Rabu, 12 Oktober 2011

Bidadari Untuk Ikhwan Bagian Yang Ke-2

Yuk baca lagi.... Bagi yang belum baca BAG (1) Silakan Buka Page "Strawberry" Ini baca sebelum catatan  Bag (1) ^_^

Karya : Nurlaila Zahara

Waktu terus bergulir, roda kehidupan terus berjalan. Dengan rasa malas aku berjalan menuju ruang kamarku. Di rimah kontrakan yang kusam ini, rumah ini mengingatkan pada rumah yang ada didesa. Rumah tua, yang dihuni oleh Ayah, Ibu, dan Nurul adikku yang masih duduk dibangku SMU. Entah sekarang bagaimana keadaan Ayah dan Ibu, semoga mereka baik-baik saja. Aku juga kangen dengan Nurul, kangen saat bertengkar dengan Nurul.

Kuletakkan tas yang sudah lama berada dipunggung ini, sambil duduk dalam kasur kusam yang selalu menyangga dalam setiap tidurku.rasa penat melanda dalam setiap relung pikiranku, ditambah dengan rasa capek yang mendera ditubuhku. Ingin rasanya aku langsung terbuai dengan mimpi-mimpi indah. Mimpi-mimpi bertemu dengan para syuhada, dan bertemu dengan bidadari surga. Kalau mimpi yang kedua itu, pasti selalu ditunggu-tunggu. Saat aku lihat kaset IZIS (IzatullIslami) dengan bungkus dan segel yang belum terbuka. Karena memang baru aku beli kemarin, berada diatas tape Simbaku. Tape yang kubeli dengan menabung selama dua tahun, dan barang termahal pertama sampai saat ini yang bisa aku beli. Dengan santai aku ambil kaset itu, serta membuka bungkus dan segel kaset lalu memasukkan kaset kedalam tape.

“Dimana dicari pemuda kahfi
Terasing demi kebenaran hakiki
Dimana jiwa pasukan badar berani
Menoreh nama mulia perkasa abadi

Umat melolong digelap kelam
Tiada pelita penyinar terang
Penunjuk jalan kini membungkam
Lalu kapankah fajar kan datang

Mengapa kau patahkan pandangmu
Hingga musuh mampu membobol bentengmu
Menjarah menindas dan menyiksa
Dan kita hanya diam sekedar terpana”

Sayup suara nasyid IZIS, serta hembusan kipas angin mini. Membuatku melayang jauh dan terbang, terbang bersama segerombolan cahaya-cahaya yang terang. Tak seberapa lama suara “Assalamu’alaikum”

Dengan lirih aku menjawab sambil tersenyum “Wa’alaikumsalam”. Aku benar-benar merasa dalam segerombolan keindahan-keindahan yang datang padaku, datang dan saling berpelukan, memelukku erat, pelukan persaudaraan yang sangat erat dan kental. Tak lama aku mendengar suara
“Akh, Akhi! Bangun. Sudah jam empat sore! Bangun, Akh. Apa antum sudah sholat ashar!”

aku mencoba untuk membuka mata, tapi mata ini terasa sangat berat untuk membukanya. Dan tubuh ini beran-benar sangat payah, serta sangat susah untuk digerakkan. Tak seberapa lama, aku pun bisa mengontrol diri. Ternyata Yanto sudah berada dikamarku. Sambil melihat kaset baruku, IZIS.
“Hem antum mengagetkan ana aja, akh!” ucapku dengan rasa yang sangat malas sambil bersandar pada dinding kasur yang terlihat cat-catnya mengelupas.

“Antum tadi jawab salam ana, tapi ana liat antum masih memejamkan mata!” jawab Yanto sambil membolak-balikkan kaset IZIS.

“Loh! Jadi antum tadi, yang salam! Ana kira itu salamnya cahaya-cahaya indah yang baru ana lihat tadi” jawabku sambil mengusap-usap mataku.

“Iya itu ana! Wah, antum bermimpi apaan akh? Nggak bermimpi ketemu bidadari di surga kan?” Jawab Yanto dengan senyum.

“Antum ini ada-ada saja, Akh! Antum dari mana, kok jam segini baru pulang?” tanyaku.

“Ana, dari ikut kajian! Biasalah, hari ini ana kan Liqo’!” ucap Yanto. Setelah itu dia melanjutkan perkataannya “Akh, antum punya kasetnya IZIS yach? Wah pasti boleh dipinjam nich!”

“Antum satu rumah kok pake’ pinjam-pinjam segala! Kalau mau pinjam ya ambil aja, tapi setelah itu dikembalikan, jangan seperti biasanya! Atau antum putar di tape ana aja, tape antum kan rusak akh!” ujarku smbil beranjak untuk berwudhu.

Tak lama setelah aku berwudhu, terdengar IZIS mengumandang keras.

“Berkobar tinggi panaskan bumi
Membakar ladang dan rumah kami
Darah syuhada mengalir suburkan negri
Tiada kata lagi…
Kami harus kembali!”

Saat aku lihat, ternyata Yanto memutar kaset IZIS sambil bernasyid dan mengepalkan tangannya dengan bersemangat. Sungguh memang luar biasa, nuansa yang ditimbulkan oleh nasyid. Nasyid bukan seperti lagu Islam lainnya, nasyid adalah ruh dari setiap perjuangan para mujahid. Nasyid tidak seperti lagunya Gigi, yang mengumandang keras tetapi tidak bersemayam dihati. Apalagi nasyid bukanlah seperti lagu-lagunya Dewa, yang bernada sombong seperti pemainnya. Nasyid bukanlah seperti lagu-lagu lainnya, karena nasyid punya pembeda, pembeda dari lagu cengeng percintaan yang memabukkan.

“Akh, tolong kecilkan! Ana mau sholat” pintaku

“Akh, biar sholat antum lebih semangat lagi, jadi biar saja nasyid ini berkumandang keras” ucap Yanto yang tetap mengangkat tangan sambil mengepalkannya.

“Akh, ternyata antum perlu diruqyah kalau gitu! Jangan-jangan ada jin bersemayam ditubuh antum” gumamku kesal.

“hehe… afwan akh, tadi kan cumin bercanda!” jawab yanto dengan mengecilkan suara tape.

Aku menggelar sajadah, bersiap untuk menghadap sang Khalik. Menghadap sang Maha pemaaf. Menghadap sang Maha dari segala Maha yang ada dialam semesta ini.

***

Cuaca diluar sangat cerah, terasa mentari tersenyum dengan sinarnya. Panasnya tidak terik, tetapi tidak pula mendung. Udara tidak panas, dan tidak pula dingin. Cuaca benar-benar sangat bersahabat. Terbukti, banyak sekali hilir mudik orang-orang yang lewat kontrakanku, terlihat wajah-wajah yang segar. Wajah-wajah yang siap menghadapi hari yang lebih baik. Insya Allah.

“Akh, kok antum nggak siap-siap? Apa nggak ada kuliah!” Tanya Heri.

“Ana ada bimbingan jam Sembilan! Jadi sekarang bisa nyantai-nyantai dulu” ucapku

“Wah yang lagi mau kelar kuliahnya, udah bersiap-siap nggak akh?” Tanya Heri, sambil menyeruput teh hangatku.

“Emang maksud antum apa akh? Bersiap-siap untuk apa?” jawabku.

“Iya, berusaha bersiap-siap untuk melanjutkan sunnah Rasulullah! Menyempurnakan agama kita”

“Sunnah Rasulullah! yang mana?” tanyaku heran.

“Akh, antum kayak nggak tahu aja! Itu loh akh, sekretaris antum dulu, perlu diselamatkan!” ucap Heri serius.

“Ha…? Maksud antum apa sich, akh?” tanyaku penasaran.

“Antum harus menyelamatkan ukhti Farah dari fitnah dunia. Juga dari orang-orang jahil yang ingin menjahilinya! Jadi antum harus cepat menyelamatkan ukhti Farah! Nikahi ukhti Farah” jawab Heri sambil tertawa.

Dengan tersenyum aku menjawab “Antum itu ada-ada aja! Kenapa bukan antum saja yang menyelamatkannya!”

Heri tertawa sambil mengatakan “Akh, kalau ana sich gampang! Tapi ana mempersilahkan senior dulu. Dan lagi, ukhti Farah kan termasuk jajaran-jajaran bidadari Allah yang bisa dibilang sempurna! Apa antum nggak tertarik dengan ukhti Farah?”

“Akh, udah nggak usah seperti itu! Ukhti Farah itu wanita yang paling sempurna. Makanya ana takut mendekati wanita-wanita sempurna, seperti akhwat yang satu itu” jawabku sekenanya.

“Antum takut apa minder! Udah, ana berangkat dulu. Ana takut terlambat. Assalamu’alaikum” jawab Heri sambil tertawa, sambil ngeloyor pergi.

“Wa’alaikumsalam” jawabku sambil tersenyum.

Ukhti Farah, akhwat yang bisa dibilang sempurna. Semua terdapat pada keagungan wanita, berada padanya. Aku tidak melihat kecantikan wajahnya, sebelum aku melihat kelembutan hatinya. Aku memang belum pernah melihat wajah ukhti Farah, aku hanya mendengar keagungan kecantikannya dari teman-teman kuliahku. Teman-teman yang masih meninggikan kecantikan wajah, teman-teman yang masih belum tertarbiyah. Tetapi saat dia menjadi sekretarisku pun, aku masih belum tahu kecantikan wajahnya. Yang aku tahu, sungguh benar-benar kecantikan yang sempurna saat aku mengetahui sikap dia. Dan mulai dari situlah aku benar-benar tidak membutuhkan lagi kecantikan wajahnya, aku tidak butuh lagi mengetahui wajah cantiknya. Aku tidak butuh lagi kecantikan pada jasadnya. Yang aku butuhkan, adalah kecantikan seorang wanita pada dalam dirinya, pada tanggungjawabnya sebagai wanita. Yaitu wanita yang mempelihara aurat-auratnya atas fitnah dunia.

Banyak akhwat yang aku kenal, tetapi memang tidak sesempurna ukhti Farah. Dulu saat aku masih senang dengan cara jahilia, yaitu mengetest akhwat. Banyak akhwat yang sering aku telephone. Dan banyak juga, akhwat yang dengan nada santai tetapi bebar-benar menghanyutkan. Bicaranya santun, tetapi topik pembicaraannya tidak pantas untuk dibicarakan oleh seorang akhwat apalagi kader dakwah. Ada lagi seorang akhwat yang tergesa-gesa menjelaskan sesuatu masalah, lebih-lebih lagi si akhwat memposisikan dirinya sebagai orang yang paling tahu dan paling beriman. Ada juga akhwat yang menjelaskan agama Islam, tetapi si akhwat menjelaskannya layaknya seorang marketing. Sungguh memang benar-benar lucu. Dan kadang pula menjengkelkan dengan para akhwat yang sok suci dan sok yang paling tahu itu. Tetapi itu dulu. Saat terakhir aku menelphone ukhti Farah. Selesailah sudah perjalanan mengetest kemampuan para akhwat. Dengan nada bicara yang santun, topik yang bagus dan bisa memposisikan dirinya sebagai seorang yang sama dengan laman bicaranya. Setelah itu, sebuah nasehat yang bagus dari ukhti Farah.
“Afwan, akh! Ana merasa, antum bukanlah ikhwan yang belum tertarbiyah. Ana takut antum adalah ikhwan yang senangnya mengetest akhwat. Ana Cuma mau berpesan kepada antum, sebaik-baik muslim itu adalah seorang yang bisa menghormati muslim satu dengan muslim yang lainnya. Dan bukan saling mengetest kemampuan kepintarannya!”

Saat itulah, akhirnya aku benar-benar paham. Bahwa sesungguhnya, sakitlah hati seseorang manakala seseorang itu merasa dikerjain oleh saudaranya sendiri. Akhirnya, aku tidak pernah lagi mempunyai keinginan untuk mengetahui tingkat kemampuan saudaraku sendiri. Biarlah tingkat kemampuan dalam kepintarannya yang akan membimbing dia menjadi seorang muslim yang sejati. Seorang muslim sejati tidak akan memposisikan dia sebagai orang yang paling pintar dan beriman, seorang muslim sejati tidak akan tergesa-gesa dalam menjelaskan suatu hal, seorang marketing produk. Karena Islam adalah agama perbuatan, maka perbuatanlah yang akan mencontohkan muslim yang baik atau muslim yang buruk.

Sejak saat itu memang benar-benar tertarik dengan ukhti Farah, bukan tertarik karena wajahnya. Tapi aku tertarik dengan keteduhan bahasa bicaranya, keteduhan yang mungkin membuat manusia benar-benar ingat akan adanya siksa neraka. Sungguh benar-benar wanita yang sempurna. Tapi aku sadar bahwa aku bukanlah ikhwan yang pantas untuk dia. Untuk wanita sesempurna ukhti Farah.

***

“Gimana Lid, dosen pembimbing kamu! Enak nggak?” sapa Hendra, teman kuliahku dari belakang sambil menepuk pundakku. Saat sedang berjalan menuju fakultasku.

“Eh, kamu Hen! Tak kira siapa” jawabku sambil tersenyum.

Dia tersenyum lalu berkata “Hem, dosen pembimbingku, nggak enak Lid! Masa aku kalau mau ketemu harus janjian dulu. Dan nggak pernah ada diruang dosen”

“Hem emang siapa, dosen pembimbing kamu Hen?” tanyaku sambil berjalan.

“Itu, Pak Hartono!” jawab Hendra.

“hem, pantes Hen! Pak Hartono kan super sibuk. Tapi enak loh Hen, Pak hartono kan orangnya sabar banget!” terangku.

“Iya sich, tapi kalau gini terus aku nggak akan tepat waktu mengerjakan skripsiku” keluh Hendra dengan wajah terlihat pasrah.

“Ya, nggak gitu Hen. Kalau kamu janji dulu sama beliau, kan beliau nanti bisa menyesuaikan jadwalnya” sergahku sambil tersenyum.

“Hem,” Hendra manggut-manggut. “oh yach, dosen pembimbingmu siapa Lid?”

“Dosen pembimbingku, Pak Susilo!” jawabku sambil tersenyum.

“Ha… Pak Susilo! Yang bener kamu Lid?” Hendra memandangku tak percaya.

“Iya. Pak Susilo! Kenapa?”

“Jadi kamu, satu-satunya mahasiswa yang dosen pembimbingnya pak Susilo!” Hendra masih terlihat tidak percaya.

Aku tersenyum sambil menjawab “Iya…!”

“Ha…! Kamu mau dibimbing si Prof Killer itu? Apa kamu dulu nggak milih pembimbing?”

“Aku memang milih Prof. Susilo Nugroho! Kasihan beliau nggak ada yang milih” gumamku sambil tersenyum.

“Kamu gila, atau gimana sich Lid? Milih kok yang killer kaya dia” ucap Hendra sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Sebenarnya sich, aku milih Pak Susilo karena dia kan guru besar di fakultas kita! Apalagi dia kan juga guru besar di Universitas ini. Jadi aku beruntung Pak Susilo mau menjadi pembimbimngku” kilahku sembari tersenyum bangga.

”Sekarang kamu ada keperluan apa kekampus? Apa ikut SP (Semester Pendek)?” Tanya Hendra.

“Hem sorry kalau Khalid ikut SP! Aku kan mau ketemu sama dosen pembimbing yang baik hati” jawabku sambil tersenyum.

“Ok deh, met ketemu sama Prof killer itu! Lid aku mau kekantin dulu yach.” Ucap Hendra sambil menepuk pundakku.

“Ok.”

Kantor dosen sudah terlihat didepan mata, tinggal beberapa langkah aku sudah masuk dikantor yang dipenuhi pembimbing-pembimbing intelektual.

“Permisi,mbak! Pak Susilo sudah dating belum?” sapaku pada mbak Dina, pengurus secretariat.

“Ada, Lid. Masuk aja! Pak Susilo dimejanya” jawab mbak Dina.

“Terima Kasih, mbak!”

Aku langsung menuju mejanya Pak Susilo. Benar Pak Susilo sudah berada di mejanya, sedang mengerjakan sesuatu. Hatiku berdegup tak beraturan. Ini pertama kalinya aku berhadapan langsung dengan Pak Susilo.

“Selamat siang, Pak!” sapaku.

Dia menatap dingin padaku sembari menjawab sapaanku “Siang!” selanjutnya bertanya dengan tatapan yang dingin “Ada perlu apa?”

Jantungku saat itu benar-benar berdegup kencang, layaknya seorang ikhwan yang sedang ditawari Murrabi untuk menikah. Bertemu dengan pakar hokum yang satu ini, membuatku merasa sangat canggung. Bagaimana tidak canggung, Pak Susilo merupakan tertua dari para dosen hukum di fakultasku. Dan beliau merupakan dosen yang tidak diragukan kemampuannya. Selain kemampuannya, yang membuat dia benar-benar disegani oleh semua mahasiswa dan dosen difakultasku, adalah ketegasannya dalam hal apapun. Termasuk masalah nilai. Pak Susilo tidak dapat di ganggu gugat masalah nilai. Di fakultasku banyak sekali dosen yang mudah merubah nilai, entah karena apa mereka dapat merubah nilai. Tapi untuk Pak Susilo, sebuah nilai ujian tidak dapat diganggu gugat, dan tidak dapat dirubah. Aku benar-benar senang dengan prinsip dosen yang satu ini. Karena, meskipun aku jarang sekali mengikuti perkuliahan beliau. Tetapi aku tetap bisa mengerjakan ujian-ujian yang diberikan oleh beliau. Dan nilaiku bisa dikatakan sangat memuaskan. Karena saat itu aku memang sangat sibuk dalam organisasi, sehingga jarang sekali aku masuk kuliah. Tetapi aku tetap mempelajari semua mata kuliah. Sehingga aku tidak ketinggalan dengan mahasiswa yang lainnya.

“Saya Khalid, Pak!” jawabku tenang.

“Hem jadi kamu, mahasiswa yang sok pintar itu yach!” ucap pak Susilo sinis.

Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kecut. Jantung ini semakin berdegup kencang. Apalgi kata-kata Professor Killer ini benar-benar menyakitkan.

“Khalid, mahasiswa yang sukanya menuntut. Mahasiswa yang sukanya demonstrasi. Mahasiswa yang sukanya menantang para dosen. Apalagi sok idealis!” Pak Susilo berkata tanpa melihatku, sambil merapikan beberapa berkas-berkasnya.

Darah muda mulia memuncak. Ucapan sang professor sudah tidak dapat didiamkan. Keras sekali penghinaan padaku. Saat aku akan mengucapkan sesuatu, Pak Susilo berdiri sambil menghadapku. Dengan nada mengejek “baik, kalau kamu ingin saya menjadi dosen pembimbing kamu! Saya ingin sekarang juga, memberikan soal kuis kepada kamu. Jika seandainya jawaban kamu tujuh puluh persen banar, maka saya bersedia. Tetapi jika kurang dari itu, maka saya akan bilang ke dosen-dosen yang lain untuk tidak menerima seorang mahasiswa yang hanya suka omong besar!”

Aku benar-benar tertantangdengan ucapan Pak Susilo. “baik, saya siap!” jawabku enteng.

Terlihat pak Susilo masih memandang sinis kearahku.

Dalam hati aku berfikir, bahwa ini saatnya aku menunjukkan kemampuanku didepan dosen secara langsung. Aku ingin membuktikan, meskipun aku jarang mengikuti kuliah, tapi aku tetap bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh para dosen. Meskipun aku tidak pernah masuk, bukan berarti aku tidak kuliah, apalagi tidak bisa mengerjakan soal-soal kuliah. Kuliah hanya aku anggap sebagai alat mengambil ijazah saja, karena kuliah yang sebenarnya adalah mendapatkan pengetahuan dari sumber manapun. Dan inti dari kuliah adalah belajar. Jadi, bukan berarti orang yang tidak kuliah tingkat keilmuannya rendah. Apalagi menganggap bahwa orang yang tidak kuliah, tidak belajar.

Pak Susilo memberikan lembaran kertas yang berisi soal-soal kepadaku. “Ini kerjakan! Saya kasih kamu waktu satu jam” ucap Pak Susilo tegas.

Pak Susilo duduk tak jauh dari hadapanku. Dengan tenagng aku mengambil kertas itu, santai aku mengerjakansoal-soal yang diberikan pak Susilo. Meskipun memang banyak soal-soal yang sulit, tetapi aku tetap yakin bahwa aku bisa mengerjakannya. Sebuah pertaruhan yang sangat berat, antara sebuah nama baik, nilai dan soal-soal ujian. Jikalau aku tidak bisa mengerjakan soal-soal itu, yang akan terjadi adalah sebuah petaka buruk bagiku apalagi untuk organisasi dan teman-teman yang sangat mempercayaiku.

“Baik, waktu sudah habis!” ucap pak Susilo mengagetkan aku.

Untung semua yang aku kerjakan sudah selesai, tetapi entah benar apa tidak. Aku tidak tahu, hanya Allah swt dan pak Susilo yang tahu. Kertas soal dan jawaban aku serahkan. Dengan teliti sekali pak Susilo memeriksa jawaban soal-soal kuis. Wajahnya terlihat sangat dingin, dan terkesan sangat acuh sekali. Berkali-kali terlihat pak Susilo menggeleng-gelengkan kepala, sambil terlihat kecewa. Aku hanya diam, menatap kosong kedepan. Menyesali kesombongan, kesombongan yang membuat aku jatuh pada lubang yang tak termaafkan, kesombongan yang membuat harga diriku runtuh terpunggirkan dalam jiwa yang tak tenang.

“KHALID!” ucap pak Susilo dengan mengeraskan suaranya, aku sedikit kaget waktu itu. Setelah itu pak Susilo berkata “Hem, ternyata benar. Aku sangat meragukan kemampuan kamu. Ternyata kemampuanmu, lebih dari yang saya bayangkan!”

Aku masih diam, tidak mengerti tetntang ucapan pak Susilo.

“Khalid, aku memang sudah menduga. Bahwa kamu memang mahasiswa yang brilian, saat banyak dosen-dosen yang meragukan kemampuanmu dalam menerima perkuliahan. Saya mengetahui kamu memang mahasiswa pintar. Jadi, akhirnya saya yakin bahwa kamu benar-benar mahasiswa yang pintar” ucap pak Susilo dengan tersenyum puas. Selanjutnya pak Susilo melanjutkan ucapannya “sekarang, kamu bisa menunjukkan judul skripsi yang akan kamu pakai”

Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar, ucapku berulang-ulang dalam hati. Sungguh tiada suatu yang menggembirakan dalam hati kecuali, seorang professor yang merekomendasi ilmuku. Merekomendasi tentang apa yang aku peroleh dari belajarku. Aku merasa benar-benar memenangkan sebuah pertarungan. Memenangkan sebuah pertarungan yang mempertaruhkan sebuah kehormatan. Memenangkan sebuah pemikiran baru, bahwa kuliah bukan berarti harus kuliah.

“Perspektif hukuman mati dalam Hukum Pidana Positif dan Hukum Islam” jawabku.

Sambil mengernyitkan dahinya pak Susilo berkata “hem, kayaknya bagus. Apa kamu sudah dapat bahan-bahannya?”

“hem, Insya Allah sudah pak! Tinggal diketik” ucapku mantab.

“Ok, saya tunggu! Saya sudah percaya dengan kamu, dan saya tidak meragukan kemampuan kamu” ucapnya tegas.

“Baik pak, kalau gitu saya permisi dulu!”

“Baik, saya akan tunggu hasil-hasil yang sudah kamu tulis”

Setelah berdiri, aku langsung berpamitan. Tetapi saat aku akan berpamitan. Pak Susilo, memanggilku “Khalid, saya orang Islam! Perlakukan saya seperti orang Islam”

“Oh maaf pak, Assalamu’alaikum” ucapku saat berpamitan.

Pak Susilo tersenyum sambil menjawab “Wa’alaikumsalam”

Tekad maju penuh kemenangan, senandung nasyid kunyanyikan dalam hati
“Langkah ini langkah-langkah abadi
Menapak gagah laju tanpa henti
Langkah ini langkah-langkah abadi
Menapak gagah laju tanpa henti”

Sebuah kemuliaan yang di berikan oleh Allah Azza wa jalla. Pada para mujahid dan mujahidah yang melaju menegakkan kebenaran menyingkirkan kebathilan. Dan Allah pasti akan menolong hambanya yang telah berjuang didalam agama-Nya.

Nantikan selanjutnya di Bidadari Untuk Ikhwan (BAG. 3)…

bidadari-untuk-ikhwan-bagian Pertama

 Karya Fajar Agustanto
“Akhi Khalid, antum sudah shalat dzuhur?” aku tebangun dai lamunanku saat Andi teman satu LDK (Lembaga Dakwah Kampus) menepuk pundakku.

“Akh, antum mengagetkan ana aja! Oh ya, ana belum shalat dzuhur nich!” aku menjawab sambil memakai tas ransel hitamku kembali, yang saat itu masih tergeletak dilantai.

“Akh, kalau gitu ayo kita ke masjid sekarang!” ajak Andi.

Aku hanya menganggukkan kepala, sambil berdiri dan berjalan menuju masjid kampus yang jaraknya tidak begitu jauh dari fakultasku.

Hem, nikmat benar air wudhu yang membasahi kulit-kulitku ini. Terasa semua ringan dalam membasuh semua kotoran-kotoran dunia. Iqhomat sudah mengumandang, tanda sholat akan dimulai.
“Benar-benar cantik, wanita tadi! Siapa dia? Aku baru melihatnya sekarang!” lamunku.

“Allahu Akba!” aku tersentak saat Imam mengucapkan takbir rukuk.

“Masya’ Allah, aku sedang sholat!” sertamerta pun aku langsung membuang jauh-jauh pikiran yang telah menjauhkan aku dari kekhusyu’anku dalam sholat.

***

Kebutuhan rohaniku telah aku laksanakan, sekarang waktunya untuk kebutuhan jasad ini. Dholim, jika aku mengacuhkan tubuh ini.
“Akhi, antum sudah makan?” tanyaku pada Ridwan teman satu LDK, yang sedang duduk-duduk di serambi masjid.

“Ana, belum makan Akh! Kenapa, Mau ngajak makan? Tapi ingat Akh, ana kalau makan ngga suka kalau dikantin kampus kita ini!” ucap Ridwan.

Aku tersenyum sambil mengatakan “ngga suka, apa kemahalan?”

“hehehe, antum sudah tahu rahasianya yach!” Ridwan mengatakan sambil tertawa.

“Kita kan sama-sama mahasiswa, tahulah yang dipikirkan! Dan kita kan Al-Ikhwan (saudara)! Jadi kita harus lebih mengetahui keadaan saudaranyasendiri!” kataku sambil bernada sok mengejek.

Ridwan tertawa sambil mengatakan “antum ini, ada-ada saja! Benar juga, kita Al-Ikhwan (saudara) jadi harus lebih tahu! Sekarang, Antum harus tahu kalau ana lagi boke’! Jadi antum harus mentraktir ana!”

“AKh, antum! Kapan punya uangnya? Boke’ kok terus! Ok lah, sekarang ana traktir” kataku sambil tertawa dan mengajak Ridwan disebuah warung. Tentunya yang murah dan enak.

***

Hem, sepi sekali di kontrakan! Mungkin teman-teman masih ngisih kajian atau mengikuti kajian pikirku dalam hati. Aku merogoh saku celana, mencari kunci kontrakan. “Ini dia!” kataku. Aku buka pintu sambil berucap salam, tetap tidak ada yang menjawab salamku. Mungkin memang tem an-teman masih aktif dalam kegiatan masing-masing. Biasanya kalau jam-jam tidur siang ini, teman-teman masih aktif untuk berdakwah. Biasanya Yanto, Deni, Heri, dan Samsul selalu pulang sore, karena banyaknya aktifitas di SKI (Sie Kerohanian Islam) fakultas mereka. Alhamdulillah kegiatanku sekarang sudah tidak sepadat mereka, mungkin teman-teman mengerti kalau aku sekarang lebih di sibukkan rencana untuk mengerjakan skripsi. Sehingga amanah-amanah dakwah, tidak begitu banyak dibebankan kepadaku. Dulu, saat masih banyak-banyaknya aktifitas dakwahku. Aku banyak sekali mempunyai binaan, mulai dari kajian anak-anak SD, SMP, SMA, anak-anak jalanan sampai kajian para preman yang sudah tobat. Tapi Alhamdulillah sekarang lebih berkurang, sekarang aku han ya mengisi kajian ditempat para preman saja.

Pernah suatu hari, aku meminta tolong teman-teman untuk mengisi kajian para preman. Ternyata teman-teman banyak yang belum siap untuk mengembangkan dakwah dikalangan para preman. Sehingga kajian untuk para preman, masih tetap aku yang mengisi. Memang sangat unik sekali saat bertemu dengan preman-preman itu, saat-saat pertama mengenal mereka. Entah apa yang membuat para preman ini sadar, akan pentingnya mengenal Islam lebih dalam. Perjumpaan yang sangat unik, saat aku mengisi kajian ditempat anak-anak yang kurang beruntung, aku berjalan sendirian diperkampungan kumuh itu.

Disebuah pinggiran kali, aku berpapasan dengan tiga para preman. Mereka melihatku dengan tatapan yang tajam, seakan aku adalah mangsa yang siap untuk diterkam, dan tentunya sangat lezat. Jantungku berdetak kencang, aku merasakan ketakutan saat berhadapan dengan para preman. Tak pelak akupun beristighfar dalam hati dan meminta perlindungan kepada sang Maha Pelindung. “Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman (Ali Imran 175).” Aku teringat dengan apa yang difirmankan Allah, sungguh dahsyat apa yang kurasakan setelah mengingat Ali Imran ayat 175. Tubuhku seakan siap menjadi tentara Allah yang akan menghadang para segerombolan kaum Bani Israil.

“Hai kamu! Kesini” teriak salah satu preman itu, memanggilku.

Dengan santai akupun mendatangi ketiga preman itu ”ada apa Bang?” jawabku.

“Jadi ini yach, Guru ngaji itu!” ucap salah satu preman yang berada di tengah.

“Iya Bos, dia salah satu dari guru ngaji itu!” jawab salah satu preman disebelahnya.
Aku hanya diam dan menatap mereka, serta siap siaga jika mereka akan berbuat sesuatu kepadaku.

“Apa benar kamu guru ngaji, yang ngajar digubuk sana?” Tanya preman yang dipanggil Bos, dan kemungkinan dia memang Bos preman didaerah kumuh ini.

“Iya benar!” jawabku singkat dan mantap, sambil sedikit menganggukkan kepala.

“Hem, aku sudah mendengar kelakuan kalian pada anak-anak disini!” ucap si Bos preman itu. “apa kamu ngga takut, sama kami!” ucapnya lanjut, dengan sedikit agak membentakku.

Saat itu aku hanya sedikit tersenyum lalu mengatakan “maaf kalau saya mengganggu atau ada kelakuan saya dan teman-teman yang tidak mengenakka, kami mengajar kesana hanya untuk meningkatkan keilmuan anak-anak, serta mencari pahala yang dijanjikan oleh Allah swt! Tidak ada maksud lain selain itu.” Ucapku tenang dan tegas.

“Jadi, kamu memang benar-benar tidak takut pada kami!” Bos preman itu membentak keras kepadaku.

“Maaf, bukan bermaksud seperti itu! Saya dan teman-teman, mengajar dengan keIkhlasan. Bukan mencari permusuhan!” jawabku mencoba untuk menenangkan mereka.

“Dasar bocah. Kamu sudah berani menginjak daerah kami!” ucap salah satu preman yang berambut gondrong.

“Sudah sikat saja!” ucap preman yang berbadan ceking, bevambut cepak sambil langsung bergerak mengepungku, tidak terkecuali preman berambut gondrong itu. Si Bos preman hanya melihat dan diam saja.

Darah sudah mendidih, luapan emosi sudah menerjang pada ketiga preman itu. Aku juga sudah bersiapsiaga menerima serangan dari kedua preman itu.

“Tak ada yang saya takuti selain Allah swt, jikalau saya mati disini! Maka akan banyak tentara Allah yang akan menghajar kalian! Dan saya syahid dijalan-Nya” ucapku keras.

Saat si preman gondrong akan menyerang, terdengar teriakan keras “HENTIKAN”. Kami menoleh pada Si bos preman itu. “Sudah, hentikan!” perintahnya lagi.

Aku masih bersiapsiaga jika sewaktu-waktu meveka menyerangku.

Si Bos preman itu mendatangiku, lalu dia tersenyum sambil berkata “Hai anak muda, siapa namamu?”

“Khalid, Khalid Hendriansyah!” ucapku tenang dan tetap tegas.

“Baru kali ini, saya berhadapan dengan anak muda yang berani!” ucap Si bos preman, selanjutnya dia mengatakan “sebenarnya beberapa kali, ada anak muda yang mengajarkan ngaji pada anak-anak diperkampungan kumuh ini. Tetapi mereka adalah anak muda yang munafik, mereka mengatakan kebesaran Tuhannya tetapi mereka menakuti manusia. Mereka takut pada kami, para preman! Saat aku melihat kamu, aku ingin menguji keberanianmu, aku ingin menguji keimananmu, ingin menguji kekuatan kepercayaanmu kepada Tuhanmu. Dan menguji, apakah kamu dari golongan anak muda yang munafik itu? Sungguh lua biasa keberanianmu, engkau tak takut akan kematian. Bahkan engkau mencari kematian, kematian diatas nama Tuhanmu! Dan ternyata kamu bukan dari golongan anak-anak muda yang munafik itu.”

Nih preman gak tau kali ya, kalau aku sebenarnya juga takut! Tapi Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah swt, rasa takutku pun menjadi sebuah keberanian. Ucapku dalam hati.

Si Bos preman mendekat kepadaku, lalu menepuk pundakku sambil mengatakan “hai anak muda, kami tidak ingin ada orang yang mengajarkan anak-anak kami tentang bagaimana mengenal Tuhan, sedangkan dia sendiri tidak mengenal-Nya. Kami ingin anak-anak kami di didik oleh orang-orang yang memang mengerti tentang Tuhan. Tidak takut akan ancaman manusia, tetapi dia lebih menakuti ancaman-ancaman Tuhannya. Sehingga anak-anak kami nantinya, menjadi seorang pemberani dalam hidup. Dan termasuk dari golongan orang-orang yang shaleh.” Si bos preman itu memandangi aku, layaknya berharap kepadaku, berharap tentang ajaran kebenaran. Berharap akan datangnya cahaya keIlahian. Setelah itu Si bos berkata “Khalid, jangan kamu kira bahwa kami tidak peduli dengan masa depan anak-anak kami! Kami berpenampilan seperti ini, karena kami ingin melindungi daerah ini, dari preman-preman yang lain! Dengan seperti ini kami lebih leluasa untuk bergerak.”

Aku tersenyum saat Si bos preman itu menatap tajam penuh makna, penuh pengharapan dari orang yang menginginkan kebenaran. “Insya Allah, saya akan mendidik anak-anak dilingkungan sini dengan ilmu yang pernah saya dapatkan! Saya hanya menginginkan keridhoan Allah saja dalam berjuang, bukan yang lainnya.” Ucapku.

“Terima kasih, Khalid! Dan jika kamu butuh apa-apa silakan panggil kami.” Ucap Si bos preman sambil akan beranjak pergi.

Saat dia akan beranjak pergi, serta merta aku pun langsung memanggil Si bos “maaf, saya belum tau nama Abang!”

Si bos preman membalikkan tubuhnya menghadap aku, dia tersenyum sambil menjawab “Panggil aku, Jamal! Sampai jumpa Khalid”

Saat hendak Si bos preman alias Bang Jamal melangkah meninggalkanku, aku berteriak “Assalamu’alaikum, Bang”
Bang Jamal menoleh, sambil tersenyum dan menjawab “Wa’alaikumsalam” setelah itu dia pergi.

Aku tertegun sesaat, pikiranku menerawang mengingat apa yang dikatakan Bang Jamal “Kami tidak ingin ada orang yang mengajarkan anak-anak kami tentang bagaimana mengenal Tuhan, sedangkan dia sendiri tidak mengenal-Nya.” Sungguh luar biasa apa yang diucapkan Bang Jamal. Tiada kata yang seindah dengan pengingatan keras, seperti apa yang diucapkan Bang Jamal. Sungguh aku benar-benar takut, takut jika tidak dapat mengemban amanah ini. Sebuah ucapan yang harus diperhitungkan, meski ucapan itu diucapkan oleh orang-orang jalanan atau bahkan seorang preman.

Tiada hal yang harus kita singkirkan, dari pernyataan seorang preman yang begitu agung. Mungkin pernyataan Bang Jamal, layak disetarakan dengan Aristoteles atau mungkin Imam Ghazali, sungguh pernyataan yang tidak dapat diduga dari mulut seorang yang masih tidak begitu mengenal tentang kebenaran dari Tuhan. Tapi tetap, Bang Jamal adalah Jamal, bukan Aristoteles atau bahkan Imam besar Al Ghazali.

Yang aku tahu, dijaman seperti sekarang ini pernyataan yang diucapkan oleh Bang Jamal sangat langka. Kita lebih banyak tahu, tentang orang-orang yang selalu berpikiran sempit tentang ajaran-ajaran kebenaran seperti ini, Islam. Apalagi menganggap bahwa, anak-anak yang mempelajari agama Islam, adalah anak-anak yang ketinggalan jaman. Mereka mungkin lupa dengan apa yang dikatakan Imanuel Kant, bahwa tingkatan paling tinggi dari estetika dan etika, dari derajat manusia adalah rasa keimanan yang tinggi terhadap agamanya (religious).

Setelah aku kenal Bang Jamal, terjadi banyak hal yang memang membuatku kagum dengan dia. Sosok preman yang satu ini memang beda dengan preman-preman yang lainnya. Dia tidak pernah meminta uang apapun didaerah kekuasaannya, apalagi hanya sebatas uang keamanan. Tetapi tetap kerjanya Bang Jamal, jadi bodyguardnya pemilik hotel. Kata Bang Jamal sich, pemilik hotel itu takut, takut kalau ada yang bikin gara-gara dihotelnya. Jadi akhirnya Bang Jamal yang diminta perlindungannya.

Sungguh memang ironis dinegara kita ini, pava penegak hukumnya sudah tidak lagi dapat diandalkan sebagai penegak hukum yang sebenarnya. Hingga akhirnya orang-orang yang punya uang pun, lebih aman dijaga preman dan satpam. Setelah sering bertemu, akhirnya aku beranikan diri untuk mengajak Bang Jamal bikin kajian khusus para preman-preman. Luar biasa tanggapan Bang Jamal, ternyata sangat menerima sekali ajakan itu “ini yang ditunggu-tunggu dari dulu, jarang ada pengajian buat para preman!” ucap Bang Jamal saat itu.

Tiada hal yang dapat menggembirakan hati ini, kecuali ajakan untuk berbuat baik disambut dengan kebaikan pula. Sejak saat itulah, aku sering mengisi kajian para preman-preman. Dan akhirnya tahu, nama-nama preman diwilayahku sendiri.

Lambat laun kajian para preman yang aku adakan semakin ramai saja, karena para preman ini sering mengajak teman-teman preman lainnya untuk ikut ngaji juga. Beberapa preman yang masih baru mengikuti kajian, banyak yang canggung. Sehingga sesekali ada celetukan yang kadang jorok, lucu, atau bahkan mengharukan. Mengharukan, karena ternyata banyak para preman ini yang tidak dapat membaca Al Qur’an, “baca Al Qur’an! La wong baca Koran aja susah kok” itulah celetukan menyayat hati. Di Negara yang katanya sebagian besar umat Islam ini, ternyata tidak sedikit yang belum bisa membaca Al Qur’an. Tapi tertera dengan jelas di KTPnya (Kartu Tanda Penduduk), ISLAM. “Jadi, sebenarnya yang benar ini yang mana? Islam KTP atau KTPnya yang islam. Kalau Islam KTM sich masih punya identitas keIslamannya, nah kalo KTPnya yang Islam berarti yang Islam itu?.” Gumamku dalam hati.

Hari-hari yang aku lalui dengan para preman, ini sungguh memberikan kesan yang tersendiri. Kesan yang membuatku kagum dengan semangat mereka, semangat yang ingin lepas dari jeratan syetan. Sungguh besar rahmat Allah, disaat banyak orang yang menjauhi agama Islam, tetapi mereka dengan berbondong-bondong belajar agama yang haq ini, Islam. Mereka tidak merasa malu dengan keIslamannya, bahkan hari demi hari mereka menjadi bangga dengan apa yang mereka peroleh.

Sejak saat itu aku sering main kerumah bang Jamal, tak jarang pun bang Jamal main-main ketempat kosku. Beberapa temen-temen aktifis dakwah sempet kaget, dengan jalinan pertemananku dengan bang Jamal. Sampai-sampai Deni, dengan ceplas-ceplosnya mengatakan
“Akh, Khalid! Antum punya banyak binaan preman, kok gak disuruh untuk lebih meningkatkan keimanannya! Sehingga dandanan para preman itu menjadi lebih sopan lagi.”

“Sebenarnya, gini akh! Seseorang diberikan peringatan tidak harus langsung, kita harus mengetahui kadar keimanan dari seseorang yang akan kita peringatkan. Ana takut, kalau ana memberikan peringatan yang keras kepada mereka, akhirnya menjadi lari denagn dakwah kita. Cukup tunjukkan perilaku kita saja, biar mereka meniru apa yang kita perbuat, dan tidak usah banyak berkata-kata! Karena sesungguhnya, Islam adalah agama prilaku! Maka berikan contoh, karena sesungguhnya contoh itu yang mudah untuk ditiru.” Memang ucapan Deni benar, tetapi suatu hal yang mendasar, yang di ajarkan Rasulullah kepada umatnya adalah rasa kasih dan sayang serta memberikan peringatan dengan lemah lembut. Juga memberikan amanah kepada seseorang, dengan sesuai tingkatan keimanannya. Tidaklah seorang yang bijak, jika menyeruhkan kebenaran tetapi dia sendiri tidak melakukan. Tidaklah kebenaran itu akan terwujud, jika kebenaran itu hanya berada pada ucapan-ucapan semata. Tidaklah ucapan-ucapan kebenaran akan terwujud, jika perilaku si pengucap menyimpang dari perkataan kebenarannya. Orang bijaklah, yang menyerukan tentang kebenaran, dan dia mengetahui kebenarannya serta mengetahui kadar iman dari seorang yang akan diserunya.

Hari demi hari, pertemanan kami sangat dekat. Bang Jamal, sudah aku anggap sebagai kakakku sendiri. Sehingga rasa kekeluargaan kami terasa begitu kental. Istri bang Jamal, mbak Surtini juga sudah mengikuti kajian ibu-ibu yang diadakan oleh teman-teman akhwat kampusku. Apalagi Joko, putra bang Jamal ini lebih senang dating ke kajian daripada pergi ke sekolah “sekolah itu bosenin, Ustad! Masa kerjanya Cuma belajar melulu, ngga ada mainannya.” Itulah kata Joko saat aku Tanya. Tapi memang, Joko menjadi anak yang lebih cepat menangkap pelajaran agama daripada pelajaran-pelajaran yang lainnya. “saya kan pengen kaya’ ustad Khalid!” akunya polos. Saat Joko mengatakan itu dengan polos, badan ini menjadi benar-benar bergetar. Beribu Tanya dihatiku ápakah aku layak dijadikan contoh, bagi Joko?” sering juga bang Jamal mengatakan padaku, “Khalid, Joko benar-benar kagum dengan kamu! Sering aku Tanya tentang cita-citanya, dia selalu berkata. “aku pengen jadi ustad. Kayak, ustad Khalid!” aku mohon jangan sampai kamu kecewakan Joko!” Sungguh ucapan bang Jamal menjadi cambuk bagiku. Cambuk yang selalu mengingatkan aku, untuk selalu mendekatkan diri pada Allah Azza wa jalla.

Beberapa kali saat aku mengisi kajian di tempat anak-anak yang kurang beruntung. Selalu ada semangat baru bagiku, untuk dapat meningkatkan kualitas mereka. Terutama kualitas dari pengetahuan agama mereka. Mungkin seperti itulah Allah, memberikan kenikmatan berdakwah padaku.

Saat aku sedang mengisi kajian, aku didatangi oleh orang-orang yang tidak dikenal. Sesekali mereka menanyakan tentang data-data daerah kumuh ini pada salah satu RT . Setelah mereka mendapatkan data-datanya, mereka langsung pergi. Dan setelah itu tak lama muncul sebuah kegiatan kemanusiaan, berupa pembagian sembako dan alat-alat masak gratis. Dan anehnya kegiatan itu sangat mengetahui seluk beluk dari daerah kumuh ini. Sehingga mereka dengan leluasa membagikan sembakonya kepada penduduk. Entah dermawan mana yang membagikan sembako itu, yang aku harapkan tidak ada maksud lain selain kegiatan kemanusiaannya.

Pertama-tama kegiatan sembako itu bersifat biasa-biasa saja, tetapi lama kelamaan sembako menjadi kegiatan kajian rutin. Entah siapa yang mengusulkan kajian itu, tak pelak kajian keIslaman yang aku dan teman-teman adakan, menjadi sedikit peminatnya. Apalagi kajian ibu-ibu yang diadakan oleh para akhwat kampus.

Saat aku sedang mengadakan kajian para preman, aku mencoba untuk mengorek beberapa keterangan tentang para dermawan-dermawan yang membagikan sembako. Dengan mengorek keterangan dari para preman, aku bisa leluasa mendapatkan banyak keterangan yang sangat berharga.

“Bang Jamal, tahu nggak kajian yang dilaksanakan setiap jum’at malam itu?” tanyaku.

“Iya saya tahu, Khalid!” jawab bang Jamal saat itu.

“Saya Cuma ingin tahu, berapa banyak orang-orang yang dating kesana?” tanyaku.

“Sangat banyak yang dating kesana, Khalid! Bahkan beberapa dari kita pun pindah ke kajian mereka” ucap bang Jamal.

“Benar, banyak sekali warga kita yang ikut kajian mereka! Kabarnya sich, orang-orang yang ikut kajian mereka itu dikasih uang saku plus oleh-oleh kalu pulang” ujar Dadang preman gondrong anak buah bang Jamal.

“Loh, lalu kenapa bang Dadang nggak ikut kajian mereka?” tanyaku dengan heran.

“Saya kok, merasa ada yang ganjil yach di kajian itu!” kata bang Jamal.

“Benar Bos!” ucap bang Dadang. Selanjutnya dia mengatakan “saya pernah melihat mereka yang wanitanya memakai jilbab. Seperti teman-teman mas Khalid yang pake jilbab besar-besar itu! Tetapi saat saya melihat terus, ternyata saat masuk kedalam mobil, mereka melepas jilbabnya. Dan disitu ada tiga wanita, empat laki-laki. Mereka terlihat tertawa lepas, para wanita itu dipeluk oleh laki-lakinya! Saat itu sebenarnya saya mau hajar mereka karena bertingkah tidak baik dan saya kira itu juga melecehkan ajaran Islam. Tapi saya urungkan, karena waktu itu saya sendirian. Takut juga kalau dikeroyok mereka!”

“Dasar penakut kamu! Siapa yang ajari kamu jadi pengecut bagitu” bentak bang Jamal, “kenapa kalau takut nggak bilang! Bisa aku hajar mereka. Aku nggak pernah ajari kamu sebagai pengecut kan?” bang Jamal terlihat sangat emosi, melihat perilaku bang Dadang yang menurutnya pengecut.

“Sabar bang, sabar!” ucapku sambil memegangi tangan bang Jamal. “sebenarnya bang Dadang nggak salah bang, Islam mengajarkan kita untuk berani menindak kedzaliman. Tetapi Islam juga mengajak kita untuk bisa membuat strategi. Kalaulah bang Dadang saat itu melawan mereka, dan setelah itu bang Dadang dihajar oleh mereka atau bahkan dibunuh oleh mereka! Maka saat ini kita tidak akan tahu perbuatan yang dilakukan oleh mereka. Denagn begini kita akhirnya tahu apa yang dilakukan oleh mereka. Tetapi seandainya jika bang Dadang melawan mereka, meskipun bang Dadang kalah atau bahkan mati. Maka bang Dadang akan menfapatkan pahala, dan kematian bang Dadang adalah syahid. Surga adalah balasan bagi orang-orang yang syahid. Untuk saat ini sebaiknya kita pantau kelakuan mereka, para pembagi sembako itu!” ucapku tegas.

Semua yang hadir saat itu terlihat setuju sambil menganggukkan kepalanya. Sejak saat itu, aku dan teman-teman lebih intensif memusatkan perhatianku pada gerak-gerik para dermawan itu. Dan bang Jamal, sebagai spionaseku untuk mengorek semua kegiatan yang dilakukan oleh mereka.

“Ada maksud apa dibalik semua ini?” itulah sebuah pertanyaan besar, bagi kami para aktivis dakwah ini. Dan pada saat itu, muncul ideku untuk ikut kajian para pembagi sembako itu.

***

Saat itu jum’at malam, pengajian diadakan ditempat rumah Bapak RT. Banyak sekali yang dating menghadiri. Saat aku masuk ketempat pengajian, para penyambut tamu sudah bersiap memberikan makanan. Makanan-makanan yang memang lezat-lezat itu mengundang sekali untuk disikat. “hem, bagaimana tidak senang! Yang hadir saja dikasih makanan lezat kayak gini” gumamku sendirian.

Saat itu Samsul yang aku ajak untuk menghadiri kajian tersenyum, lalu mengatakan “Wah, Akh. Dakwah kita memang kalah canggih yach!”

Saat aku melihat sekeliling, terlihat memang tidak ada yang perlu dicurigai. Hanya saja, memang terlihat beda sekali dengan system kajianku. Terlihat beda karena aku bisa melihat para wanita yang juga ikut dalam kajian jum’at itu. Mereka mungkin lupa untuk menggunakan hijab (batasan/penutup) antara wanita dan pria.

Saat aku melihat sekitar, mataku melihat sosok seorang gadis berjilbab lebar yang sedang membagikan makanan kecil kepada para wanita. “Siapa dia? Kayaknya aku mengenal dia! Hem, dimana yach?” pikirku. Memang aku merasa mengenal wajahnya.

Seorang ustad memakai sorban, naik ke mimbar yang sudah disediakan. Terlihat memang meyakinkan sekali orang itu. “oh namanya, kyai Badrul!” gumamku saat kyai itu mengenalkan namanya diawal pembukaan, baru kali ini aku mengenal kyai Badrul. Beberapa saat setelah lama ustad itu berceramah, dia langsung berkata “Sesungguhnya agama Islam itu agama yang pasrah! Jadi sesungguhnya, orang-orang yang pasrah adalah orang-orang yang beragama Islam. Meskipun dia tidak beragama Islam, kalau dia pasrah kepada Tuhannya, maka dia orang Islam” kata kyai Badrul yang saat itu sedang berceramah didepan mimbar.

Sontak saja aku dan Samsul yang mengikuti kajian itu, saling berpandangan. Wajah Samsul terlihat geram “Akh, ini nggak bisa dibiarin! Ini namanya pendangkalan akhidah!” ucapnya lirih.

“Tenang, Akh. Jangan gegabah, kita lihat dulu maksud dari kyai yang baru kita kenal ini” jawabku lirih pula.

“Sesungguhnya, Islam itu adalah rahmat bagi seluruh alam! Jadi, untuk bisa menjadi agama yang rahmat, orang Islam haruslah saling menghormati, ucapkanlah selamat jika ada agama lain yang sedang merayakan perayaan! Karena islam agama rahmat, ucapan selamat itu adalah ucapan rahmat!” kata kyai Badrul saat masih berada diatas mimbar.

Sontak pun aku dan Samsul saling memandang “Akh, ini memang nggak bisa dibiarkan! Ini sudah pendangkalan akhidah” ucap Samsul padaku.

“Iya benar, ini memang sudah pendangkalan akhidah umat Islam! Entah kyai mbeling dari mana dia, dengan seenaknya ngomong kejamaah umat Islam seperti itu!” ucapku lirih.

“Akh, setelah ini kita harus gerak cepat! Sebelum banyak orang yang akan didangkalkan akhidahnya” pintaku ke Samsul.

“Iya, kita harus gerak cepat!” jawab samsul pasti.

Saat kyai Badrul selesai berceramah, dating beberapa bingkisan makanan. Bingkisan makanan itu dibagikan untuk oleh-oleh para jamaah yang hadir disitu. Saat pembagian sembako itulah aku melihat, sosok cantik yang berjilbab lebar itu lagi. Aku benar-benar menatapnya, sambil mengingat-ingat dimana aku pernah berjumpa dia.

Aku kaget saat Samsul menyikutku pelan, sambil berkata “Akh, antum jangan lihat akhwat terus! Ingat, pandangan pertama itu dari Allah tetapi selanjutnya dari syetan! Tapi akh, memang tuh akhwat cantik juga yach!”

“Anu nggak melihat akhwatnya! Ana Cuma melihat wajahnya” ujarku.

“Hem, dibilang ngeliat akhwat nggak mau! Tapi malah bilang, melihat wajahnya akhwat. Ini malah lebih parah, Akh!” ujar Samsul sambil tersenyum.

“Yee, akh. Antum seharusnya dengerin ana dulu, jangan langsung potong pembicaraan ana. Ingat Rasulullah itu pantang memotong pembicaraan orang!” ucapku kecut.

“hehe, begitu aja marah! Ana kan Cuma bercanda, Akh!” ucap Samsul sambil cengengesan.

“Akh, sebenarnya ana merasa pernah bertemu dengan tuh akhwat! Tapi ana lupa dimana?” ucapku dengan mengingat-ingat kembali.

“Hem, coba diingat lagi! Ana juga heran, kenapa ada akhwat yang ikut kyai mbeling kayak gitu, ya akh!” ucap Samsul sembari mengambil makanan yang dibagikan saat awal masuk pengajian.

“Yee, antum ini gimana! Masa benci kyainya, tapi memakan pemberian kyai Badrul” kataku dengan nada bercanda mengejek.

“Hem, selama makanan ini nggak haram, kan boleh dimakan! Ingat Akh, ambil kuenya jangan ambil akhidahnya” jawab samsul sambil mengunyah kue lalu tersenyum.

Aku tersenyum sambil mengatakan “Dasar, mahasiswa kontrakan!”

Saat aku melihat kearah wanita itu, wanita berjilbab itu menatapku sambil terlihat menajamkan matanya kearahku. Tak lama setelah beradu pandang denganku, wanita berjilbab itu langsung meninggalkan tempat dengan tergesa-gesa. “Akh, ana rasa akhwat itu mengenal ana! Antum tadi lihat nggak ekspresi wajahnya, saat ana beradu pandang dengan akhwat itu! Dia terlihat terkejut, dan dia langsung meninggalkan tempat pembagian oleh-oleh untuk para jamaah! Akhwat itu terlihat sangat terburu-buru sekali” ucapku serius.

“Iya akh, tuh akhwat gimana nggak lari! Lah antum, ngelihatin akhwat kayak mau gebukin maling. Terang aja dia lari!” setelah itu Samsul terlihat serius sambil mengucapkan “Atau mungkin dia terpesona kali akh, sama antum. Biasalah, siapa yang nggak terpesona dengan antum. Pangeran tampan dari negeri kodok” ucap Samsul dengan masih mengunyah kue yang hampir habis, sambil cekikikan sendiri.

“Hem, nih Ikhwan! Becanda mulu’, apa nggak ingat kalau sering tertawa itu bisa mematikan hati!” jawabku jengkel.

Sambil cengengesan Samsul mengatakan “Afwan akh, afwan!”

Saat kami semua sudah mendapatkan bingkisan masing-masing, dan bergegas pulang. Dan pada saat kami akan pulang, aku menyempatkan memeriksa bingkisan yang sedang berada digenggamanku. Dan ternyata “masya Allah, berisi uang seratus ribuan” gumamku dalam hati.

Nantikan kelanjutannya sesaat lagi di (BAG. 2 )