Jumat, 23 Maret 2012

JAngan jadikan Pernikah Tujuan akhir


"Akhirnyaaaa...!" Begitu komentar teman-teman Anda ketika akhirnya Anda menyebarkan undangan pernikahan Anda. Selama ini Anda dikenal sebagai perempuan cuek, yang tidak juga menampakkan tanda-tanda akan menikah. Sehingga ketika akhirnya mengumumkan pernikahan, terlontarlah kata tersebut.

Banyak perempuan menganggap menikah adalah suatu tujuan dalam hidupnya. Hal ini umumnya dialami oleh perempuan yang sejak kecil dibebani suatu konsep bahwa siklus hidup seseorang adalah lahir, sekolah, bekerja, lalu menikah. Menikah di sini dijadikan suatu tahapan akhir dalam siklus hidup tersebut, sehingga hidup perempuan belum tuntas jika belum menikah. Akan menjadi penghalang besar ketika perjalanan cinta perempuan tak semulus harapannya. Akhirnya, ketika usianya semakin bertambah dan terus didesak untuk menikah, begitu menemukan seorang pria yang dinilai cukup memenuhi syarat, perempuan segera memutuskan untuk menikah.

Pada tahap ini, perempuan tentu menganggap bahwa tugasnya sebagai perempuan telah selesai. Tak akan ada lagi desakan atau tuntutan dari keluarga untuk menikah. Bagaimana hidup akan berjalan setelah menikah adalah urusan nanti. Perempuan menjadi lega karena telah berhasil mengubah statusnya dari lajang menjadi menikah.

Perlu disadari bahwa keputusan untuk menikah adalah suatu keputusan besar. Anda akan menjalani sisa hidup Anda bersama pria yang Anda pilih ini. Dibutuhkan suatu komitmen untuk menjalani hidup dalam susah dan senang, komitmen untuk memahami bagaimana kepribadian pasangan Anda yang sesungguhnya, komitmen untuk mencari jalan keluar bila terjadi masalah, dan tentunya komitmen untuk saling membahagiakan. Artinya, dengan menikah Anda justru baru memasuki suatu babak baru dalam kehidupan Anda. Tak percaya?

Bila biasanya Anda mengurus diri sendiri, kini harus mengurusi suami, anak, dan ikut merawat dan membantu biaya perawatan mertua Anda sakit. Anda harus mampu mengelola keuangan agar mampu mencukupi kebutuhan pokok seperti biaya kesehatan, sekolah anak, cicilan rumah dan mobil, dan lain-lainnya. Anda juga masih harus berkompromi dengan suami yang ternyata memiliki perbedaan prinsip hidup. Begitu masa bulan madu berlalu, hal-hal itulah yang Anda hadapi dalam rutinitas sehari-hari.

Anda mungkin juga tak akan menyadarinya, namun akan ada masalah yang muncul bila Anda menganggap tujuan akhir dalam hidup Anda sudah terpenuhi dengan menikah:
1. Anda tidak merasa perlu lagi menghujaninya dengan perhatian, hal yang dulu selalu Anda lakukan untuk "mengikatnya".
2. Anda merasa tak perlu lagi merawat diri untuk memikat seorang pria, karena merasa sudah "laku". Akhirnya, penampilan Anda begitu asal-asalan. Anda tak peduli lagi dengan berat badan yang terus bertambah, muka kusam karena kelelahan, atau berpakaian seadanya.
3. Anda merasa berat dalam menjalani tanggung jawab Anda sebagai istri, menantu, dan ibu. Segalanya Anda anggap sebagai beban, sehingga membuat Anda stres.
4. Hal-hal baru yang Anda temui pada suami, seperti sifat-sifat dan kebiasaannya, Anda anggap sebagai jebakan, karena tidak Anda lihat saat belum menikah.
5. Anda mulai enggan bermesraan dengan suami, dari sekadar ngobrol hingga berhubungan intim. Apalagi jika Anda menikahinya hanya supaya bisa menikah.

Namun, Anda tidak perlu khawatir. Hal-hal di atas tidak akan Anda alami jika Anda telah memahami betul mengapa Anda menikah. Artinya, Anda telah mengetahui dan bersedia menerima semua tanggung jawab Anda sebagai istri maupun ibu. Sehingga, tugas dan tanggung jawab yang berat tersebut akan Anda jalani dengan senang. Karena bagaimana pun, tujuan menikah adalah mendapatkan kebahagiaan.

Aku dan Bapak.., Tak Ada..


Hampir setengah jam ku tercenung di depan layar Monitorku ini..
Yang nampak hanya kursor hitam yang sedari tadi berkedip di sudut kiri atas kotak putih ini..
Otakku blank, tak ada yang mampu ku tulis, pun hanya sebuah kalimat..
Entah kenapa akhir-akhir ini kepala ku dipenuhi sosok itu, bapak..
Sekian tahun ku hidup dan besar di tangan seorang ibu..
Limpahan kasih sayang darinya dan kakak-kakakku membuatku lupa bahwa aku tak punya bapak..


Entah kenapa baru kali ini ku merasa kehilangan lagi, sejak kepergiannya belasan tahun lalu, saat aku belum tahu apa-apa..
Kata kalian yang baru kehilangan bapak, kalian merindukannya..
Namun, aku bahkan tak tahu cara merindukan seorang bapak, apa yang aku harus rindukan darinya?
Aku tak paham..
Kalian katakan, sejak kepergiannya kalian butuh figure seorang bapak..
Bahkan bagaimana rasa memiliki bapak pun aku tak tahu..

Bagiku, bapak hanya ingatan masa kecil ku.. selebihnya, tak ada..
Ku coba mengingat tentangnya.. namun tak sedikitpun ku rasakan apa-apa..
Seperti apa rasanya di cintai bapak?
Bagaimana rasanya dilindungi bapak?
Senangkah dalam pangkuan bapak?
Apa rasanya di gendong seorang bapak?
Tak pernah terfikir oleh ku untuk membayangkan semua itu..
Bagiku, yang memiliki bapak hanya orang lain, aku memang di takdirkan hidup tanpa dia..
Mungkin karena Allah lebih sayang  padanya, hingga menghendaki bapak lebih dekat padaNya..

Aku ingat ketika kecil, hatiku sangat iri melihat teman-teman sekolahku, yang sangat girang ketika pengumuman kenaikan kelas, yang datang menerima rapornya adalah bapak mereka..
Sementara aku, walau selalu meraih rengking pertama di kelas, namun harus puas dengan kedatangan tanteku menerima raporku..

Juga ketika teman-temanku di ganggu oleh teman yang lain yang nakal, mereka akan menangis dan berteriak pada teman yang nakal, akan melaporkan pada bapaknya, dan hal itu mampu membuat temanku yang nakal itu menciut nyalinya dan menghentikan kenakalannya..

Namun aku ? kepada siapa ku harus mengadu dengan semua kenakalan mereka? Pada siapa ku akan meminta tolong ketika ku mengalami kesulitan seperti ketika kelas 3 SD ku disuruh membuat prakarya dari kayu untuk di pahat menjadi ‘lepa-lepa’ (perahu), teman-temanku tak sedikitpun terbebani, karena di rumah mereka ada bapak yang mampu menyelesaikan semua urusannya dengan mudah.. namun aku, aku harus bersusah payah mencari kayu sendiri, memotong dengan tangan kecilku yang akhirnya berakhir penuh luka dan tertusuk kayu.. 
sejak kecil ku harus mampu menyelesaikan masalahku sendiri.. mengahadapi teman-teman laki-laki yang suka menarik kepang rambutku, tanpa menangis, aku tak suka menangis, karena jika kalian menangis, mungkin ada tangan bapak yang menyekanya.. Namun aku, dengan menangis, membuatku tanpak semakin lemah.. Dan akhirnya aku harus mampu mengusap air mataku sendiri..

Walau ketika sedihku tak mampu lagi ku bendung, akupun memilih sudut kamarku dan meringkuk menangis di sana dengan bantal di mulut agar tante dan nenek tak tahu aku sedih..

Bapak, entah apa yang harus ku tulis tentangnya.. tak ada kenangan.. tak ada cerita..
Bahkan ku tak tahu bagaimana rasanya memiliki bapak..

*********************************************

Aztriana, Makassar