sudah lebih senior, paling rajin menghadiri kajian sedangkan mengabaikan kebaikan dari saudara kita yang lain. Sifat ujub itu bukannya membawa saudara kita (apalagi yang belum paham) kepada saling berlomba-lomba dalam kebaikan tetapi malah justru membuat minder saudara kita yang pada akhirnya lebih memilih menjauh karena merasa tidak bisa dan tidak mampu. Pada intinya mengeksklusifkan diri merupakan bagian dari sifat ujub terlepas kader mudah membaur atau tidak.
Kader yang kecewa karena keputusan jama’ah sering kali disebabkan ketidakpahaman mereka tentang struktur dakwah. Tetapi yang menjadi permasalahan bagi kita adalah kurang mampunya kita sebagai kader dakwah dalam menjelaskan secara logika dan keamniahan dengan sistematis. Bahkan diskusi terkait dengan keputusan jama’ah sering dilengkapi dengan su’uzhan dan ghibah. Hal inilah yang biasanya memicu kader untuk mundur dari barisan.
Sedangkan untuk fitnah-fitnah tentu menjadi faktor luar yang akan terus-menerus menyerang. Maka sebagai kader dakwah kita pun harus mempersiapkan diri dengan system imun yang luar biasa. Sistem imun tersebut haruslah bisa menyokong kebutuhan ruhiyah, fikriyah dan jasmaniyah.
Jika ada kader dakwah yang mundur dalam barisan, tak perlu lagi kita katakan “mengapa kau keluar dari lingkaranmu dan mundur dari barisan ini?”. Tapi katakanlah “bagaimana kami bisa mengajakmu kembali pada kenikmatan berdakwah dan memperbaiki cara kami dalam meneruskan perjuangan Rasulullah?”
Seringkali justru kita merasa sungkan untuk merangkul kembali para kader dakwah yang mundur dalam barisan. Padahal mereka sedang menanti dan mengharapkan rangkulan dari kita. Mereka masih merindukan masa-masa saat berjuang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Mari kita ajak kembali mereka dengan mengawalinya melalui cara sederhana yakni dengan menanyakan kabar, mendengar curhatnya, bertukar pikiran, dan mendoakan mereka serta menyertakan wajah-wajah mereka dalam lantunan doa rabithah.

Kawan, Kau Hebat

 
Kawan, kau pernah terjatuh
Aku juga pernah
Kau pernah menangisi khilaf
Aku juga sama

Bukan siapa mendahului siapa
Tapi hidayah datang tiba-tiba
Dengan hati lapang menyambutnya

Kawan, kau hebat
Kau jatuh, tergugu
Dan bangkit tanpa mengaduh

Kawan, kau buka hati lebar-lebar
Kau buka jiwa hingga mekar
Semangat dan tekad
Kau camkan hingga membakar

Kawan, kau hebat
Kau lemah bukan penghambat
Memang Tuhanlah Yang Maha Kuat

Dan kini kau sedang meniti cintaNya
Dengan pijak tegap menyergap
Serta doa yang selalu kau dekap

Kau pernah tersakiti hambaNya
Kelak kau mendapat cintaNya
Dalam batasmu dalam inginmu
Biar duka cita kau reguk dalam-dalam