Jumat, 20 Januari 2012

?? ~* ::Ketika Cinta Harus Bersabar (BAG.6):: *~ ??

Yuk baca lagi.... jangan bosan2 ya sahabat Bidadari Syurga...
 Di tengah pejam malamku, tiba-tiba aku terbangun. Aku merasakan haus yang tak tertahankan. Akhirnya aku bangkit dari tidurku dan melangkah keluar kamar. Betapa terkejutnya aku melihat suamiku tengah tertidur di depan laptopnya. Kulirik jam dinding. Pukul sebelas malam. Aku terenyuh melihatnya. Kuhampiri dia. Wajahnya begitu lelah terlihat. Wedang jahe yang tadi aku buatkan untuknya juga sudah habis diminumnya. Aku juga melihat ketikan di komputernya. Masih banyak yang belum ia selesaikan. Aku bingung. Apa yang harus aku lakukan untuk membantunya?
Sejenak aku berpikir. Tiba-tiba aku mempunyai ide untuk menghubungi Mas Bambang, temannya Mas Yusuf di tempatnya mengajar, untuk mencari tahu tentang soal-soal yang tengah diselesaikannya sekarang. Mas Bambang itu mengajar pelajaran matematika. Tapi, apa tidak terlalu malam untuk menghubunginya? Apa tidak mengganggunya? Ah, ini kan untuk kebaikan juga. Kalau sampai soal-soal ini tidak selesai malam ini juga, maka besok tidak ada soal fisika yang bisa dikerjakan. Aku putuskan untuk menghubungi Mas Bambang melalui ponsel Mas Yusuf yang tergeletak di meja dekat laptopnya. Kucari nama Mas Bambang lalu kupanggil. Busmillah.
Sesaat lamanya yang kudengar hanya nada sambung. Kuulangi lagi. Alhamdulillah diangkat.
"Ada apa Suf? Malam-malam kok mengganggu saja" Ucap Mas Bambang dengan nada kesal. Terdengar sekali suaranya yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"Maaf Mas, saya Dinda, istrinya Mas Yusuf" Tukasku agak pelan. Takut Mas Yusuf terbangun.
"Oh, maaf...maaf. Saya pikir Yusuf. Ada apa ya, menelepon malam-malam?" Tanya Mas Bambang terdengar kaget ketika dia tahu yang meneleponnya adalah istrinya Yusuf, bukan Yusuf.
"Maaf ya Mas, sebelumnya. Saya hanya ingin tahu mengenai UTS besok. Apa mata pelajaran Mas Yusuf itu akan diujikan besok pagi, Mas ya?"
"Oh...iya. Pelajaran fisika itu akan diujikan besok bersama pelajaran Bahasa Indonesia. Ada apa rupanya ya?" Tanya Mas Bambang ingin tahu.
"Tidak Mas, tidak ada apa-apa. Ehm...setiap soal pelajaran itu mendapat jatah berapa nomor ya Mas?"
"Setiap soal pelajaran itu mendapat jatah 50 nomor, kecuali matematika, hanya 40 nomor" Jelas Mas Bambang singkat. Kulirikkan mataku ke layar laptop. Soal yang diselesaikan Mas Yusuf baru 27 nomor. Berarti kurang 23 nomor. Jumlah yang cukup besar bila harus diselesaikan malam ini juga. Mengingat waktu terus berputar dan malam semakin larut menjelang.
"Ya sudah Mas, terima kasih kalau begitu. Maaf ya mengganggu malam-malam" Ucapku masih dengan pelan.
"Ya...ya, tidak apa-apa" Sahut Mas Bambang.
"Makasih sekali lagi Mas, ya. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" Jawabnya menutup pembicaran.
Aku langsung bergerak cepat. Kuputar laptop kearahku. Kubaca dengan seksama konsep soal-soal fisika yang ada dihadapanku. Setelah cukup, aku mulai mengetiknya dengan melanjutkan soal yang ada. Dengan teliti aku membacanya dan mengetiknya. Agak sulit juga rupanya karena banyak istilah-istilah fisika yang masih sangat asing bagiku. Namun karena niatku ingin membantu suamiku, maka aku harus benar-benar berusaha untuk menyelesaikan soal-soal ini.
Waktu terus bergulir hingga jam dinding sudah menunjukkan pukul satu malam lewat lima belas detik. Alhamdulillah semuanya sudah selesai. Setelah kuteliti ulang dan kurasa benar, soal-soal itu kumasukkan kedalam flash disk, lalu kuprint semuanya di komputerku yang ada di di dalam kamar. Alhamdulillah wa syukurillah, lima lembar soal dengan kertas ukuran folio, huruf times new roman dengan ukuran 12 font, telah selesai aku ketik. Lega rasanya hati ini karena akhirnya soal-soal ini sudah selesai. Aku tersenyum bangga.
Kuletakkan lima lembar soal itu di atas meja. Kubereskan semua kertas-kertas yang ada disana dan kumatikan laptopnya. Setelah semua beres, aku berniat melaksanakan shalat tahajud. Sebelum kuberanjak ke kamar mandi, kusempatkan mataku menatap wajah Mas Yusuf. Begitu bersih dan bersahaja. Tapi sayang, tak pernah kutemukan pancaran cinta yang dia berikan untukku. Oh, ingin sekali rasanya aku menyentuh wajahnya, membelai rambutnya, dan...mencium pipinya. Ya, menciumnya. Aku ingin sekali menciumnya. Sampai sekarang belum pernah aku merasakan ciuman hangat darinya. Tapi, ah, kuurungkan saja niatku untuk menciumnya diam-diam. Aku tak ingin menciumnya karena terpaksa. Biarlah. Jika memang seumur hidup aku tidak akan pernah mendapatkan ciuman itu, aku akan berusaha untuk ikhlas. Hanya dengan keikhlasan dan kesabaran, aku akan menjalani hidup ini.
Ku langkahkan kakiku ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

* * *

"Dinda, apa semua ini kamu yang mengerjakan?" Tanya Mas Yusuf ketika dia baru saja terbangun dari tidurnya. Aku melongok keruang tamu dari balik dinding dapur dan balik bertanya padanya seolah-olah tidak mengerti apa yang ditanyakannya.
"Mengerjakan apa?"
"Soal-soal UTS ini?" Jawabnya dengan raut wajah yang tampak bingung sambil membaca dengan seksama kertas-kertas soal yang dimaksud.
"Oh! Iya, itu aku yang mengerjakan. Kenapa, ada yang salah?"
Mas Yusuf terdiam sejenak. Dia mengerutkan keningnya. Kedua alisnya hampir saja bertemu ketika membaca soal-soal itu.
"Ehm....Tidak, tidak ada yang salah fatal. Hanya saja ada beberapa kata yang salah penulisannya" Jawabnya sambil memandang kearahku kemudian menunduk lagi memeriksa soal-soal itu.
"Syukurlah kalau begitu" Sahutku sambil meneruskan aktivitasku memasak nasi goreng dan telur dadar. Aku kembali berkata pada Mas Yusuf.
"Hari semakin siang, Mas. Kau belum shalat Subuh" Ucapku lagi pada Mas Yusuf. Sekedar mengingatkan kalau dia memang belum shalat Subuh.
"Astaghfirullahal'adzim" Ucapnya terdengar di telingaku. Tak lama kemudian dia bergegas masuk ke kamar mandi tanpa membawa handuk. Dia melewatiku dengan terburu-buru.
Nasi goreng yang kubuat sudah matang. Kuangkat dan kusajikan menjadi dua piring. Telur dadarnya pun senantiasa menghiasinya. Kusajikan semuanya di atas meja makan. Dari kamar mandi terdengar Mas Yusuf sedang mandi. Sepertinya dia lupa kalau dia tidak membawa handuk. Mungkin awalnya dia hanya berniat untuk mengambil air wudhu. Tapi karena sudah terlanjur di kamar mandi, ya sekalian saja dia mandi. Tanpa ingat kalau dia lupa membawa handuk.
Setelah meletakkan dua piring nasi goreng di meja makan, aku bergegas mengambil handuk dan menyerahkannya pada MasYusuf.
"Mas, ini handuknya!" Ucapku dari luar kamar mandi sambil mengetuk pintunya.
Tak lama dia membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengulurkan tangannya seraya mengambil handuk yang aku berikan padanya.
"Terima kasih" Ucapnya pelan sambil menutup pintu kamar mandi.
Aku kembali lagi ke meja makan dan menatanya dengan rapi. Setelah kurasa beres semua, aku beranjak ke kamar untuk menyiapkan pakaian Mas Yusuf yang akan dia kenakan untuk berangkat mengajar. Kemudian aku merapikan diriku untuk segera bersiap-siap pergi ke kantor.
Setelah keluar dari kamar mandi, Mas Yusuf langsung masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Aku sudah menunggunya di meja makan untuk sarapan. Tak lama kemudian dia keluar kamar dengan mengenakan pakaian yang tadi sudah aku siapkan.
"Sudah shalat Mas?" Tanyaku ketika dia baru saja keluar dari kamar.
Dia hanya mengangguk kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di sebelahku. Di hadapannya sudah ada sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan ketimun serta tomatnya yang kuiris tipis-tipis. Di sebelah nasi gorengnya sudah aku siapkan segelas teh manis hangat untuk menghangatkan perutnya.
Dia melahapnya dengan terlebih dahulu membaca Bismillah. Akupun menemaninya makan. Tak ada perbincangan yang berarti ketika kami sedang makan. Entahlah. Mungkin sampai detik ini, perasaannya terhadapku belum berubah. Masih dingin dan acuh. Padahal sebenarnya, aku ingin sekali mendengarkan dia berucap sepatah kata saja padaku. Kata apa saja itu. Yang penting aku mendengar dia memanggil namaku seperti semalam. Rasanya indah sekali.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul enam lewat dua puluh lima menit. Mas Yusuf menyudahi makannya dengan menenggak teh manis hangat buatanku. Setelah itu dia beranjak mengambil sepatunya dan memakainya di ruang tamu. Semua kertas soal yang aku ketik semalam sudah dia masukkan ke dalam tasnya. Setelah semuanya dirasa cukup dan dirasa tidak ada yang tertinggal, dia bangkit sambil membawa tasnya.
Aku mengiringi langkahnya dari belakang. Setelah di depan pintu dia berbalik kearahku. Aku mencium tangannya dengan penuh ketulusan. Dia menatap wajahku dengan biasa-biasa saja. Aku menatapnya.
"Hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut" Pesanku sebelum dia berangkat.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk pelan tanpa menyahut sedikitpun. Dia melangkah kearah motornya sambil mengucapkan salam. Aku pun menjawabnya. Namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya dan berbalik menghampiriku.
"Ada apa lagi? Ada yang tertinggal?" Tanyaku dengan penuh kebingungan.
Dia menggeleng kemudian bersuara,
"Tidak ada yang tertinggal namun ada yang terlupa..." Jawabnya membuat aku tambah bingung.
"Apa yang terlupa? Biar aku ambilkan" Ucapku.
"Tidak usah kau ambilkan. Aku hanya lupa mengucapkan terima kasih padamu atas bantuanmu menyelesaikan soal-soal UTS ini. Sungguh, kalau tak ada dirimu, mungkin pagi ini aku akan kuwalahan menyelesaikan soal-soal ini sendirian sambil di kejar-kejar waktu. Terima kasih ya karena sudah meluangkan waktu malammu untuk menyelesaikan pekerjaanku. Suatu saat, pasti akan kubalas" Ucapnya panjang lebar membuat aku terhenyak.
"Tidak perlu seperti itu. Memang sudah menjadi tanggung jawabku sebagai seorang istri untuk membantu suaminya" Sahutku menimpalinya.
Dia mengangguk pelan dan kembali berkata,
"Ya. Kalau begitu aku berangkat. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Dia pun menaiki motornya dan sejurus kemudian dia menyusuri jalanan dan menghilang dari pandanganku. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang merasuki jiwaku. Sesuatu yang menetes di kedalaman hatiku yang kemudian membuatnya menjadi segar kembali. Entah apa itu. Aku yakin, itulah cinta. Cintaku yang kian hari kian mendalam pada sosok suamiku. Cinta yang bisa menguatkanku dalam keberadaanku bersamanya.
Aku pun masuk kedalam dan bersiap-siap untuk berangkat kerja.

* * *

Ponselku berdering ketika aku tengah sibuk dengan pekerjaanku di kantor. Awalnya aku kurang menghiraukannya karena memang pekerjaanku benar-benar menumpuk. Tapi ponsel itu terus berdering mengeluarkan ringtone 'Merah Saga'nya Shoutul Harokah, nasyid kegemaranku. Kuangkat. Ternyata dari Mas Yusuf. Pikiranku tiba-tiba teralih sejenak pada Mas Yusuf yang kini tengah menanti jawaban telepon dariku.
"Assalamu'alaikum. Ada apa Mas?" Tanyaku segera tanpa basa-basi.
"Wa'alaikumussalam. Nanti sore ada acara di Bumiwiyata Depok. Kita ketemu disana jam 5 ya? Malamnya kita menginap di rumah Ibu" Jawabnya singkat dengan cepat. Ibu yang dimaksud adalah ibunya. Aku baru menyadari, dia tak sedikitpun menyebut namaku.
"Acara apa memangnya Mas?"
"Acara bedah buku bersama Penerbit Al Kautsar. Bintang tamunya ada Shoutul Harokah dan Izzatul Islam. Sekalian aku mau cari-cari buku disana" Sahutnya datar.
"Oh. Ya sudah kalau begitu, kita ketemu disana jam 5 ya?"
"Ya. Assalamu'alaikum" Ucapnya mengakhiri pembicaraan. Diapun langsung menutup teleponnya tanpa mendengar dulu jawaban salamku.
"Wa'alaikumussalam"
Aku terdiam sejenak sesaat sambil memikirkan apa yang baru saja aku alami tadi. Mas Yusuf meneleponku. Dia mengajakku pergi bersama ke sebuah acara. Inilah untuk yang pertama kalinya selama lima bulan aku menikah dengan Mas Yusuf, dia mengajakku pergi bersama. Suatu hal yang sebenarnya sudah lama sekali aku impi-impikan. Pergi ke sebuah acara bersama seorang suami yang Bisa menggandengku dan menuntunku. Seperti apa yang sering aku lihat. Tapi apakah nanti dia mau menggandeng dan menuntunku seperti apa yang aku impi-impikan selama ini? Entahlah. Aku tidak mau terlalu berharap banyak padanya.
Kuselesaikan kembali pekerjaanku. Tak lama kemudian ponselku berdering lagi. Kali ini satu pesan diterima. Kubuka. Ternyata dari Mas Yusuf lagi. Bibirku tersenyum kecil sambil membaca isi pesannya.
Tunggu sj di dpn pintu msk dan jgn kmn2 smp aku dtg.
Aku membalasnya.
Baiklah. Aku janji tak akan kmn2 smp kau dtg.
Aku bahagia sekali. Mudah-mudahan saja ini langkah awal untuk memperbaiki hubungnku dengan Mas Yusuf.
Waktu berlalu begitu cepat. Pekerjaanku sudah selesai. Selepas shalat Ashar aku langsung bergegas pergi menuju Bumiwiyata Depok. Jarak antara kantorku ke Depok lumayan jauh, jadi aku putuskan untuk berangkat selepas shalat Ashar agar Mas Yusuf tak terlalu lama menungguku. Dari arah Rawamangun aku naik mobil angkot jurusan Pasar Minggu. Setelah sampai di Pasar Minggu, aku turun dan menyambung lagi dengan Bus jurusan Depok. Alhamdulillah aku mendapat satu kursi pertama di dekat pintu. Di daerah Poltangan, banyak penumpang yang turun, namun tak sedikit pula orang yang berebut untuk naik.
Disaat yang bersamaan aku melihat ada seorang ibu tua yang naik dengan membawa beberapa kantong plastik yang aku perkirakan isinya sangat banyak karena cara ibu tua itu membawanya sangat berat. Dia memutarkan pandangannya kesemua tempat duduk yang ada. Penuh. Semua kursi terisi. Ada satu yang kosong di dekat supir. Ibu itu hendak menghampirinya sebelum akhirnya seorang pemuda naik ke dalam Bus dan mendudukkan dirinya disana terlebih dahulu.
Ibu itu sudah di dera keletihan yang teramat sangat. Peluh di wajahnya menggambarkan sekali kalau dia benar-benar letih dan memerlukan tempat duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sudah tua. Aku mengalihkan pandanganku ke semua penjuru Bus. Tak ada yang mau peduli pada ibu itu. Ada seorang perempuan muda yang asik menelepon sambil tertawa-tawa, ada juga kulihat seorang lelaki yang usianya aku perkirakan baru 30 tahunan sedang membolak balikan koran yang tengah dibacanya sambil sesekali melirikkan kedua matanya ke arah ibu tadi lalu pura-pura kembali membaca.
Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung bangkit dari dudukku dan kupersilahkan ibu itu untuk duduk di kursi yang tadi aku tempati. Aku menemukan kebahagiaan yang tiada terkira terpancar di wajahnya.
"Terima kasih ya Nak?" Ucapnya pelan sambil menata barang bawaannya di pangkuannya. Aku mengangguk pelan dan tersenyum padanya. Bus melaju kencang di jalan raya. Terus berjalan menyisiri belahan kota Jakarta. Sejenak aku berpikir tentang semua orang yang ada didalam bus. Kenapa mereka begitu tega melihat seorang ibu yang sudah tua ini berdiri sambil menahan letih dan peluhnya sambil menunggu ada yang mau bangkit dan memberikan tempat duduknya untuknya, sementara banyak dari mereka yang masih sangat muda dan masih gagah, duduk dengan nyamannya sambil memperhatikan ibu itu dengan tatapan biasa-biasa saja. Tak ada sedikitpun dari mereka yang merasa kasihan melihat ibu itu dan tersentuh hatinya lalu bangkit dan memberikan tempat duduknya untuknya. Apa mereka tak menyadari berapa banyak pahala yang tengah Allah siapkan bagi mereka kalau saja mereka mau sedikit saja berbagi pada orang lain yang membutuhkan.
Tiba-tiba aku teringat akan sebuah hadits Rasulullah yang pernah murabbiku sampaikan, tentang 'amal kebaikan' di halaqah pekan kemarin.
"Dari Abu Hurairah ra. berkata, Nabi saw. Bersabda, Barang siapa yang melepaskan seorang mukmin dari kesusahan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari kesusahan di hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang sedang mengalami kesulitan, maka Allah akan memudahkan kepadanya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hambaNya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk memperoleh ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di suatu rumah Allah (masjid); membaca kitab Allah, dan mempelajarinya bersam-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketentraman, rahmat Allah akan menyelimuti mereka, para malaikat berkerumun di sekelilingnya, dan Allah akan memuji mereka di depan (para malaikat) yang berada di sisiNya. Barangsiapa amalnya lambat (kurang), maka nasabnya tidak akan dapat menyempurnakannya12 "
Aku ingin sekali mencium bau surga itu. Aku ingin sekali melihat indahnya surga yang Allah janjikan itu. Aku ingin sekali. Apakah mereka-mereka yang tengah terduduk itu tidak menginginkan surga itu? Aku yakin mereka pasti menginginkannya. Tapi aku lebih yakin lagi, meskipun mereka mengetahui berapa besar balasan yang akan Allah berikan, mereka akan memilih untuk tetap duduk daripada harus berpanas-panasan sambil berdiri sementara mereka sudah mendapatkan tempat duduk yang enak.
Menurutku, mereka itu sombong. Mereka menganggap pahala mereka sudah banyak jadi tak perlu lagi memberikan tempat duduk pada ibu tua tadi demi mendapatkan sebuah pahala. Dan lebih celakanya lagi, pemikiran seperti itulah yang kini sudah tersetting di pikiran mereka masing-masing. Dan mereka juga beranggapan bahwa ibu tua tadi pasti juga akan mengerti kalau mereka tidak berkenan bangkit, itu karena mereka juga sama-sama lelah. Tapi menurutku, kadar kelelahan mereka berbeda. Mereka bisa menahan rasa lelah mereka, tapi kalau ibu tua tadi? Bisa-bisa dia pingsan kalau terlalu lelah berdiri. Hah, aku hanya bisa berdo'a agar mereka semua bisa lebih mengerti pada jalan dan tujuan hidup mereka masing-masing.
Jalanan tidak terlalu macet untuk di lalui kendaraan. Ya memang kadang-kadang mobil yang aku tumpangi berhenti sejenak tapi itu tidak lama. Meskipun misalnya mobil yang aku tumpangi terjebak macet, aku berusaha untuk tetap sabar. Aku tak ingin menyalahkan siapapun atas kemacetan yang terjadi. Macet ya macet. Hanya kadang banyak orang yang mempunyai persepsi yang berbeda-beda mengenai macet itu sendiri.
Ada yang menyalahi pemerintah karena kurang bijak dalam mengatasi masalah kemacetan, atau malah justru menyalahi pengguna jalan dan kendaraan yang kurang Bisa bertanggung jawab dalam menggunakan jalan. Entahlah. Semua itu hanya pendapat dari masing-masing orang. Yang pasti untukku, macet ya macet. Biar bagaimana pun kita berkeluh kesah tentang kemacetan, semua itu tidak akan menyelesaikan masalah. Malah justru Bisa membuat masalah baru pada diri kita yang menggerutu tanpa tujuan yang jelas kepada siapa keluhan itu ditujukan. Lebih baik bersabar dan bertawakal karena hal itu Bisa membawa kita pada dua keuntungan. Keuntungan yang pertama, kita Bisa memperoleh pahala atas kesabaran kita, dan keuntungan yang kedua, kita akan awet muda jika kita selalu berpikiran positif pada segala hal, termasuk kemacetan.
Yang pasti, sebagai manusia dan rakyat biasa, kita hanya Bisa berdo'a kelak kota Jakarta ini bisa mendapatkan seorang pemimpin yang benar-benar bisa memikirkan kepentingan rakyatnya dan dapat menyelesaikan permasalahan dengan adil dan bijak.
Bumiwiyata sudah di depan mata. Aku turun dari bus dengan perasaan senang. Aku menyeberang jalan dan sampai di depan Bumiwiyata. Disana sudah banyak akhwat yang berjilbab lebar dan ikhwan dengan celananya yang semata kaki dan dagunya yang berjenggot tipis. Aku teringat pesan dari Mas Yusuf agar aku menunggunya di depan pintu masuk sampai dia datang. Aku pun menunggunya.
Banyak yang datang namun tak sedikit pula yang keluar. Aku memandangi mereka dengan biasa saja. Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 17 lewat 15 menit. Aku sudah mulai gelisah. Kuputuskan untuk menelepon Mas Yusuf di menit ke 25. Tak ada jawaban.
"Telepon yang anda tuju, untuk sementara tidak dapat di hubungi. Cobalah beberapa saat lagi, atau tinggalkan pesan setelah nada berikut"
Itulah jawaban yang aku dengar berkali-kali dari operator telepon. Ada apa dengan Mas Yusuf? Aku benar-benar gelisah. Tiba-tiba ada seorang akhwat yang sangat aku kenal sekali wajahnya, bahkan tak pernah bisa aku lupa, menghampiriku sambil tersenyum.
"Assalamu'alaikum" Ucapnya dengan lembut.
"Wa'alaikumussalam" Jawabku sambil melemparkan senyum padanya.
"Afwan kamu Dinda kan, istrinya Yusuf?"
"Iya. Kamu pasti Alifa" Jawabku menimpalinya.
"Iya aku Alifa. Kamu masih ingat aku? Bukankah kita belum pernah berkenalan?"
"Bagaimana mungkin aku lupa. Suamiku kan pernah menyebut namamu ketika kamu datang ke pernikahanku".
"Oh, syukurlah kalau kamu masih ingat. Aku pikir kau tak akan mengenaliku"
"Tenang saja. Aku selalu berusaha untuk mengingat orang-orang yang pernah aku kenal. Oh iya, kamu ikut acara ini?"
"Iya. Kamu sendirian? Yusufnya mana?"
"Mungkin sebentar lagi akan sampai. Tadi kami janjian untuk bertemu disini"
"Oh begitu" Sahut Alifa datar. Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Oh iya hampir lupa" Tukasnya padaku. Dia mengambil sesuatu dari tasnya.
"Ini" Ucapnya sambil memberikan sebuah undangan pernikahan berwarna biru tua padaku. Aku menerimanya.
"Ini undangan pernikahanku. Datang ya?" Sambungnya. Aku menatapnya sesaat lalu kubuka undangan itu. Disitu tertera nama Alifa Oktaviana menikah dengan Guntur Maulana.
"Selamat ya?" Ucapku padanya. Dia mengangguk.
"Kalau begitu aku ke dalam dulu ya? Jangan lupa datang bersama suamimu di hari pernikahanku nanti" Ucapnya sebelum pergi meninggalkanku.
"Insya Allah nanti aku sampaikan" Sahutku. Alifa tersenyum dan pergi dari hadapanku. Kulihat lagi jam tanganku. Sudah pukul 17 lewat 30 menit tapi Mas Yusuf belum juga datang. Kemana dia?
Tak lama berselang aku mendapati seorang ikhwan yang dulu pernah aku lihat di book fair. Dia temannya Mas Yusuf yang pernah berbincang dengannya. Aku melihatnya tepat ketika dia melihat kearahku. Dia mengangguk dan menghampiriku.
"Assalamu'alaikum. Yusufnya kemana ukh13?" Tanyanya padaku.
Aku menggeleng, "Wa'alaikumusslam. Belum datang".
"Oh...Bukannya bareng?"
Aku menggeleng lagi sambil mengarahkan pandanganku kearah jalan. Siapa tahu Mas Yusuf sudah datang.
"Tadi sih ana ketemu dia di sekolah terus dia bilang mau pergi jenguk Mas Bambang yang lagi sakit. Tapi dia nggak bilang mau datang kesini" Jelasnya.
"Memang Mas Bambang sakit apa? Antum tahu kapan dia pergi jenguk Mas Bambang?" Tanyaku.
"Tadi pagi kakinya Mas Bambang tersiram air panas, jadi tadi dia tidak mengajar. Kayaknya abis Ashar tadi deh Yusuf jalan. Soalnya dia bilang, pulang dari rumah Mas Bambang dia mau langsung kerumah ibunya. Mau nginep katanya. Tapi nggak tahu juga sih"
Aku terdiam sejenak.
"Randi!! Ayo!" Teriak salah seorang memanggil ikhwan yang kini ada di hadapanku yang kutahu bernama Randi.
"Afwan. Ana duluan. Asslamu'alaikum" Ucapnya lalu melangkah menghampiri seseorang yang tadi memanggilnya.
"Wa'alaikumussalam" Sahutku.
Pikiranku semakin kacau. Apa Mas Yusuf lupa dengan janjinya? Apa Mas Yusuf lupa kalau aku sekarang tengah menantinya disini? Oh Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Engkau mendatangkan Randi kesini untuk memberikan kabar yang membuatku bimbang?
Sesaat lamanya aku terdiam sampai akhirnya aku menyadari kalau rintik-rintik hujan telah membasahi pakaianku. Segera saja aku ambil payung dari dalam tas dan kubuka untuk melindungi tubuhku dari hujan. Kalau saja Mas Yusuf tidak menyuruhku menunggunya disini, pasti aku sudah masuk kedalam lebih dulu. Dan kalau saja aku tidak berjanji untuk menunggunya sampai ia datang, pasti saat ini aku sudah berada di dalam tanpa harus berdiri disini ditemani hujan yang turun semakin deras.
Langit sudah semakin mendung dan azan Maghrib pun berkumandang. Dengan berucap bismillah aku melangkahkan kakiku kedalam diiringi niat kalau aku hendak menunaikan shalat Maghrib dan bukan bermaksud untuk mengingkari janjiku pada Mas Yusuf.
Setelah shalat Maghrib, aku kembali lagi kedepan. Dengan harapan Mas Yusuf pasti datang. Hujan sudah mulai reda, namun masih ada sisa-sisa gerimisnya yang membasahi jilbabku. Aku sudah mulai letih. Aku berniat menghubungi Mas Yusuf kembali. Tapi kuurungkan. Akhirnya aku putuskan untuk mengiriminya pesan yang isinya,
Mas, bkn mksudku ingin mengingkari janjiku u/ menunggumu disini smp kau dtg. Tp sungguh, aku sdh tk kuat lagi berdiri disini u/ menunggumu. Jd aku hrp, kau mau mengizinkanku u/ plg skrg.
Kukirim segera. Alhamdulillah pengiriman berhasil. Allah selalu ada bagi hamba-hambaNya yang bersabar. Tak lama kemudian satu pesan aku terima. Dari Mas Yusuf. ternyata. Isinya,
Aku segera kesana. Kau jgn kmn2. Kali ini aku janji. Afwan
Tiba-tiba air mataku jatuh membasahi ponsel yang kupegang. Aku berusaha untuk meluruskan pikiranku. Aku berusaha untuk tetap memikirkan hal-hal baik tentang Mas Yusuf, tapi kenapa air mata ini masih saja membasahi wajahku? Sekuat tenaga aku yakinkan diriku kalau Mas Yusuf hanya terlupa. Dan bukan karena dia tidak mencintaiku makanya dia lupa pada janjinya.
Seperempat jam aku menunggunya akhirnya dia datang juga. Entah bagaimana lagi raut wajahku saat ini. Yang pasti aku berusaha untuk tetap tersenyum melihat kedatangannya.
"Maaf ya, maaf banget. Tadi aku lupa kasih tahu kamu kalau Mas Bambang itu sakit. Tadi pagi kakinya tersiram air panas waktu mau menyeduh kopi, jadi tadi dia tidak mengajar. Lalu guru-guru yang lain mengjak aku untuk menjenguknya. Kamu tidak marah kan?" Cerocosnya begitu dia sampai di hadapanku.
Aku memandanginya lekat-lekat tanpa bisa menjawab sedikitpun. Aku bingung harus menjawab apa. Aku memang marah dan kesal padanya, tapi aku juga tidak mau dia tahu kalau aku marah padanya. Aku putuskan untuk menggeleng sambil berucap, "Iya"
"Maksudnya?" Tanyanya tidak mengerti.
"Coba kamu pikirkan kembali apa jawabanku barusan. Kalau kau mengerti, pasti kau tahu apa maksud dari jawabanku" Sahutku dengan nada datar. Aku sudah lelah. Dia terdiam. Acara di Bumiwiyata sudah selesai. Orang-orang sudah berhamburan keluar. Aku teringat Alifa yang memberikan undangan pernikahnnya padaku. Aku segera mengambilnya dari dalam tas dan memberikannya pada Mas Yusuf.
"Nih" Ucapku sambil menyodorkan undangannya.
"Apa ini?" Tanyanya sambil meraih undangannya dariku.
"Undangan pernikahan Alifa" Jawabku. Dia membukanya dan membacanya. Tak lama dia berucap datar.
"Mungkin inilah yang terbaik"
Aku hanya diam. Dia mengembalikan undangannya padaku dan menyuruhku naik ke motornya. Sambil naik aku berkata,
"Sebaiknya kita tidak usah kerumah ibu. Tidak enak rasanya datang kesana dengan pakaianku yang basah. Lebih baik besok saja kita kesananya"
"Baiklah" Sahutnya.
Motor yang kami tumpangi segera berbaur dengan kendaraan lainnya di jalan raya. Sepanjang jalan kami hanya diam sambil mengintrospeksi diri masing-masing. Adakah surga yang tadi aku impi-impikan bisa aku cium baunya? Adakah surga yang telah Allah janjikan itu, bisa juga kami rasakan? Entahlah. Hanya waktu yang dapat menentukan. Hanya kesabaran dan kekuatan yang dapat menunjukkan segalanya dengan jelas. Aku hanya bisa berdo'a dalam diamku.

* * *

Hari pernikahan Alifa tiba. Aku dan Mas Yusuf pergi kesana bersama-sama. Setelah kemarin aku menyerahkan revisi novelku yang ketiga pada pihak penerbit, aku langsung membeli kado pernikahan untuk Alifa.
Mas Yusuf terlihat murung. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Apa mungkin dia masih menyimpan nama Alifa dalam hatinya? Entahlah. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Di depan sebuah rumah berbentuk seerhana, Mas Yusuf menaruh motornya dengan beberapa motor lainnya yang sudah terparkir lebih dulu disana. Setelah menulis nama kami di buku tamu dan memberikan bingkisanku pada dua orang wanita berjilbab ayu yang duduk disana, kami masuk kedalam menemui Alifa dan suaminya.
Senyuman penuh kehangatan terpancar di wajah cantik nan menawan Alifa. Dia benar-benar tidak bisa memungkiri kalau hari ini dia begitu bahagia. Bahagia karena hari ini dia sudah resmi menjadi seorang istri, bahagia karena hari ini adalah hari pernikahannya, dan bahagia karena dia dan suaminya, saling mencintai.
Tapi Alifa tidak sadar dan tidak menyadari, kalau ada seseorang yang hatinya begitu hancur melihat dia bersanding dengan orang lain. Dia adalah suamiku sendiri. Sebagai seseorang yang sudah hidup bersamanya selama lima bulan lebih, aku sudah bisa melihat ada kemurungan lain yang aku tangkap di wajahnya yang sendu. Mungkin dia berpikir, 'seharusnya aku yang ada di pelaminan itu dan bukan lelaki yang bernama Guntur itu'.
Astaghfirullah!! Aku tak mau su'udzan pada suamiku. Kembali kuluruskan niatku. Aku memasuki halaman rumahnya yang sudah di penuhi oleh para tamu. Undangan laki-laki dan undangan wanita di pisah oleh hijab.
Aku bersalaman dengan Alifa dan memeluknya dengan erat seraya mengucapkan kalimat yang sama seperti yang pernah ia ucapkan padaku saat menikah.
"Barakallah ya Alifa? Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah"
"Syukran ya?" Ucapnya.
Aku mengangguk dan tersenyum. Mas Yusuf hanya bersalaman pada Guntur tanpa berucap sepatah katapun padanya. Aku mengerti perasaannya. Sebelum kami beranjak pergi, Alifa meminta kami untuk berfoto bersama. Aku berdiri disamping Alifa dan Mas Yusuf berdiri di samping Guntur. Tinggi badanku hampir sama dengan Alifa dan sepertinya tinggi badan Mas Yusuf pun tak jauh beda dengan Guntur.
Setelah berfoto, aku dan Mas Yusuf meminta diri. Aku mengambil hidangan di tempat akhwat dan Mas Yusuf mengambil hidangan di tempat ikhwan. Setelah menghabiskan makanan kami, Mas Yusuf memberikan isyarat matanya padaku sambil mengangguk pelan. Menandakan bahwa dia ingin segera pulang. Aku pun menurutinya.
Sebelum pulang, sekali lagi kami berpamitan pada Alifa dan Guntur. Dia menyayangkan kami yang terkesan buru-buru sekali. Tapi apa boleh buat, Mas Yusuf sudah mengajakku pulang. Setelah berpamitan, kami pulang dengan perasaan kami masing-masing. Menatap kembali senyum Alifa yang terlihat begitu bahagia.

* * *

Nantikan kelanjutannya sesaat lagi di (BAG. 7 )

?? ~* ::Ketika Cinta Harus Bersabar (BAG.5):: *~ ??


Oke mari kita lanjutkan ceritanya...Bagi yang belum baca BAG (1) sampai (4) Silakan Buka Page sebelumnya ^_^
Karya : Nurlaila Zahara

Tiga hari kami berada di hotel. Tak banyak waktu yang kami gunakan untuk melakukan segala aktivitas yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri yang sedang berbulan madu pada umumnya. Jalan-jalan bersama, melihat pemandangan suasana malam di beranda kamar hotel, atau sekedar sarapan bersama sambil bercerita hal-hal yang indah yang Bisa membangkitkan keromantisan dalam berumah tangga. Semua itu hanya impian belaka bagi kehidupanku yang sekarang. Selepas shalat Subuh, Yusuf pergi keluar dan baru akan kembali setelah waktu dhuha sudah hampir hilang. Sedangkan aku, kuhabiskan waktuku sendirian di dalam kamar sambil membaca buku atau tilawah qur'an sambil sedikit menghafalnya.

Tadi pagi Yusuf tak pergi kemana-mana. Dia bilang tugasnya disekolah sudah menumpuk. Dia tak ingin tidak masuk mengajar lebih lama lagi karena kasihan murid-muridnya. Ya, Yusuf memang seorang guru fisika di Sekolah Menengah Pertama Labschool di kawasan Kebayoran. Dari sekolahnya sebenarnya mengizinkan dia untuk libur sampai lima hari, tapi dengan alasan banyak kerjaan yang tertunda kalau dia libur sampai lima hari, akhirnya dia memutuskan untuk pulang hari ini. Akupun menerima keputusannya dan berusaha menerima alasannya juga.

Semua barang sudah dikemas dengan rapi. Tak banyak barang yang kami bawa sebab kami datang kesini langsung dari pesta walimatul ursy. Hari ini kami sepakat untuk pulang kerumah orang tua Yusuf yang terletak di kawasan Cawang, Jakarta Timur. Setelah dirasa cukup, kamipun pulang meninggalkan hotel. Tak banyak yang kami perbincangkan selama dalam perjalanan pulang, bahkan seolah tak ada topik yang enak untuk dibahas bersama. Suasana didalam taksi benar-benar hening, sunyi, dan senyap. Sesekali supir taksi yang kuketahui bernama Pah Burhan, berseloroh mengenai cerita-cerita lucu. Aku dan Yusuf hanya tersenyum kecil lalu kembali diam. Kadang-kadang Yusuf menimpali dan menyahuti celotehan Pak Burhan itu. Aku jadi tak berselera.

Di sekitar kawasan Jalan MT. Haryono taksi yang kami tumpangi berhenti. Bukan karena mogok atau kehabisan bensin, tapi karena macet tengah menghadang kami. Cukup lama taksi terjebak oleh kemacetan itu. Ditengah hiruk pikuk kota Jakarta, tiba-tiba saja Pak Burhan mengeluarkan pertanyaan yang membuatku dan Yusuf saling bertatap muka.
"Oh iya, kalian ini suami istri kan?" Tanyanya sambil melihat kaca spion yang ada di atas kepalanya. Aku dan Yusuf mengangguk.

"Kenapa memang Pak?" Tanya Yusuf.
"Ah tidak. Saya takut saja kalau kalian ini bukan suami istri tapi kok keluar dari hotel. Ternyata kalian memang benar-benar suami istri. Syukurlah" Ucap Pak Burhan sambil sesekali membasuh peluh yang mengalir di pelipisnya. Suaranya menunjukkan sekali keciri khasannya bahwa dia ini orang Batak. "Kenapa Bapak bertanya seperti itu?" Tanyaku tiba-tiba.
"Tidak. Tidak kenapa-kenapa. Habis saya perhatikan dari tadi, kalian ini kok hanya diam-diaman saja tanpa berbicara sedikitpun. Kenapa rupanya kalau saya boleh tahu?" Tukas Pak Burhan.

Aku dan Yusuf terdiam. Aku mengalihkan pandanganku kearahnya dan diapun begitu. Lalu kami mengembalikan pandangan kami ke luar. Aku tak tahu jawaban apa yang harus aku berikan untuk pertanyaan Pak Burhan yang sebenarnya bisa aku jawab dengan jawaban, "Kami seperti ini karena suami saya tidak mencintai saya Pak". Tapi aku hanya bergumam dalam hati. Pak Burhan kembali bertanya.

"Waduh!! kalian ini kenapa malah diam lagi? Kalau memang saya tidak boleh tahu, ya tidak apa-apa. Tapi kalau saya boleh saran, janganlah suami istri itu saling diam dan acuh tak acuh. Tidak baik itu. Kalian itu dipertemukan oleh Allah dan sepatutnyalah kalian bersyukur akan hal itu. Kalau memang kalin punya masalah, maka selesaikanlah secara baik-baik. Dibicarakan apa permasalahannya lalu carilah jalan keluarnya secara bersama-sama. Dan semua itu butuh komunikasi yang kuat. Tidak diam-diaman seperti ini. Macam mana pula kalian ini. Saya ini hidup berkeluarga itu sudah hampir 36 tahun, tapi keadaan rumah tangga saya dan istri baik-baik saja, karena kami selalu membicarakan apapun yang menurut kami mengganjal dihati. Seperti itulah kalian berdua." Jelas Pak Burhan panjang lebar.
Aku yang mendengarnya benar-benar tersentuh. Memang benar apa yang di katakan Pak Burhan. Segala sesuatunya itu memang harus dibicarakan agar tidak ada kesalah pahaman. Tapi apa yang mau dibicarakan kalau semuanya sudah jelas kalau keadaan seperti ini disebabkan oleh ketidak mampuan suamiku untuk mencintaiku. Aku perhatikan Yusuf hanya terdiam. Mungkin diapun tengah memikirkan perkataan Pak Burhan barusan.
"Kalau saya boleh tahu lagi, sudah berapa lama kalian ini menikah?" Tanya Pak Burhan lagi mengejutkanku. Kuarahkan pandanganku padanya. Kali ini Yusuf menjawab,
"Baru tiga hari Pak"
"Wah! Wah! Wah! Baru tiga hari rupanya. Pengantin barulah kailan. Kuucapkan selamat ya? Berarti, ke hotel kemarin itu untuk bulan madu ya? Wah! Bergembiralah kalian. Berapa ronde sudah kalian mainkan?" Tanya Pak Burhan membuatku bingung.
"Berapa ronde apanya Pak?" Yusuf balik bertanya.
"Ah! Masa kalian tidak mengerti. Itu, ronde kalian bermain cinta. Masa tidak mengerti. Kaulah anak muda. Pura-pura saja kau tidak mengerti. Tapi maklumlah aku, namanya juga pengantin baru. Jadi masih perlu banyak belajar" Tukas Pak Burhan santai. Aku dan Yusuf saling berpandangan sesaat lalu kembali terdiam.
Taksi sudah mulai berjalan. Kamipun terlepas dari jebakan macet. Yusuf lebih memilih diam tanpa mau menjawab pertanyaan Pak Burhan tadi. Aku sendiri memikirkan perkataan Pak Burhan. "Namanya juga pengantin baru, jadi masih perlu banyak belajar"
Ya, aku dan Yusuf memang masih harus banyak belajar. Belajar untuk lebih sabar dalam menghadapi kenyataan hidup, belajar untuk lebih bisa menerima keadaan kami satu sama lain, belajar untuk bisa lebih bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, dan belajar untuk lebih bisa menghargai dalam mencintai. Belajar, belajar, dan belajar. Itulah yang sekarang sedang aku dan Yusuf usahakan dalam mengisi hidup ini.
* * *
Sesampainya dirumah, aku dan Yusuf langsung disambut hangat oleh orang tua Yusuf yang kini telah menjadi mertuaku, dan juga orang tuaku yang kini telah menjadi mertua Yusuf. Mereka begitu bergembira melihat kedatangan kami. Aku peluki Mama dan Papa dengan penuh kerinduan. Entah mengapa, aku benar-benar merindukan mereka. Tak lupa aku memeluk Bu Rahayu yang tak lain adalah ibu mertuaku dan mencium tangan Pak Sardi yang tak lain adalah ayah mertuaku. Hari itu kami habiskan dengan memperbincangkan hal-hal kecil seputar pernikahan dan bulan madu kami selama tiga hari di hotel.

Setelah cukup lama di rumah mertuaku, Mama dan Papa memutuskan untuk pulang. Mulai hari ini, aku telah resmi menjadi bagian dari keluarga Pak Sardi dan Bu Rahayu. Sebelum mereka pulang, aku memeluk mereka dengan erat sambil menangis di pelukannya. Sungguh, aku tak bisa menahan tangis haruku ketika mereka memutuskan untuk melepasku dan menyerahkanku pada Yusuf dan keluarganya. Mereka hanya menenangkanku dengan ucapan-ucapan yang tidak bisa aku terima dalam hati.

"Sudahlah Din. Kamu ini sudah berkeluarga. Ikutlah apa yang suamimu bilang. Jangan sampai mengecewakannya ya? Mama dan Papa akan sering-sering menghubungimu. Kami yakin kamu akan bahagia hidup bersama mereka. Ya?"
Itulah perkataan yang diucapkan Mama sebelum dia pulang bersama Papa. Aku memandangi mereka dari kejauhan. Semakin lama mereka hilang dari pandanganku. Jauh, jauh, dan akhirnya hanya tinggal bayangan mereka saja yang selalu aku ingat dalam pikiranku.

Aku, Yusuf, dan orang tuanya masuk kembali ke dalam rumah. Hari sudah semakin malam. Ayah mertuaku memutuskan untuk segera tidur. Aku dan Bu Rahayu membereskan gelas-gelas dan piring kotor untuk dicuci di dapur. Yusuf masih tenang di depan televisi sambil menonton siaran berita malam. Tak pernah ada senyum yang mengembang di wajahnya.
Aku membantu ibu mertuaku mencuci piring. Kami banyak berbincang tentang pengalaman beliau selama berumah tangga dengan Pak Sardi. Dari perbincangan itu aku banyak menemukan pelajaran-pelajaran baru dalam berumah tangga. Bagaimana caranya membuat suami bahagia, apa yang harus dilakukan seorang istri jika suaminya marah, dan masih banyak lagi yang ibu mertuaku beri tahukan padaku soal kehidupan suami istri. Termasuk hal-hal intim yang menurut sebagian orang tabu untuk dibicarakan.

Aku melihat sosok Bu Rahayu begitu terbuka. Begitu ramah dan baik dalam bersikap. Kelembutannya sebagai seorang ibu tidak mengalahkan sikap ketegasannya dalam bertindak. Apa yang menurutnya benar, ya maka dibenarkannya. Tapi jika menurutnya salah, maka diapun tak segan-segan memberikan peringatan pada siapapun dengan tegas dan baik tapi tidak terkesan menghakimi.

Hal itu aku ketahui ketika dia bercerita tentang Yusuf yang ketika kecil sering membuat onar dengan teman bermainnya. Suatu ketika, orang tua temannya itu pernah mengadu pada Bu Rahayu kalau Yusuf telah memukul anaknya itu sampai berdarah. Sebagai ibu yang adil dan bijaksana, Bu Rahayu memberikan hukuman yang setimpal pada Yusuf. Dia akhirnya jera dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Diam-diam aku salut pada ibu mertuaku. Dia sosok yang sekarang ini menjadi pengganti Mama di kehidupan baruku. Dia pula yang secara tidak langsung dapat menguatkanku dalam menghadapi masalahku dengan Yusuf.
Tak terasa waktu sudah beranjak malam mendekati dini hari. Aku dan ibu mertuaku memutuskan untuk segera tidur. Di ruang tamu tidak lagi aku dapati Yusuf disana. Mungkin sudah masuk kamar. Semua lampu sudah dimatikan. Sebelum masuk kekamarnya, Bu Rahayu memberikan senyumannya padaku. Aku membalasnya. Aku masih berdiri di depan kamar Yusuf yang kini juga menjadi kamarku. Kutarik nafasku dalam-dalam dan kupejamkan mataku. Perlahan kusentuh gagang pintu kamarku dan mulai kubuka. Tiba-tiba saja dari dalam, Yusuf membukanya dan mendapatiku tengah terkejut menatap wajahnya.

"Kenapa berdiri saja disitu? Ayo masuk!" Perintahnya padaku. Aku hanya mengangguk dan mengikutinya masuk ke kamar. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya yang empuk. Lampu yang ada disebelahnya sudah dimatikan. Cahaya yang ada tinggal dari lampu yang ada disebelah tempat aku tidur. Aku belum mau mematikannya. Aku membuka jilbabku dan aku duduk di depan cermin. Kusisiri rambutku perlahan sambil memandangi Yusuf dari balik cermin. Tubuhnya membelakangiku.

Setelah selesai menyisir, aku melangkah ketempat tidur dan bersiap untuk tidur. Posisiku sama seperti posisi dia membelakangiku. Kumatikan lampu yang ada disebelahku dan kupejamkan mataku. Suasana malam ini begitu dingin. Selimut yang menutupi tubuhku dan Yusuf seolah tak bisa memberikan rasa hangat yang lebih pada hatiku yang semakin membeku. Dalam pejam malamku, aku berdo'a,
"Ya Allah, kuatkanlah aku untuk bisa menghadapi semua kenyataan ini. Amin"

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, dan minggu berganti minggu. Tak terasa sudah lima bulan lamanya aku hidup sebagai seorang istri. Menjalani hidup ini dengan seorang suami yang sampai sekarang belum bisa 10 puasa
menerimaku sebagai istrinya. Sampai sekarang pula tak pernah sedikitpun aku lihat sebuah kilatan cinta dimatanya untukku. Tak pernah ada tatapan mesra penuh kehangatan yang dia berikan padaku ketika dia pulang dari kerjanya ataupun ketika aku pulang dari kewajibanku bekerja di sebuah perusahaan majalah Islam. Karena hal ini juga, novel ketigaku yang harusnya sudah rampung beberapa bulan yang lalu, kini harus rela tertunda karena masalah hatiku.
Suasana di rumah dan di kantor sangat berbeda sekali. Di rumah tak bisa aku temukan kemesraan seikitpun dari suamiku, Yusuf. Tetapi dikantor, aku justru menemui Arini dan Fauzi yang kian hari kulihat kian mesra. Tak jarang aku mendengar cerita Arini tentang Fauzi, suaminya, yang menurutnya sangat lembut dan mesra sekali pada dirinya. Aku semakin iri dibuatnya. Andai saja Arini tahu apa yang aku alami selama hidup berumah tangga, aku yakin Arinipun akan menangis dibuatnya. Dia adalah tipe perempuan yang mudah sekali menangis bila melihat atau mendengar kabar atau berita yang menyedihkan. Saat ini dia tengah mengandung dua bulan, hasil buah cintanya dengan Fauzi. Aku hanya bisa tersenyum kecil kala mendengar ceritanya tentang pengalamannya selama dia mengandung. Tak jarang aku dibuatnya kebingungan tatkala dia menanyaiku kapan aku mau menyusulnya. Aku kembali tersenyum dan hanya menjawab,
"Do'akan saja ya Rin? Mudah-mudahan Allah berkenan menitipkan bidadari kecilNya padaku dan suami"
"Amin", Sahut Arini mengamini.
Mengingat hal itu, aku jadi teringat akan bulan maduku bersama Yusuf di hotel Maharani lima bulan yang lalu. Aku ingat betul, sejak kejadian itu sampai sekarang, kami baru melakukannya lima kali. Ya, bisa diperhitungkan dalam sebulan itu hanya sekali kami melakukannya. Maka tak jarang, sebelum subuh aku terbangun untuk makan sahur agar keesokannya aku kuat melakukan shaum10. Hal itu sengaja aku lakukan untuk menahan keinginan biologisku yang tak tersalurkan.
Terkadang pula sebelum aku makan sahur, aku terlebih dulu melaksanakan shalat tahajud dan sedikit bermunajat pada Sang Maha Pencipta. Meminta kekuatan untuk bisa menjalani hidup ini, meminta kesabaran agar aku bisa lebih tabah menerima keadaan suamiku, dan tak lupa, meminta kepada Sang Maha Pemberi nikmat agar berkenan menitipkan bidadari kecilNya padaku. Bidadari kecil yang sudah lama aku nantikan. Bidadari mungil yang sebenarnya sudah aku impikan sebelum aku menikah. Bidadari cantik yang sesungguhnya menjadi harapanku ketika kelak aku hidup bersama seorang suami. Bidadari yang mungkin kini akan lama hadir dalam kehidupanku.
Ditengah munajatku kepadaNya, tak jarang air mataku jatuh membasahi putihnya warna mukena yang kukenakan. Selesai bermunajat, aku tutup tahajudku dengan shalat witir 3 rakaat lalu kemudian aku makan sahur. Seadanya saja. Biasanya setelah sahur, aku mengambil buku harianku dan kutuliskan semua keadaan hatiku disana. Tentang Yusuf suamiku, tentang alasanku melakukan puasa sunnah, dan tentang harapan-harapanku di masa depan.
Terkadang ayah dan ibu mertuaku bertanya padaku kenapa sering sekali melakukan puasa sunnah. Aku hanya menjawab,
"Ingin lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan banyak melakukan ibadah-ibadah sunnah"
Biasanya ayah dan ibu mertuaku hanya mengangguk-angguk pelan.
Aku juga sering mandi sebelum subuh. Hal itu aku lakukan agar mereka tak menaruh curiga padaku. Mereka pasti akan berpikir kalau aku mandi sebelum subuh, itu artinya semalam aku dan Yusuf baru memadu kasih. Aku hanya ingin mereka berpikiran yang baik-baik terhadap aku dan Yusuf. Itulah hal-hal yang sering aku lakukan ketika aku masih tinggal dirumah mereka.
Tapi kini, hal itu tak perlu lagi aku lakukan. Beberapa hari yang lalu aku dan Yusuf memutuskan untuk mengontrak rumah di darerah Lenteng Agung. Tak besar memang, tapi aku rasa inilah yang terbaik yang harus kami lakukan.
Tempat tidur, lemari pakaian, komputer, bufet, televisi, kursi, dan meja, semuanya telah tertata dengan rapi dirumah kontrakan baruku. Mama, Papa, Ayah, dan Ibu mertuaku turut membantuku merapikan rumah. Mereka benar-benar mengira kalau kehidupanku dan Yusuf amatlah bahagia, sampai-sampai kami memilih untuk mengontrak rumah karena ingin belajar hidup mandiri. Aku hanya bisa meminta do'a restu mereka agar aku dan Yusuf memang benar-benar Bisa menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya dirumah ini.

* * *

Malam ini Yusuf tengah bergelut dengan laptopnya. Aku sendiri tak tahu apa yang sedari tadi dikerjakannya. Selepas Maghrib tadi dia sudah mulai duduk di depan laptop sambil mengetik beberapa tulisan yang ada dihadapannya. Beberapa lembar kertas berserakan di meja dan itu membuatnya tampak sangat sibuk. Sepertinya tak ada jeda untuk dia melakukan aktivitas lain. Dia menjeda kegiatannya tatkala azan Isya berkumandang dari masjid dekat rumah baru kami. Masjid Al Mustofa namanya. Kali ini dia memilih untuk shalat Isya dirumah ketimbang di masjid. Alasannya kalau di masjid, selesai shalat tidak Bisa langsung pulang karena bapak-bapak disana sering mengajaknya berbincang-bincang terlebih dahulu. Kalau itu sampai terjadi, maka malam ini dia harus ekstra lembur karena banyak sekali ketikan yang yang harus diselesaikan.
Selesai shalat Isya, dia kembali lagi bergelut dengan laptopnya di ruang tamu. Aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya padanya sambil membawakan segelas wedang jahe untuknya agar tidak masuk angin, karena malam ini ia harus lembur.
"Ngetik apa sih Mas, dari tadi? Sepertinya kelihatan sibuk sekali?" Tanyaku sambil memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Ya, memang semenjak aku menikah dengannya, aku memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Diapun tidak keberatan aku memanggilnya seperti itu.
Mendengar pertanyaanku tadi, dia sepertinya agak kesal. Wajahnya tak tampak seguratpun senyuman. Mungkin karena dia yang sudah sibuk, ditambah lagi dengan pertanyaanku yang sebenarnya tidak Bisa membantunya. Mungkin. Itu hanya sebuah kemungkinan saja dariku. Dia menjawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Ngetik soal buat UTS11 besok" Jawabnya singkat.
"Memang sebanyak itu?" Tanyaku lagi.
Dia hanya mengangguk. Aku terdiam sesaat lalu beranjak pergi dari hadapannya.
"Jangan tidur terlalu malam ya? Khawatir besoknya kurang fit malah tidak Bisa ngajar. Wedang jahenya jangan lupa diminum, biar kamu tidak masuk angin. Aku tidur duluan ya?" Ucapku sebelum beranjak pergi ke kamar.
Lagi-lagi dia hanya mengangguk lirih. Aku jadi merasa kasihan padanya. Ketika aku hendak membuka pintu kamar, dia bersuara.
"Terima kasih ya? Dinda" Ucapnya sambil memandang kearahku. Spontan akupun menoleh padanya dan memberikannya senyuman. Diapun tersenyum kecil dan kembali lagi mengetik. Aku masuk ke dalam kamar dengan perasaan bahagia. Entah mengapa mendengar dia memanggil namaku seolah mendadak berubah menjadi panggilan sayang untukku. Dinda. Ya, nama itu seolah menjelma menjadi panggilan, 'Dindaku sayang'.
Ah, andai saja itu benar-benar terjadi, pasti saat ini aku tengah berbahagia dengan kehidupan baruku. Tapi paling tidak, mendengar dia memanggil namaku saja aku sudah sangat senang. Malam ini, aku Bisa tidur nyenyak.
"Terima kasih ya? Dinda" Suaranya terus menggema di telingaku, sampai aku memejamkan mata.

* * *

Nantikan kelanjutannya sesaat lagi di (BAG. 6 )

?? ~* ::Ketika Cinta Harus Bersabar (BAG. 4):: *~ ??

Yuk baca lagi.... Bagi yang belum baca BAG (1) sampai (3) Silakan Buka Page sebelumnya..
Salam Penuh Senyum dariku Bidadari Syurga..

Karya : Nurlaila Zahara

Hari pernikahan itu tiba. Aku dan Yusuf didandani ala pengantin Jawa karena keluargaku dan keluarganya berasal dari Jawa. Lebih tepatnya lagi, aku dari Jawa Timur dan Yusuf dari Jawa Tengah. Aku mengenakan pakaian khas Jawa tapi tetap terbalut oleh jilbab syar'i. Para undangan banyak sekali yang hadir. Tak terkecuali orang-orang dari pihak penerbit yang selama ini berjasa dalam menerbitkan dua novelku. Diantara para undangan yang hadir, ada yang mengaku kalau mereka adalah penggemar setia novelku. Aku tak tahu dari mana mereka tahu acara pernikahanku ini. Tapi yang pasti aku sangat senang karena mereka sangat peduli padaku. Aku hanya bisa mendo'akan mereka supaya mereka bisa menemukan jodoh mereka dengan cinta.

Aku duduk bersanding dengan Yusuf. Kulihat wajah Yusuf tak seperti orang yang sudah menikah pada umumnya. Wajahnya terlihat murung dan tak bersemangat. Dan yang mengetahui penyebab kemurungannya itu hanya aku pastinya. Sesekali dia melebarkan senyumnya pada orang yang memberikannya selamat. Senyum keterpaksaan tentunya.
Disela-sela waktuku menerima ucapan selamat dari para tamu, aku melihat sosok seorang akhwat berjilbab lebar datang menghampiriku dan Yusuf bersama dengan dua
orang temannya. Aku dan Yusuf berdiri. Setelah mendekat, akhwat itu dan dua orang temannya mengatupkan tangannya pada Yusuf sambil memberikan ucapan selamat padanya. Akhwat berjilbab lebar itu begitu cantik. Dia lalu menjabat tanganku dan memelukku dengan erat seraya berkata,
"Barakallah ya? Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah" Ucapnya pelan. Dua orang akhwat yang mengiringinya melakukan hal yang sama terhadapku. Aku hanya tersenyum pada mereka dan mengucapkan terima kasih. Aku tak tahu siapa mereka. Tiba-tiba Yusuf bersuara,
"Syukran ya Alifa sudah mau datang" Ucap Yusuf pada akhwat berjilbab lebar tadi yang kuketahui bernama Alifa. Alifa hanya mengangguk dan segera meminta diri. Dua akhwat yang mengiringinya pun mengikutinya.
Kini aku tahu siapa Alifa yang pernah disebut-sebut oleh temannya Yusuf waktu di book fair tempo hari. Kini aku tahu siapa Alifa yang disarankan oleh temannya Yusuf itu untuk segera dilamarnya. Dan kini aku tahu, siapa 'nama lain' yang ada di hatinya Yusuf, yang mulai saat ini harus ia ganti dengan namaku. Nama itu adalah Alifa. Gadis itu adalah Alifa. Dan impiannya yang sebenarnya juga adalah Alifa. Bukan diriku.
Aku hampir saja meneteskan air mata kalau saja Mama tidak mengajakku untuk berphoto bersama. Dalam keramaian pesta pernikahanku, aku merasa sepi. Sepi sekali. Mulai hari ini, aku harus menjalani kehidupanku yang baru dengan seorang suami yang tidak pernah mencintaiku. Aku merasa sendiri saat ini. Hanya kesabaran yang dapat menguatkan aku. Sekali lagi, hanya kesabaran yang dapat menguatkan aku.

* * *

Selesai akad dan walimatul ursy, Yusuf membawaku ke Hotel Maharani yang terletak di kawasan Mampang Prapatan. Masih dengan busana pengantin lengkap, aku dan Yusuf memasuki kamar malam pertama kami. Kamar yang begitu indah, megah, mewah, dan harum. Tapi semua itu sia-sia saja kalau malam ini aku dan Yusuf hanya bisa menatapi keindahan kamar itu dengan perasaan hampa.
Aku tak tahu kenapa Yusuf membawaku ke hotel ini. Sebelum masuk ke kamar, Mama, Papa, dan orang tua Yusuf ikut mengantarkan kami. Setelah dirasa cukup, merekapun pulang. Tinggal aku dan Yusuf yang kini ada di dalam kamar. Mau apa juga bingung. Aku memutuskan untuk mengganti pakaianku dengan pakaian biasa yang sudah disiapkan dikamar. Entah siapa yang menyiapkan. Aku mandi, berganti pakaian, dan mengambil air wudhu. Tak lupa aku mengajak Yusuf untuk shalat sunnah dua rakaat. Diapun menuruti.
Tak lama shalat sunnah, azan maghrib berkumandang. Segera saja Yusuf berpamitan padaku untuk melakukan shalat Maghrib dan Isya di masjid terdekat. Aku mengizinkannya. Tapi sebelum itu, aku memintanya untuk membacakan do'a yang pernah Rasulullah ajarkan. Diapun mau. Perlahan dia mencium keningku dan membacakan do'a yang pernah Rasulullah ajarkan, di atas ubun-ubunku. Sejurus kemudian aku dapati mataku basah dengan air mata. Aku ucapkan terima kasih padanya. Setelah itu dia melangkah keluar dan hilang dari pandanganku.
Aku langsung menunaikan kewajiban shalat Maghribku di kamar sambil menunggu Yusuf pulang dari masjid. Aku masih merasakan kehampaan disini.

* * *

Pukul delapan malam lebih lima belas menit Yusuf tiba kembali dikamar. Aku yang selepas shalat Isya lalu tilawah sebentar, segera bergegas untuk tidur. Tak ada pembicaraan yang berarti antara aku dan Yusuf. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengambilkan segelas susu putih untuknya. Dia menerimanya dengan ekspresi biasa-biasa saja lalu mengucapkan terima kasih padaku. Saat ini aku masih mengenakan jilbabku. Aku masih belum bisa tampil apa adanya di hadapannya.
Aku kembali lagi ke tempat tidur dan memiringkan tubuhku disana. Aku membelakangi Yusuf yang tengah menikmati susu putih buatanku tadi. Kami masih terjaga oleh diam. Sesaat lamanya kami melewati waktu dengan kondisi seperti itu. Tiba-tiba Yusuf bersuara dan memulai pembicaraan.
"Maafkan aku ya Din?" Ucapnya pelan.
Aku masih terkejut mendengar dia bersuara. Aku tak menjawabnya dan hanya diam sambil mendengarkan dia kembali bersuara.
"Aku memang seorang lelaki pengecut yang tidak mempunyai nyali untuk menghadapi semua kenyataan ini. Kenyataan bahwa aku harus membohongi kedua orang tuaku, membohongi kedua orang tuamu, menyakiti hatimu, dan terlebih lagi, aku harus menyakiti Allah karena telah melakukan hal ini. Aku sungguh-sungguh lelaki yang tak berguna. Bahkan ketika aku sudah menjadi seorang suami pun, seorang imam bagi dirimu, aku tidak bisa sedikit pun membahagiakanmu. Aku memang pengecut"
Aku dengar suara itu dengan perasaan gamang. Aku tak bisa berucap apa-apa. Perlahan aku rasakan kedua mataku basah. Segera aku membasuhnya.
"Maaf, jika karena diriku, kamu harus merelakan kebahagiaanmu tergadaikan oleh sikapku ini. Mungkin kamu tidak akan menemukan kebahagiaan itu bersamaku. Tapi aku selalu berharap, kelak kaupun bisa menemukan kebahagiaanmu itu" Ucap Yusuf lagi pelan.
"Bagaimana mungkin aku bisa bahagia, bila orang yang aku cintai tidak bahagia" Ucapku menyahuti perkataan Yusuf. Aku tak mendengar dia berucap.
"Aku memang memiliki dirimu, tapi aku tidak memiliki cintamu. Aku memang bukan siapa-siapa dihatimu, tapi aku berharap....kau tidak lagi memikirkan Alifa" Sambungku sekenanya.
"Alifa?!" Tanya Yusuf kaget.
"Dari mana kau tahu tentang Alifa?"
Aku bangkit dari tidurku dan kuhadapkan wajahku padanya. Wajah yang penuh kecemburuan pada seorang wanita yang bernama Alifa.
"Kau tidak perlu tahu darimana aku tahu tentang Alifa, yang terpenting, aku hanya minta satu darimu, tolong lupakan Alifa. Biar bagaimanapun, aku istrimu yang sah. Dan seperti seorang istri pada umumnya, aku tidak terima kalau kau masih saja terus memikirkan perempuan lain. Aku bukannya egois, tapi aku hanya ingin membantumu untuk tidak menyakiti Allah lebih banyak lagi. Aku yakin kaupun mengerti akan hal ini" Jelasku sambil menatap kedua matanya yang jeli.
Kembali aku rebahkan tubuhku di tempat tidur dengan membelakanginya. Kutarik selimut untuk menutupi tubuhku dan kumatikan lampu yang ada diatas meja kecil disamping tempat tidur. Aku berusaha memejamkan mataku sebisanya. Dalam hati kecilku, aku masih berharap Yusuf mau menyentuhku dan menganggapku sebagai seorang istri. Biar bagaimanapun, akupun sama seperti seorang istri pada umumnya, menginginkan kebahagiaan atas dirinya di malam pertama pernikahannya. Melakukan ibadah bersama sebagaimana sepasang suami istri pada umumnya. Memadu kasih dengan kerelaan hati dan jiwa, diiringi dengan munajat sepasang pengantin yang tengah dimabuk cinta dan berharap pahala yang banyak dari Allah swt. Dapat melahirkan generasi pilihan yang dapat menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.
Tapi semua harapanku seolah sirna ketika Yusuf lebih memilih untuk tidur membelakangiku dan mematikan lampu yang ada disebelahnya. Keadaan kamar saat itu gelap seketika. Aku tak bisa merasakan apapun kecuali sakit yang tiba-tiba saja menyusup dalam dada. Aku ingin menjerit, aku ingin berteriak, tapi aku kembali sadar, bahwa ini hanya sebuah ujian yang Allah berikan untukku. Dan aku yakin, akan ada berlimpah-limpah hikmah yang akan aku dapat jika aku bersabar karenanya.
Rabbi, kuatkanlah aku malam ini........

* * *

Waktu seolah lamban sekali berputar. Malam ini, aku benar-benar tidak bisa tidur. Entah dengan Yusuf. Berkali-kali aku merasakan tempat tidur yang kami tiduri bergoyang karena Yusuf sering sekali membalik-balikkan tubuhnya. Sedangkan aku masih dengan posisiku yang semula. Aku merasakan pegal yang teramat sangat di bagian pinggangku karena semalaman aku tidur dengan posisi miring membelakanginya.
Kuraih ponselku yang tergeletak diatas meja kecil dekat lampu. Kunyalakan. Ternyata baru pukul setengah tiga pagi. Sudah bosan rasanya aku dengan keadaan seperti ini. Ingin berbuat sesuatu, tapi apa? Tiba-tiba aku merasakan Yusuf bangkit dari tempat tidur. Entah dia berjalan kemana. Aku enggan menolehkan kepalaku untuk melihat sedang apa dia sekarang.
Sejurus kemudian aku mendengar dia bersuara.
"Din, aku mau ke masjid. Mau shalat tahajud lalu menunggu hingga subuh datang" Ucapnya padaku. Aku dengar dia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Aku bingung harus berbuat apa. Seketika saja aku bangkit dari tidurku dan berlari mengejarnya. Aku berdiri di depan pintu untuk menghadangnya keluar. Segera saja aku kunci pintu. Kuncinya aku cabut dan kupegang dengan erat.
"Kau tidak boleh kemana-mana!" Ucapku tegas. Aku menatapnya dengan tajam. Kulihat pandangannya seolah bertanya-tanya akan sikapku. Sedangkan aku masih berdiri di depan pintu sambil mengatur nafasku.
"Kenapa aku tidak boleh? Aku hanya ingin pergi ke masjid untuk shalat tahajud dan menunggu hingga subuh datang. Aku hanya ingin shalat" Ucap Yusuf seolah mempertegas pernyataannya yang pertama tadi.
"Kau tidak boleh kemana-mana sebelum kau melakukan tugasmu sebagai seorang suami!" Kataku sambil diiringi dengan nafasku yang tersengal-sengal. Aku yakin tatapanku begitu meyakinkan untuknya. Dia tidak bersuara sedikitpun. Tapi raut wajahnya begitu memperlihatkan kebertanya-tanyaannya. Aku kembali berucap.
"Subuh masih dua jam lagi dan kau masih punya waktu untuk menunaikan tugasmu sebagai seorang suami yang bukan seorang pengecut!"
Matanya tidak berkedip sedikitpun dan wajahnya terlihat hampa. Bibirnya bergerak sedikit tapi tidak mengucapkan apapun. Aku terus saja menatap wajahnya. Tiba-tiba mataku basah dan sejurus kemudian aku menangis sejadi-jadinya. Aku menangis karena memikirkan tindakan dan perkataanku barusan padanya. Aku tersadar. Mana mungkin Yusuf mau memenuhi permintaanku sedangkan rasa cinta untukkupun dia tidak punya. Yusuf memandangiku yang sedang menangis. Tak sedikitpun dia berpikir untuk menghampiriku untuk sekedar menghapus air mataku.
Ditengah tangisku aku berucap,
"Mungkin aku egois karena tidak memimikirkn perasaanmu, dan mungkin aku egois karena seakan-akan aku memaksakan cintamu padaku. Tapi aku ingin tanya, apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika pertama kali aku tahu kalau kau tidak mencintaiku? Apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika surat darimu yang aku kira surat cinta, ternyata adalah surat yang isinya begitu menyakitkan untukku? Apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika kau menyebutkan ada 'nama lain' di hatimu dan itu bukan aku? Apakah pernah kau memikirkan perasaanku ketika di malam-malam menjelang hari pernikahanku, bukan kebahagiaan yang aku rasakan melainkan kesedihan demi kesedihan yang terus menyayat hatiku? Apakah tak tergerak sedikit saja hatimu, ketika kau melihat air mataku jatuh di malam pertama pernikahanku? Apakah pernah kau memikirkannya??!" Tanyaku sambil terus menangis.
Aku tertunduk lemas didepan pintu kamar sambil sesenggukkan. Berkali-kali aku hapus air mataku tapi air mata itu keluar begitu saja seiring dengan hatiku yang semakin sakit akan sikap Yusuf yang biasa-biasa saja terhadapku. Sesaat lamanya aku menangis dan Yusuf juga hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berbuat apapun. Aku semakin gemas dibuatnya. Dia memang laki-laki yang pengecut. Untuk hal ini saja dia tidak bisa mengambil keputusan.
Akhirnya aku putuskan untuk membiarkannya pergi. Aku buka pintu dan kupersilahkan dia untuk pergi. Kemana saja yang dia mau tanpa harus memikirkan diriku.
"Pergilah!" Ucapku tanpa memandang wajahnya.
"Pergilah kemanapun kau suka. Pergilah ketempat yang bisa membuatmu tenang. Pergilah agar kau tidak selalu melihat diriku. Pergilah tanpa kau harus memikirkan diriku disini. Aku tidak akan memaksamu. Pergilah!!" Perintahku dengan suara agak serak.
Lagi-lagi kurasakan air mataku jatuh membasahi pipiku. Segera saja kuhapus. Sesaat kemudian aku mendengar dia melangkahkan kakinya mendekat kearahku. Tiba-tiba dia memelukku dengan sangat erat. Aku terkejut dibuatnya. Air mataku semakin deras membasahi pipi. Di dalam pelukannya aku berucap,
"Pergilah! Aku sudah bilang aku tidak akan memaksamu. Pergilah! Jangan biarkan hatimu tersakiti oleh perbuatan yang sebenarnya tidak ingin kau lakukan. Pergilah! Pergilah!" Ucapku sambil terus menangis. Yusuf semakin erat memelukku. Sejujurnya, aku merasakan kehangatan berada dalam pelukannya.
Tiba-tiba Yusuf menutup pintu kamar dan menguncinya. Tanpa berucap sepatah katapun dia mengajakku ke tempat tidur. Kududukkan tubuhku di pinggirannya dan diapun duduk di hadapanku. Tangannya menghapus air mataku. Dia menatapku dan berucap,
"Subuh masih dua jam lagi dan aku masih punya waktu untuk menunaikan tugasku sebagai seorang suami. Dan akan aku buktikan, bahwa aku bukan seorang pengecut".
Aku mengerti apa yang diucapkannya. Aku tak menyahuti perkataannya lagi. Perlahan dia melepas jilbab yang aku kenakan. Dia membuka ikatan rambutku dan perlahan tangannya menyentuh kancing-kancing bajuku.
Dia merebahkan tubuhku. Dan dalam kegelapan malam, aku dan Yusuf melakukan ibadah itu bersama. Melakukannya dengan penuh kekhusyukkan, ketenangan, meskipun aku tahu, tak ada cinta yang dia berikan untukku. Tapi sungguh, malam ini aku benar-benar menjadi seorang istri. Aku selalu berharap, Allah masih bersedia memberikan sedikit pahalaNya atas ibadahku dan Yusuf malam ini.
Ya Allah, berkahi malam ini untukku dan suamiku. Amin.

* * *

Nantikan kelanjutannya sesaat lagi di (BAG. 5 )

Rabu, 18 Januari 2012

?? ~* ::Ketika Cinta Harus Bersabar (BAG.3):: *~ ??

Yuk baca lagi.... Bagi yang belum baca BAG (1) , dan (2) Silakan Buka Page "Strawberry" Ini baca sebelum catatan  Bag (3) Bagian Terakhir ini ^_^

 
KARYA : Fajar Agustanto

Sampai dirumah tepat ketika azan Maghrib berkumandang. Mama menyuruhku untuk segera mandi dan langsung menunaikan shalat Maghrib. Kuturuti apa kata Mama. Papa yang hendak pergi ke masjid tak pernah sedikitpun berkomentar tentang kerepotan Mama menyuruhku ini dan itu.
Selepas mandi dan shalat Maghrib, Mama lagi-lagi menyuruhku dengan suatu hal yang menurutku aneh.
"Din, coba kamu pakai ghamis kamu yang warna biru tua ini. Sepertinya bagus deh!" Pintanya sambil mengambil sebuah ghamis yang dimaksudkan dari dalam lemariku.
"Untuk apa sih Ma? Ini kan hanya acara silaturahim saja kan? Nggak usahlah pakai baju yang berlebihan. Kayak mau pergi saja" Tolakku tanpa mau mengindahkan permintaan Mama. Kuperhatikan ghamis biru tua itu yang menurutku lebih cocok dipakai keacara walimahan.
"Eh, malam ini kamu harus tampil cantik. Pokoknya harus spesial. Awas kalau tidak. Mama akan marah sama kamu. Dipakai ya?" Pinta Mama sekali lagi. Aku hanya Bisa termenung sendirian dikamar sambil memikirkan perkataan Mama barusan. Apa sih yang sebenarnya diinginkan Mama dariku? Sehingga aku harus mengenakan ghamis itu.
Kuturuti saja permintaan Mama. Aku masih tidak mengerti ada apa dibalik semua kedatangan keluarga Bu Rahayu malam ini.
Pukul tujuh malam kurang lima belas menit keluarga Bu Rahayu datang. Aku heran, apa mereka sudah shalat Maghrib? Mama dan Papa menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Aku tidak ikut menyambut mereka karena aku sedang sibuk membuatkan minum dibelakang.
Hatiku tiba-tiba saja berdesir tatkala Mama menyebut nama Yusuf . Ya, dia datang malam ini. Jantungku yang seolah tenang, kini menjadi berdegup dengan kencangnya. Kutarik nafas dalam-dalam lalu kuhembuskan. Dari ruang tamu, Mama memanggil namaku.
"Dinda!! Kesini sebentar. Temui dulu ini keluarga Bu Rahayu!" Teriak Mama.
"Iya sebentar Ma!" Sahutku sembari mengelapkan tanganku pada sebuah kain. Aku bergegas melangkah menemui mereka diruang tamu. Sekali lagi kutarik nafasku dalam-dalam lalu kuhembuskan.
Wajah yang pertama kali kulihat adalah wajah Bu Rahayu, kemudian laki-laki bertubuh besar dengan kumis diwajahnya. Mungkin dia suaminya. Aku tak berani mengalihkan pandanganku pada Yusuf. Kuraih tangan Bu Rahayu lalu kucium. Dan kukatupkan kedua tanganku pada suaminya dan....Yusuf pastinya. Bu Rahayu memuji penampilanku.
"Wah!! Malam ini Dinda cantik sekali. Cocoklah" Ucap Bu Rahayu padaku. Ucapan itu membuat sebuah tanda tanya besar dihatiku. Cocok?!
"Ah, Bu Rahayu bisa saja. Terima kasih atas pujiannya" Sahutku sambil meminta diri. Aku ingat aku sedang membuatkan minum dibelakang. Mereka mengizinkan. Tiba-tiba saja kedua mataku beradu pandang dengan Yusuf. Uh!! Bergetar rasanya hati ini. Kutarik nafasku dan kuhembuskan ketika sudah sampai didalam.
Di belakang, aku lanjutkan membuat minum. Kutata kue-kue di atas piring yang tadi siang Mama beli di pasar. Samar-samar kudengar perbincangan Mama, Papa, dan keluarga Bu Rahayu di depan. Biasalah, membincangkan masa lalu.
Sambil membawa lima cangkir air teh hangat dan 2 toples kue-kue kering, aku melangkah keruang tamu. Wajahku masih menunduk. Tak berani aku mengangkat kepalaku. Bu Rahayu dan suaminya yang kuketahui bernama Pak Sardi mengucapkan terima kasih padaku, kecuali Yusuf. Dia hanya diam. Aku memberikan senyumku pada Bu Rahayu dan suaminya.
Aku berbalik kebelakang sebelum akhirnya aku mendengar Yusuf mengucapkan terima kasih padaku. Aku menoleh sesaat dan mengangguk padanya. Aku kembali kebelakang dengan perasaan yang tak menentu. Yang pasti, perasaan senang itu tiba-tiba saja merasuki jiwaku.
Aku kembali kebelakang dan kuambil dua piring berisi kue-kue yang tadi sudah kutata. Kusuguhkan pada mereka dan kembali kebelakang lagi. Awalnya Mama menyuruhku untuk tetap tinggal diruang tamu tapi aku menolaknya.
Kudengarkan dengan jelas perbincangan mereka dari ruang tengah. Sambil memainkan sebuah sendok, aku mendengar Pak Sardi bersuara.
"Ya, tujuan kami datang kesini ini kan, selain untuk menyambung silaturrahim juga untuk membicarakan suatu hal yang sangat penting, menyangkut anak-anak kita yang sudah besar-besar. Betul tidak Pak, Bu?"
"Ya ya, betul betul" Sahut Papa.
"Saya yakin Bapak sama Ibu pasti sudah tahu apa tujuan kami datang kesini" Lanjut Pak Sardi.
"Saya hendak melamar putri kalian untuk anak kami, Yusuf. Bagaimana Pak, Bu?"
"Prang!!" Sendok yang tadi aku mainkan terjatuh. Ya, sendok itu terjatuh karena aku terkejut mendengar perkataan Pak Sardi barusan. Dadaku sesak. Mulutku serasa kelu dibuatnya. Keringat dingin tiba-tiba saja membasahi sekujur tubuhku. Perlahan aku mendengar jawaban Papa.
"Ya, kami sangat senang atas keinginan Bapak dan Ibu untuk menjadikan anak kami sebagai menantu. Merupakan suatu kebanggaan bagi kami bisa berbesan dengan Bapak dan Ibu. Dengan senang hati kami menerima pinangan itu. Semoga ini menjadi langkah awal untuk kebaikan kita bersama"
"Amin!" Jawab semuanya serentak.
Dalam hati aku bertanya-tanya. Kenapa Papa tidak menanyakan hal itu padaku dulu? Kenapa Papa menerima pinangan itu secara sepihak tanpa mau berkompromi dulu denganku? Tapi, biarpun Papa tidak menanyai hal itu kepadaku dulu juga, sebenarnya aku mau menerimanya.
Oh, senangnya hatiku!! Ternyata Yusuf menyukaiku. Jodoh memang benar-benar rahasia Allah. Aku tidak menyangka bahwa jodohku adalah seseorang yang baru saja kukenal. Tapi, bagaimana dengan sifat-sifat Yusuf? Aku kan belum begitu mengenalnya. Ah! Setelah menikah nanti, kami akan sama-sama belajar sifat kami masing-masing. Oh Rabbi, senangnya hati ini. Tiba-tiba aku mendengar Mama memnggil namaku.
"Dinda! Kesini sebentar Nak!"
Aduh! Bagaimana ini? Aku panas dingin. Kakiku gemetar dan sulit untuk diajak berjalan. Tapi mau tidak mau aku harus memenuhi panggilan Mama.
"Iya Ma, sebentar" Sahutku sambil menata diri agar tidak tampak gugup. Aku menunduk. Kuberanikan diriku menatap wajah Yusuf, yang kini telah menjadi calon suamiku. Dia masih menunduk. Aku beristighfar dan duduk disamping Mama.
"Kamu sudah mendengar kan, Apa yang barusan kami perbincangakan?" Tanya Mama sambil mengusap-usap bahuku. Aku mengangguk pelan.
"Lalu bagaimana dengan kamunya? Menerima tidak?" Tanya Mama yang sebenarnya ingin langsung kujawab "Mau..mau!!" Tapi aku malu. Aku lebih memilih untuk diam sejenak sambil menatap satu per satu wajah yang ada diruang tamu, terutama Yusuf. Lalu aku bersuara.
"Dengan segala kerendahan hati, dengan segala kekurangan dan kelebihan yang aku miliki, maka dengan menyebut nama Allah...." Kutarik nafasku perlahan.
"Aku menerimanya" Lanjutku.
Lega rasanya hati ini. Semua yang ada diruang tamu tertawa bahagia. Kecuali, Yusuf. Aku menatapnya dengan penuh tanya. Ada apa dengannya? Dia hanya menunduk. Sesekali bibirnya tersenyum ketika matanya menatap wajah Mama atau Papa. Tapi sepertinya, senyumnya berbeda. Senyum yang aku tangkap darinya, seperti bukan senyum kebahagiaan. Tidak. Pasti saat ini dia sedang menutupi rasa gugupnya, sama seperti aku. Setiap orang kan pasti berbeda-beda dalam menyembunyikan rasa gugupnya.
Aku tepis perasaan itu. Yusuf juga pasti mempunyai perasaan yang sama terhadapku. Saat ini aku hanya ingin melewati malam yang indah ini bersama keluarga besarku. Papa, Mama, Pak Sardi, dan Bu Rahayu mulai membicarakan semua proses pernikahan. Aku sangat bahagia malam ini.

* * *

Semuanya sudah ditentukan. Prosesi pernikahan jatuh pada tanggal 23 April 2007. Akad dan walimatul ursy-nya akan diadakan bersamaan di Masjid Raya At Taqwa Pasar Minggu. Baju pengantin yang nantinya akan aku dan Yusuf kenakan pun sudah ditentukan. Dan mahar, aku minta agar Yusuf cukup memberikan aku seperangkat alat shalat, satu buah Al-Qur'an, sebuah cincin emas, dan hafalan surat Al Ikhlas.
Setelah semua selesai dan beres dengan rapi, Yusuf dan keluarganya pamit pulang. Aku pun ikut mengantarkan mereka sampai depan pintu. Aku masih belum menemukan
senyum yang berarti dari Yusuf. Sampai pulang pun dia tak sedikitpun menatapku. Aku mulai berpikir yang macam-macam.
Setelah mereka pulang, aku langsung membereskan cangkir-cangkir dan piring-piring yang kotor diatas meja. Tiba-tiba Mama memberikan sebuah amplop putih padaku.
"Apa ini Ma?" Tanyaku heran.
"Surat dari calon suamimu" Jawab Mama membuat hatiku berbunga-bunga. Aku tertawa sendiri menerima surat itu. Mataku mulai berair. Segera saja kupeluk erat tubuh Mama.
"Makasih ya Ma? Akhirnya aku menemukan jodohku" Ucapku sedikit serak.
"Iya. Mama doakan supaya kamu selalu bahagia" Sahut Mama sambil membelai kepalaku yang masih tertutup jilbab. Aku beranjak kekamarku untuk menaruh surat dari Yusuf di atas meja belajar. Tak sabar rasanya ingin cepat-cepat membukanya. Tapi aku harus mencuci dulu semua piring-piring kotor didapur.
Setelah selesai, aku langsung bergegas melangkah kekamar. Amplop putih itu kini seperti harta yang paling berharga untukku. Tak rela rasanya bila harus kehilangan kata-kata dalam surat yang ditulis Yusuf untukku. Sekarang aku yakin, Yusuf bersikap seperti itu tadi karena dia merasa gugup. Buktinya sekarang aku menerima surat darinya. Lebih tepatnya lagi, surat cinta dari kekasihku. Oh...aku jadi romantis begini. Sejak bertatap muka dengannya, hatiku ini memang sepenuhnya dipenuhi rasa cinta padanya.
Kubuka perlahan surat itu. Isinya,

Assalamu'alaikum. Wr. Wb
Kepada yang terhormat
Dinda Altharina Puteri
Di tempat
Aku sengaja menulis surat ini dengan tulisan tanganku sendiri. Berharap kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan ketika orang tuaku memaksaku untuk menikah denganmu. Asal kau tahu saja, pinangan atas dirimu sebenarnya bukan aku yang menginginkan, melainkan orang tuaku.
Mereka bilang, sejak pertama kali melihatmu, hati mereka langsung tergerak untuk menjadikanmu sebagai menantu. Lagi pula orang tuaku dan orang tuamu berteman sejak lama. Tapi maaf, itu semua diluar kemauanku. Dan maaf sekali lagi, aku tidak pernah berniat menikahimu. Semua ini adalah rencana orang tuaku dan orang tuamu untuk menjodohkan kita.
Aku tahu hal ini adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku. Aku juga tahu bahwa jika semua ini benar-benar terjadi, maka akan banyak orang yang aku bohongi. Terlebih lagi, aku akan menjadi seorang pecundang dan pengecut karena telah menyakiti perasaanmu.
Tapi aku juga tidak bisa berbuat lebih banyak lagi sebab melihat kondisi ibuku yang sudah sangat lemah, aku takut bila aku menolak permintaanya, sakitnya akan semakin parah. Asal kau tahu saja, dua hari yang lalu ibuku masuk rumah sakit karena aku menolak permintaannya.
Jadi aku mohon, bantulah aku memainkan sandiwara ini didepan orang tua kita masing-masing. Aku tahu segala sesuatunya itu akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Azza wa Jalla, tapi aku tak bisa berbuat banyak lagi untuk hal ini.
Aku merasa, belajarku selama beberapa tahun tentang Islam sia-sia saja karena akhirnya aku harus membohongi banyak orang atas kepura-puraanku mencintaimu. Maaf sekali lagi.
Pernikahan bukanlah suatu hal yang main-main untuk dijalankan. Terlebih lagi bila tidak dilandasi dengan rasa cinta. Sesungguhnya, ada 'nama' lain yang mengisi relung hatiku. Dan sepertinya, mulai saat ini aku harus menghapus 'nama' itu dan berusaha menggantinya dengan 'namamu'.
Jika memang tak ada cara lain lagi untuk kita mencegah kebohongan ini, maka sebagai langkah awalku dalam menjalankan kehidupan baruku nanti, aku ceritakan semuanya ini padamu. Jujur. Tidak ada yang ditambahkan atau dikurangkan. Aku tidak mau mengawali semua ini dengan kebohonganku pada dirimu. Maafkanlah aku yang tak mencintaimu.
Mungkin ketika membaca surat ini, matamu sudah dipenuhi dengan air mata. Aku akan berusaha mengganti air matamu itu dengan usahaku untuk dapat mencintaimu. Maaf, beribu-ribu maaf aku minta kepadamu.
Tolonglah malam ini kau shalat tahajud dan minta kepada Allah agar memberikan yang terbaik untuk kita. Aku tak sanggup, bila selamanya harus menyakitimu. dengan kepalsuan cintaku.
Dan tolong jangan ceritakan hal ini pada siapapun. Aku yakin kau mengerti seperti apa posisiku. Sekian dulu surat dariku. Bila semua ini kurang berkenan dihatimu, mohon dibukakan pintu maafmu untukku. Afwan
Wassalamu'alaikum. Wr. Wb
Dari Seorang Pengecut
Yusuf Abdul Fattah

Remuk redam rasanya jiwa ini ketika aku membaca surat itu. Air mata sudah tak dapat lagi kubendung. Aku merasa hatiku hancur berkeping-keping. Aku merasa dunia ini menjadi gelap di penglihatanku. Orang yang aku cintai ternyata tidak pernah mengharapkanku. Dan sikapnya yang tadi kulihat janggal, ternyata benar adanya. Tiba-tiba aku merasa bahwa Yusuf adalah manusia terjahat yang pernah aku temukan selama hidupku. Tapi spekulasi itu tetap tidak bisa mengalahkan perasaanku yang sejak awal sudah dipenuhi rasa cinta padanya.
Sekarang aku mengerti apa yang diminta oleh Bu Rahayu padanya. Dan sekarang aku lebih mengerti apa yang dibicaraknnya pada temannya di book fair tadi. Yang dimaksudkan menyebar undangan adalah undangan pernikahanku dengan Yusuf. Dan
'nama' lain yang dimaksudkannya adalah nama ... Alifa. Nama seorang akhwat yang tadi disebut-sebut oleh temannya Yusuf. Oh Alifa, mengapa tiba-tiba aku jadi merasa cemburu padamu? Sebenarnya seperti apa sosok dirimu sehingga membuat Yusuf jatuh hati padamu?
Aku merasakan air mata kembali menetes membasahi kedua pipiku. Sebuah berita menggembirakan yang baru saja aku dengar beberapa saat lalu, tiba-tiba saja berubah bagai kilat yang menyambar yang menghantam tubuhku dan membuatnya hancur berkeping-keping. Kalau saja aku tahu hal ini dari awal, aku tidak akan pernah mau menerima lamarannya. Tapi, aku juga tidak mau melihat Bu Rahayu jadi jatuh sakit. Oh Ya Rabbi, tolonglah hambaMu ini.
Aku bangkit dari dudukku. Aku berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa kepingan hatiku yang tadi hancur berserakan. Kulirikkan mataku ke jam dinding. Sudah cukup malam dan aku teringat, aku belum shalat Isya. Sekuat tenaga aku berdiri dan melangkahkan kakiku ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Mataku memerah tapi kutahan untuk menangis dihadapan Mama dan Papa. Mereka tidak boleh tahu akan hal ini.
Malam ini akan kuadukan semuanya pada Dzat Yang Maha Memberikan rasa, agar Yusuf dapat menemukan arti dari sebuah makna cinta sejati.

* * *

Hari ini hari Minggu. Pagi ini aku kelihatan lesu dan tidak berdaya. Seusai shalat subuh, tilawah qur'an beberapa halaman, dan wirid ma'tsurat aku langsung bergegas mandi dan membereskan rumah. Hari ini aku ingat ada jadwal liqa8 pukul sepuluh nanti. Seusai membereskan rumah, aku langsung membuat sarapan seperti biasanya. Makan satu meja bersama Mama dan Papa.
Di tengah menyantap nasi goreng yang kubuat, tiba-tiba Papa menegurku.
"Din, kamu kenapa? Sepertinya lesu sekali pagi ini?" Tanya Papa mengejutkanku dari lamunan. Kupandangi wajah Papa dengan tatapan hampa.
"Iya nih Din. Mama perhatikan dari tadi kok kamu diam saja. Seharusnya kamu senang dong, kan semalam baru dilamar oleh Yusuf. Dapat surat lagi darinya" Imbuh Mama melanjutkan. Tiba-tiba aku teringat akan surat dari Yusuf yang isinya sangat menghancurkan hatiku. Aku termenung sendiri sambil menatap segelas susu putih kepunyaanku. Andaikan saja hatiku ini bisa seputih susu itu.
"Din! Ada apa sih kamu?" Tegur Mama padaku. Aku kembali tersadar dari lamunanku.
"Ehm....Pa, Ma, ada yang mau aku bicarakan" Ucapku tanpa pikir panjang lagi. Hatiku semakin galau.
"Mau membicarakan apa?" Tanya Papa.
Kutarik nafasku dalam-dalam.
"Setelah semalaman aku berpikir ulang kembali, aku memutuskan untuk.... menolak lamaran Yusuf"
"Apa?!" Teriak Papa dan Mama berbarengan.
"Iya Pa, Ma, aku memutuskan untuk tidak menikah dengan Yusuf" Kataku lagi mempertegas perkataanku sebelumnya.
"Kamu sudah ngaco apa? Hari pernikahan dan segala persiapannya itu sudah ditentukan, Dinda. Lagi pula, kenapa tiba-tiba kamu menolaknya? Bukankah semalam kamu kelihatan bergembira sekali menerima lamaran Yusuf? Bahkan Yusuf sampai menuliskan surat cinta untukmu. Lalu apa yang menyebabkanmu sampai berubah pikiran?" Tanya Mama dengan penuh ketegasan.
Andai saja Mama dan Papa tahu apa isi surat itu, pasti kalianpun akan melakukan hal yang sama sepertiku. Bahkan aku yakin, Papa dan Mama tidak akan rela melepaskan aku pada seseorang yang tidak mencintaiku. Tapi aku tidak akan memberitahukan semua ini pada kalian. Cukup aku saja yang menderita.
"Dinda?" Tegur Mama.
"Ya Ma? Ehm...."
Sesungguhnya aku tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan Mama. Ya Allah, jawaban apa yang harus aku berikan pada Mama dan Papa?
"Ehm...A, aku merasa kurang pantas saja Ma bersanding dengan Yusuf. Aku merasa, lebih baik dia bersanding dengan wanita lain saja dari pada dengan aku" Jawabku sekenanya.
"Tapi Din, dia itu jelas-jelas sudah memilihmu untuk menjadi pendampingnya. Jadi untuk apa lagi kau menolaknya?" Tanya Papa penuh ketegasan. Aku diam seribu bahasa. Dalam hati aku menjawab pertanyaannya.
"Yang sebenarnya memilihku bukanlah Yusuf Pa, tapi orang tuanya. Orang tuanya yang menginginkan aku jadi menantunya, bukan Yusuf"
Aku hanya bisa menunduk dan pasrah dalam ketidak berdayaanku. Sejurus do'a kupanjatkan pada Yang Kuasa agar semuanya bisa berjalan dengan baik. Mama kembali bersuara.
"Din, usiamu sudah menginjak 27 tahun. Mau cari yang seperti apa lagi kalau yang seperti Yusuf saja kamu tolak?" Ucap Mama berusaha meyakinkanku. Aku rasa pertanyaan Mama tak perlu kujawab. Aku hanya menjawabnya dalam hati.
"Aku hanya ingin mencari suami yang sholeh dan dapat mencintaiku apa adanya, Ma" Ucapku dalam hati.
Aku beranjak pergi dari hadapan Mama dan Papa. Mereka hanya bisa memandangiku berjalan kekamar. Di kamar, kubuka buku harianku dan kutuliskan semua kegundahanku dalam buku itu dengan air mata berlinang. Tanpa kusadari air mataku itu jatuh membasahi tulisanku.
Aku tak sanggup lagi dengan keadaan ini. Tapi aku kembali ingat, bahwa Allah tidak akan pernah memberikan suatu cobaan kepada hambaNya diluar batas kemampuan hambaNya. Dan sampai sekarang aku selalu ingat salah satu ayat itu yang terdapat di Surat Al Baqarah. Kalau memang Allah sudah mempercayakan cobaan itu padaku, maka aku yakin akupun bisa mengatasinya. Allah tidak pernah salah dalam bertindak. Mana mungkin Allah salah? Mungkin ini adalah sebuah cobaan atas diriku untuk mencapai tingkat derajat taqwa yang lebih tinggi. Jika aku sabar menghadapinya, itu berarti aku lulus. Tapi kalau tidak, maka aku belum bisa mencapai derajat taqwa yang lebih tinggi itu.
Aku yakin, setiap manusia itu mempunyai kadar kesanggupannya masing-masing. Dan yang tahu kadar itu hanyalah Allah swt. Bahkan manusia pun belum tentu mengetahui kadar itu, karena manusia hanya bisa mengeluh dan mengeluh tanpa mau berpikir kenapa
Allah memberikan cobaan itu. Yang manusia bisa lakukan hanyalah meratapi nasib yang sudah ada tanpa mau berusaha untuk mengubahnya. Padahal kalau diingat-ingat lagi, Allah itu mengikuti prasangka hambaNya. Pertanyaannya bukan, Kenapa Allah memberikan cobaan ini? Tapi lebih tepatnya lagi, Apa hikmah dibalik cobaan yang Allah berikan? Dan tugas seorang manusia itu ialah mencari hikmah yang terkandung dari semua cobaan yang telah Allah berikan. Itulah sikap manusia sejati.
Dan aku? Aku akan berusaha untuk menjadi manusia sejati itu. Aku tidak boleh kalah oleh keadaan. Biar bagaimana pun, hidup ini masih dan harus terus berjalan. Aku yakin, akan ada hikmah dibalik semua cobaan ini.
Ya, saat ini, bagiku, mencintai calon suamiku adalah cobaan untukku. Dan pastinya, akan ada suatu kebaikan yang terkandung jika aku bersabar dalam mencintainya. Dan janji Allah itu pasti, Innallaha Ma 'ashshobirin. Allah itu selalu bersama orang-orang yang sabar. Sabar dalam beribadah, sabar dalam melakukan perbuatan, sabar dalam mengarungi kehidupan, dan sabar bila kita mencintai seseorang yang tidak mencintai kita. Sabar, sabar, dan sabar. Itulah yang sekarang sedang berusaha aku lakukan. Aku akan selalu bersabar, menanti pintu hatinya terbuka untuk dapat menerima cintaku.
Pukul sembilan kurang sepulih menit. Aku harus bersiap-siap pergi liqa ketempat Mbak Rianti, murabbiku. Hari ini aku ada jadwal kultum. Aku tak mau terus menerus memikirkan masalahku dengan Yusuf sementara masalahku yang lain masih menunggu uluran tangan untuk aku selesaikan. Aku jadi mempunyai tema kultum yang baru untuk aku sampaikan kepada teman-teman. Tema itu adalah tentang kesabaran. Apa itu sabar, kenapa kita harus sabar, dan apa gunanya kita bersabar, semuanya akan aku bahas di forum halaqah nanti. Sekalian aku akan meyampaikan kabar gembira sekaligus menyedihkan untukku. Gembira karena sebentar lagi aku akan menikah. Dan menyedihkan karena laki-laki yang menikahiku sesungguhnya tidak mencintaiku. Tapi kabar menyedihkan itu tak akan aku sampaikan nanti. Cukup hanya aku, Yusuf, dan Allah saja yang tahu.
Rabbi, kuatkanlah diriku. Izinkanlah aku meraih derajat taqwaMu, Ya Allah......

* * *

Nantikan kelanjutannya sesaat lagi di (BAG. 4 )

?? ~* ::Ketika Cinta Harus Bersabar (BAG.2):: *~ ??


Yuk baca lagi.... Bagi yang belum baca BAG (1)  Silakan Buka Page "Strawberry" Ini baca sebelum catatan  Bag (2) Bagian Terakhir ini ^_^

 
KARYA : Fajar Agustanto

Hari berganti hari, aku sudah tak lagi memikirkan sosok "malaikat" itu. Dan aku berusaha untuk tidak memikirkannya. Kemarin sore aku mendapat sebuah undangan dari sahabatku, Arini, teman satu kantor. Hari ini dia akan menikah. Aku tertawa sendiri melihat namanya yang manis bertengger didalam undangan pernikahannya yang berwarna kuning keemasan, bersebelahan dengan nama seorang ikhwan1 yang sangat aku kenal, Fauzi. Yang jelas-jelas aku ingat dulu Arini sempat tidak suka pada ikhwan yang mempunyai potongan rambut belah tengah itu dan berkaca mata.
Menurut Arini -sebelum akhirnya dia luluh juga pada Fauzi- Fauzi itu sosok seorang ikhwan yang paling aneh yang pernah ia kenal. Wajahnya yang biasa-biasa saja dengan aksesoris kaca matanya yang tak pernah ia tinggalkan, membuat Arini ilfill terhadapnya. Apalagi gaya bicaranya yang menurut Arini seperti perempuan, semakin menguatkan argumennya bahwa Fauzi itu bukan ikhwan tulen. Aku hanya tersenyum mendengarnya tanpa bisa memberikan komentar apa-apa soal Fauzi karena ternyata, diam-diam Fauzi menyimpan perasaan pada Arini.
Aku tahu hal itu dari Fauzi sendiri. Suatu ketika Fauzi pernah mengirimkan email padaku yang meminta tolong agar aku mau mengatakan pada Arini kalau dia suka padanya dan hendak melamarnya. Aku sempat terkejut membaca pesan itu. Jarak antara ruanganku dengan ruangan Fauzi tidak jauh. Kami memang satu kantor tapi kami tak pernah bertemu lama walaupun hanya sekedar berbincang-bincang.
Setelah membaca ulang emailnya, aku segera menulis balasan email untuknya.
Wa'alaikumussalam. Wr. Wb
Fauzi, apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu? Kalau peranku hanya sekedar menyampaikan pesanmu pada Arini, mungkin aku bisa bantu. Tapi kalau untuk lebih jauhnya, afwan2, lebih baik kamu hubungi saja murabbi3nya. Kalau kamu mau, aku bisa memberikan alamat dan nomor teleponnya padamu. Kebetulan aku mengenalnya. Bagaimana? Afwan ya.
Segera kukirim email itu padanya dan kuketik sms untuknya yang mengatakan bahwa aku sudah memberikan balasan emailnya. Aku melanjutkan tugasku kembali. Mengedit beberapa tulisan yang sudah masuk kedalam redaksi kami. Kantor tempat aku bekerja adalah perusahaan majalah Islam yang cukup terkenal di Jakarta.
Tak berapa lama ponselku berdering. Kulihat. Satu pesan diterima. Dari Fauzi. Kubuka. Isinya :
Baiklah Mbak. Aku minta almt & nomor tlp murabbinya Arini. Smg ini bs membntuku. Krm via email ya Mbak? Syukran4.
Aku tak membalas smsnya. Segera kubuka buku agendaku dan kucari nama Mbak Nurma, murabbi Arini. Ketemu. Tanpa berlama-lama, aku langsung mengetik nama, alamat, dan nomor telepon Mbak Nurma dan segera kukirim via email, sesuai dengan permintaan Fauzi. Setelah aku megirimnya, aku kembali mengetik sms untuknya.
Almtnya sdh aku krm. Smg itu bs mmbntu dlm ikhtiarmu mncri jodoh y? Smg sukses. Afwan.
Aku kembali larut dalam kerjaanku yang sedari tadi tertunda oleh urusan Fauzi. Tak berapa lama kemudian, ponselku berbunyi lagi. Aku tak mengindahkannya. Aku yakin itu dari Fauzi yang ingin mengucapkan terima kasih padaku. Kerjaanku sedang banyak-banyaknya dan sebentar lagi tulisan-tulisan ini harus segera diserahkan kepercetakan.

* * *

Aku tersenyum sendiri melihat undangan manis yang kini masih tergeletak di atas meja riasku. Peranku dalam usaha Fauzi menemukan jodohnya hanya sampai disitu. Aku sungguh tak menyangka kalau Fauzi memang benar-benar menginginkan Arini menjadi istrinya. Satu hal yang aku ingat saat aku berbincang-bincang dengan Arini dulu.
"Rin, membenci seseorang itu boleh saja. Tapi harus sewajarnya. Tidak boleh kita membenci orang lain tanpa alasan yang tidak jelas. Ingat lho Rin! Janganlah kamu membenci orang lain dengan sangat membencinya, karena bisa saja suatu hari kamu jadi menyukainya. Begitu juga sebaliknya. Jika kamu menyukai orang lain ya sewajarnya saja, sebab bisa jadi suatu hari kamu akan berbalik membencinya. Saat ini mungkin kamu tidak suka dengan penampilan dan gaya bicara Fauzi. Tapi bisa jadi suatu saat kamu malah justru berbalik menyukainya. Ingat! Hal itu ada haditsnya lho Rin"
Sikap Arini saat itu hanya diam. Mungkin dia sedang memikirkan hal yang baru saja aku katakan. Dan sekarang, aku sungguh tak percaya. Hari ini dia akan menikah dengan seorang ikhwan yang dulu sempat ia benci zahirnya.
Hah...jodoh memang sulit ditebak. Yang setiap hari bertengkar, ternyata dikemudian hari malah menjadi jodoh. Sedangkan yang sudah lama menjalin hubungan, malah putus ditengah jalan. Yap! Aku jadi lebih yakin kalau jodoh itu memang rahasia Allah. Dan bisa saja jodoh yang tengah disiapkan Allah untukku adalah seseorang yang tidak pernah aku duga sebelumnya.
Diluar, Mama mengetuk pintu kamarku dan minta izin untuk masuk. Akupun mengizinkan. Dia berdecak kagum ketika melihat aku berdandan sangat beda hari ini.
"Wah...wah!! Mau kemana sih kamu Din? Pagi-pagi begini sudah rapi sekali? Ada acara apa?" Tanya Mama sambil matanya terus memandangiku dari atas kebawah.
"Tuh, lihat saja Ma!" Jawabku sambil menunjuk sebuah undangan berwarna kuning keemasan diatas meja riasku. Tanganku sibuk mengaitkan peniti di jilbabku. Mama mengambil undangan itu dan membacanya.
"Undangan pernikahan, Arini Musdalifah dengan Fauzi Nur Alamsyah" Ucap Mama mengeja huruf-huruf yang terangkai dengan indah di undangan tersebut.
"Oh...ini Arini yang pernah main kesini ya Din? Yang pernah konsultasi sama kamu masalah lamaran....siapa itu?"
"Fauzi Ma!" Sahutku.
"Iya Fauzi. Lha kok jadi nikah begini? Katanya nggak suka, kok jadi nikah?" Tanya Mama penasaran.
"Ma, jodoh itu rahasia Allah. Kita nggak tahu dengan siapa nantinya kita akan menikah. Kalau Arini tadinya nggak suka sama Fauzi, tapi kalau memang Allah sudah menggarisakan jodohnya mereka ya mau diapakan lagi?" Jawabku meyakinkan Mama.
Mama hanya mengangguk-angguk pelan sambil terus membaca undangan Arini. Tiba-tiba ia menyampaikan sesuatu padaku yang membuat hatiku bertanya-tanya.
"Oh iya Din, nanti malam keluarganya Bu Rahayu akan datang kesini"
"Keluarganya Bu Rahayu?" Tanyaku dengan menatap wajah Mama dengan serius.
"Iya. Bu Rahayu yang tempo hari pernah kita jenguk. Kamu ingat kan?"
Aku mengangguk pelan. Mana mungkin aku lupa. Dari kunjungan itu aku melihat sesosok manusia alim bernama Yusuf Abdul Fattah. Yang menjadi maksud pertanyaanku pada Mama barusan adalah untuk apa Bu Rahayu datang kemari dengan membawa serta keluaganya? Aku mencoba bertanya pada Mama.
"Untuk apa mereka kemari Ma?"
"Ya sekedar silaturrahimlah. Kan sudah lama tidak bertemu. Sekalian ada yang mau kami bicarakan" Jawab Mama yang memberikan sebuah tanda tanya besar untukku. Membicarakan apa?
"Siapa saja yang nanti datang bersama Bu Rahayu?" Tanyaku makin penasaran.
"Nggak banyak. Ya Bu Rahayu, suaminya, dan anaknya yang kemarin" Jawab Mama tenang, tapi tidak bagiku. Tiba-tiba saja hatiku berdebar hebat ketika Mama menyebutkan "anaknya yang kemarin".
"Nanti jangan pulang malam-malam ya? Ikut temuin Bu Rahayu dengan keluarganya" Ucap Mama sambil beranjak pergi dari hadapanku. Aku masih terpaku dengan ucapan Mama. Dia ikut? Sosok "malaikat" itu nanti malam akan datang? Oh Rabbi, kenapa aku ini? Kenapa aku jadi gelisah seperti ini?
Aku segera membereskan barang-barangku dan langsung bergegas pergi menuju pesta walimatul ursy-nya Arini dan Fauzi. Tak lupa aku membawa sebuah bingkisan untuk mereka. Sejenak aku lupakan dulu rasa tidak tenangku.

* * *

Sepulang dari walimatul ursy-nya Arini, aku langsung di ajak oleh Shanti, teman satu halaqah5ku ke Istora Senayan karena disana sedang ada acara pameran buku Islami atau Islamic Book Fair. Hari ini terakhir diadakan. Kupikir tidak ada salahnya menghabiskan waktu disana sambil membeli beberapa buku untuk referensi novel terbaruku.
Selepas Ashar aku langsung menuju kesana. Suasana disana sangat penuh oleh ikhwan dan akhwat6 yang berjubel ingin masuk. Aku dan Shanti bahkan hampir terpisah karena sesaknya orang yang berebut masuk. Yang aku tahu dari pusat informasi disana, hari ini ada temu penulis novel bestseller "Ayat Ayat Cinta", Habiburrahman El Shirazy, jadi pantas saja kalau banyak orang yang berbondong-bondong datang untuk melihat Kang Abik secara langsung.
Aku yang mendengar hal itupun segera mencari tempat lokasi temu penulis "Ayat Ayat Cinta". Secara, aku juga sangat mengidolakan Kang Abik sebagai penulis inspirasiku dalam menulis novel.
Beberapa buah buku referensi telah aku dapatkan. Kebanyakan dari buku yang aku beli adalah novel dan beberapa buku penunjang untuk bahan penulisan novelku. Lain lagi dengan Shanti. Dia lebih tertarik dengan buku-buku yang membahas tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Secara, dia itu adalah seorang guru agama Islam di Sekolah Menengah Pertama Islam Taman Qur'aniyah di daerah Poltangan, Jakarta Selatan.
Di saat langkahku tengah mendekati ruang Anggrek, tempat dimana acara temu penulis "Ayat Ayat Cinta" digelar, aku melihat sosok "malaikat" yang pernah kulihat dirumah Bu Rahayu. Dialah Yusuf. Dia berdiri di stand Penerbit Cakrawala sambil membuka lembar demi lembar buku yang dipegangnya. Disebelahnya berdiri seorang ikhwan yang tengah mengajaknya berbicara.
Entah ada angin apa, tiba-tiba saja Shanti menarik tanganku dan membawaku ke stand Penerbit Cakrawala. Dia bilang ingin membeli sebuah buku karangan Dr. 'Aidh bin Abdullah alqarni dengan judul Jangan Takut Hadapi Hidup. Aku terkejut dibuatnya. Yusuf belum beranjak dari tempatnya berdiri. Sedangkan aku berdiri persis membelakanginya. Dia tidak tahu kalau aku ada dibelakangnya. Atau mungkin, kalaupun dia melihatku, bisa saja dia tidak mengenaliku atau lupa padaku.
Shanti masih saja mencari buku yang dia maksudkan. Sedangkan aku pura-pura melihat-lihat buku yang sekarang ada dihadapanku. Samar-samar aku mendengarkan dia berbicara dengan temannya.
"Suf, ente bener hari ini nggak mau ikut ane kerumah Sandi? Ente nanti nyesel lho!" Ucap temannya Yusuf dengan semangat.
"Bener akhi7, ana nggak bisa ikut nih. Hari ini ana mau pergi sama orang tua kerumah teman mereka" Jawab Yusuf dengan nada penuh penyesalan.
"Ente jadi ikut sama orang tua ente? Kirain cuma main-main. Jadi dong nyebar undangan?" Tanya temannya yang tiba-tiba saja membuat hatiku bertanya-tanya. Undangan?!
"Ah, antum jangan begitu dong. Ana lagi pusing nih memikirkan permintaan orang tua" Sahut Yusuf.
"Lagi sih ente. Ane bilang buru-buru lamar si Alifa, eh ente bilang nanti-nanti dulu. Ya terima deh nasib dijo..."
"Sstt!!" Tiba-tiba Yusuf memotong pembicaraan temannya itu.
"Udah yuk ah, ana mau langsung pulang nih. Nanti Ibu marah, terus jatuh sakit lagi" Lanjutnya menutup perbincangan dia dan temannya. Aku semakin bertanya-tanya. Ada masalah apa sebenarnya dengan Yusuf? Apa yang diminta orang tuanya padanya?
Shanti menyadarkanku dari pertanyaan yang belum sempat aku temukan jawabannya. Dia sudah mendapatkan buku yang diinginkannya. Baru beberapa langkah aku menuju ruang Anggrek, tiba-tiba ponselku berdering. Kuangkat. Dari Mama.
"Ya Ma?" Sapaku langsung pada Mama.
"Din, kamu dimana sekarang? Cepat pulang. Sebentar lagi keluarganya Bu Rahayu akan segera datang" Ucap Mama dengan nada sedikit kesal.
"Iya Ma. Sebentar lagi Dinda akan pulang. Mama tunggu sajalah dirumah. Paling Bu Rahayu juga akan telat datangnya" Ucapku meyakinkan Mama. Sebab aku tahu, Yusuf saja masih ada di Senayan.
"Sok tahu kamu. Dari dulu itu Bu Rahayu orangnya selalu tepat waktu. Sudahlah jangan membantah. Pokoknya sebelum Maghrib, kamu harus sudah sampai dirumah" Ucap Mama sambil menutup teleponnya. Sepertinya Mama agak marah padaku. Mau diapakan lagi. Dengan berat hati aku langkahkan kakiku menuju keluar Istora Senayan dan itu artinya aku tidak jadi melihat Kang Abik secara langsung. Tapi satu yang masih aku pikirkan. Apa kira-kira yang diminta oleh orang tuanya Yusuf pada Yusuf?

* * *

Nantikan kelanjutannya sesaat lagi di (BAG. 3 )