Senin, 27 Februari 2012

Bacaan Terbaik yang Sering Terlupakan

Beberapa bulan yang lalu pernah diminta menjadi juri dalam lomba tahsin Al Quran anak-anak remaja di salah satu pojok ibu kota ini. Dari sekian puluh peserta terlihat saling agak ragu dan takut untuk membaca Al Qur’an meski sudah di panggil panitia lomba. Usut punya usut ternyata dari sekian peserta rata-rata masih sangat terbata dalam membaca Al Qur’an. Alhasil saya menyimpulkan hanya 3 orang yang bisa membaca dg lancar walaupun tajwidnya masih belepotan dan merekalah yang menjadi juaranya. Miris sedih campur geram. Betapa tidak usia mereka yang rata-rata 15 tahunan masih saya katakana buta aksara Al-Qur’an?

Sedih ke mana saja mereka selama ini? Orang tua mereka? Tapi mau geram sama siapa? Padahal mereka saja begitu enjoy menikmati ketidakbisaannya. Seolah baca Al-Qur’an itu tidak keren dan sekedar membaca buku-buku ala kadarnya. Dan kenyataannya remaja lebih memilih menenteng hape atau bahkan blackberry yang harganya bisa jutaan. Padahal jika untuk membeli Al Quran, buku panduan membaca Al Qur’an bisa dapat puluhan buku. Bahkan jika dikalkulasi untuk membayar taman Pendidikan Al Quran dan sejenisnya bisa untuk 100 kali pembayaran @ Rp 25.000,00/bulan. Dan saya menjamin anak-anak sudah bisa membaca Al Quran atau minimal bisa 1 kali mengkhatamkan Al-Qur’an.

Ilustrasi di atas bukan cerita rekaan dan itulah kenyataan saat ini, gambaran remaja tersebut merupakan gambaran umat muslim pada umumnya. Sebagian besar muslim di Indonesia belum begitu sadar akan pentingnya membaca Al Quran. Padahal Al-Qur’an adalah pedoman hidup, sumber hukum Islam yang utama. Ketika kita makin menjauh dari Al Quran maka kualitas umat juga semakin rapuh. Bagaimana tidak membaca saja belum bisa, di tambah lagi semangat belajar untuk membaguskan bacaan Al Qur’an juga tidak ada.

Dalam sejarah dikatakan bahwa wilayah nusantara yang terakhir dikuasai oleh Belanda adalah daerah Aceh. Daerah Aceh tercatat sampai 1912 masih merdeka dan berdaulat. Mengapa bisa terjadi? Ternyata di kerajaan Aceh sangat berpegang teguh Al Quran sebagai pedoman utama. Rakyat di sana sangat komitmen dan dekat dengan Al Quran. Hingga ketika Belanda memakai tenaga ahli Dr. Christiaan Snouck Hurgronje yang menyamar selama 2 tahun di pedalaman Aceh untuk meneliti kemasyarakatan dan ketatanegaraan Aceh, perlahan daerah Aceh bisa di taklukkan. Siasat Snock Hurgronje lebih kepada menjauhkan nilai-nilai Islam dari masyarakat Aceh, terutama tentang komitmen dekat dengan Al Quran. Salah satu contoh wanita haidh tidak boleh membaca dan menghafal Al-Qur’an, padahal seorang hafidhah diperbolehkan muraja’ah (mengulang bacaan) dalam rangka untuk menjaga hafalannya. Dalam beberapa pendapat dikatakan bahwa wanita haidh tetap boleh memegang Al-Qur’an asal bukan mushaf asli, missal qur’an terjemah, tafsir, dsb.

Mungkin contoh di atas sedikit terlihat sepele, pelan tapi pasti, efek-efek tersebut dapat dirasakan. Snouck hurgronje, mendoktrin masyarakat Aceh bahwa agama Islam hanya sebatas ritual, sehingga tidak menyeluruh. Dari para hafidhah yang haidh tadi secara perlahan dihilangkan hafalannya. Padahal Al Qur’an sebagai pedoman hidup itu berlaku pada semua kondisi bagi wanita baik yang haidh maupun yang tidak. Allah SWT berfirman:

“Alif-Lam-Mim. Kitab Al-Quran ini, tidak ada sebarang syak padanya; ia pula menjadi petunjuk bagi orang-orang yang (hendak) bertaqwa.” (QS. al-Baqarah 2: 1-2)

Setiap individu Muslim yang bertaqwa memerlukan al-Qur’an sebagai kitab yang memberi petunjuk kepada mereka. Petunjuk ini diperlukan pada setiap masa dan tempat, termasuk oleh para wanita ketika mereka didatangi haidh. Tidak mungkin untuk dikatakan bahwa ketika haidh mereka tidak memerlukan petunjuk dalam kehidupan sehari-harian mereka.

Banyak hal yang menakjubkan dari kitab suci Al Quran. Kita sebagai seorang muslim harus banyak tahu ilmu tentang Al-Qur’an, agar kita lebih senang membacanya, merenungkan, dan bahkan menghafalkannya. Al Qur’an dalam arti bahasa memang bacaan. Secara istilah barulah ia berarti firman Allah yang merupakan mukjizat dan diturunkan dalam hati Muhammad untuk di ajarkan kepada umat muslimin yang kemudian diriwayatkan secara muttawattir kepada kita serta merupakan ibadah ketika kita membacanya. Untuk belajar Al Qur’an kita harus talaqqi (belajar membaca Al Qur’an secara langsung dibimbing oleh seorang guru Al Quran). Karena dengan talaqqi seseorang akan mendapatkan pengarahan yang benar setiap kali salah membaca. Bacaan Al-Qur’an bukanlah berdasarkan ijtihad, melainkan riwayat, sehingga harus melalui proses talaqqi kepada seorang guru dan tidak dapat dipelajari sendiri, sedangkan secara teori ilmu tajwid dapat dipelajari sendiri. Oleh karenanya ulama menetapkan bahwa hukum membaca Al-Qur’an dengan benar adalah Fardlu ‘Ain sedangkan mempelajari ilmu tajwid secara teori adalah fardhu kifayah.

Ketika kita masih merasa berat menyentuh dan membaca Al Quran ini dikarenakan beberapa sebab. Sebab adalah masalah utama yang harus dicarikan solusi oleh kita semua kaum muslimin. Sebab-sebab itu di antaranya:

    Perasaan menganggap sepele tentang keutamaan membaca Al-Qur’an
    Lemah wawasan ber Al-Qur’an
    Tidak memiliki waktu yang wajib/target khusus untuk berinteraksi dengan Al Quran
    Lemahnya keinginan untuk bertilawah
    Terbawa lingkungan yang jauh dari Al-Qur’an
    Tidak tertarik dengan majelis yang menghidupkan Al Quran.

Untuk menanggulangi sederetan masalah diperlukan solusi dan kiat-kiat khusus di antaranya:

    Lancarkan bacaan yaitu dengan belajar secara talaqqi, dan sering tilawah, meski masih terbata-bata (muraja’ah = membaca berulang hingga benar) karena dalam hadits dikatakan “Orang yang mahir dengan Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia dan taat, dan orang yang terbata-bata serta merasa kesulitan, maka ia mendapatkan dua pahala (pahala membaca dan pahala semangat membaca)” (HR. Muslim).
    Tingkatkan wawasan ber Al-Qur’an, dengan sering-sering menghadiri majelis-majelis ilmu yang menghidupkan Al-Qur’an.
    Jadikan waktu khusus (target harian) untuk tilawah, anggap utang jika tidak memenuhi target dan bayarlah (qodo’), pada hari berikutnya.
    Berdoalah pada Allah agar dimudahkan dan diringankan untuk mempunyai waktu khusus membaca, merenungi bahkan menghafal Al-Qur’an.
    Perbanyak amal shalih karena amal shalih merupakan energy baru untuk amal shalih berikutnya.
    Banyak-banyak bergaul dengan orang-orang shalih yang menghidupkan dan dekat dengan Al Quran.

Sebagai khatimah tulisan ini saya sampaikan jika di awal saya begitu miris dengan sebagian remaja yang buta aksara Al-Qur’an, hati ini terasa sejuk, sekaligus bahagia dan iri pada anak2 belasan tahun bahkan masih di bawah sepuluh tahun yang menyetorkan hafalan surat Al Insan sore itu, meski kadang belum pas dan lupa panjang pendeknya. Karena hanya ada 2 macam iri yang diperbolehkan yaitu Pertama, seorang pemuda yang di beri ilmu, kemudian selalu membaca Al-Qur’an baik di waktu pagi maupun petang. Kedua, seorang pemuda yang dikaruniai rezeki oleh Allah, kemudian bersedekah karena Allah baik di waktu pagi maupun petang.

Perumpamaan orang Mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah Utrujah, baunya harum dan rasanya enak. Dan perumpamaan orang Mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah Kurma, tidak wangi rasanya manis. dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti buah Raihanah, baunya enak dan rasanya pahit. Dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah Handzalah, tidak beraroma dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang membaca Al Quran kemudian meningkat (kehidupan kami), dan janganlah engkau jadikan kami orang-orang yang membaca Al-Qur’an namun kami menderita…

Wallahu a’lam bishawwab…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/







0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan Kasih Jempolnya..